Surah ini terdiri dari 73 ayat dan termasuk kelompok surah Madaniyah, yang diturunkan sesudah surat Ali Imran.

Beberapa Hukum Keluarga

Allah SWT membuka penjelasan mengenai beberapa hukum terkait keluarga dengan meminta kepada Rasulullah SAW agar bertakwa kepada Allah, fokus menaati perintah dan laranganNya, serta tidak terpengaruhi oleh berbagai komentar dari orang-orang Kafir dan Munafik (1-2). Perintah Allah ini berkenaan dengan perasaan sungkan Nabi SAW dalam melaksanakan hukum Allah SWT, terutama karena menyangkut keluarga beliau.

Perintah kepada Nabi SAW agar Bertakwa dan Bertawakkal

Menurut para sahabat dan ulama (seperti Ali ra, Az-Zamakhsyari, Rasyid Ridha, Al-Maragi, Mahmud Syaltut dll), takwa ialah sekuat tenaga meninggalkan dan menjaga diri dari maksiat serta sekuat tenaga melaksanakan ketaatan atas perintah Allah SWT, sebagaimana dikuatkan di dalam ayat dan hadits Nabi SAW berikut:

Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. (At-Tagabun 64:16)

Seseorang tidak mencapai derajat takwa hingga ia meninggalkan apa yang diperbolehkan karena berhati-hati agar tidak terjerumus ke dalam hal yang tidak diperbolehkan. (Riwayat Ibnu Mājah dari 'Atiyyah as-Sa'di)

Di akhir ayat 2, ditegaskan akan sifat Allah SWT, Dzat yang Maha Mengetahui - yang mengisyaratkan bahwa ketakwaan haruslah benar-benar berasal dari dalam lubuk hati; jangan sedikit pun menyembunyikan di dalam hati rasa takwa dan takut kepada selain Allah SWT.

Kemudian Allah SWT juga memerintahkan Nabi SAW untuk bertawakkal, menyerahkan diri kepada ketentuan Allah yang lebih mengetahui kebutuhan hambaNya (3).

Menurut Ibnu Qayyim di dalam Madarijus Salikhin, tawakkal ialah menyerahkan secara bulat sepenuhnya segala urusan kepada pemiliknya dan memasrahkan diri di bawah perwakilannya. Namun demikian, tawakkal kepada Allah SWT harus didahului dengan usaha manusiawi, seperti ungkapan dalam hadits berikut:

Seorang laki-laki berkata, "Wahai Rasulullah, (mana yang benar) aku tambatkan (untaku) dan bertawakkal atau aku lepaskan ikatannya kemudian aku tawakkal." Nabi SAW menjawab, "Ikatlah terlebih dahulu (untamu), kemudian setelah itu bertawakallah." (Riwayat at-Tirmidzi dari Anas bin Mālik)

Perbedaan takwa dan tawakkal dapat dilihat pada hadits berikut:

Barang siapa yang ingin menjadi orang paling mulia, maka hendaklah ia bertakwa kepada Allah; barang siapa ingin menjadi orang paling kuat, maka hendaklah ia bertawakal kepada Allah; barang siapa ingin menjadi orang paling kaya, maka hendaklah ia lebih yakin terhadap apa yang di tangan Allah daripada apa yang ada pada tangannya. (Riwayat Hakim dari Ibnu Abbas)

Secara umum, pada ayat ini Allah SWT berpesan kepada kita untuk mendahulukan takwa dan tawakkal dalam melaksanakan perintahNya, walaupun pada pelaksanaannya terdapat perasaan tidak enak dan sungkan karena mungkin berlawanan atau berbeda dari kebiasaan yang lazim dilakukan oleh lingkungan masyarakat sekitar kita.

Hukum Zihar dan Status Anak Angkat

Zihar merupakan kebiasaan masyarakat Arab Jahiliah, yakni suami melakukan talak terhadap istrinya dengan mengucapkan, "Punggungmu haram bagiku seperti punggung ibuku" atau perkataan lain yang sama maksudnya. Bila Zihar telah diucapkan oleh seorang suami, maka berlaku talak yang menyebabkan sang isteri haram selamanya bagi sang suami, seperti haramnya suami tersebut menikahi ibunya. Namun demikian, istri tidak diperbolehkan meninggalkan suaminya, bercerai atau menikah lagi.

Allah SWT menyebutkan dua fitrah manusia. Disebutkan, setiap manusia tidak dapat terlepas dari kedua fitrah bawaan ini, walaupun tampak mudah diucapkan (4), sebagai berikut:

  1. Figur ibu kandung tidak akan dapat digantikan oleh istrinya. Cinta dan kasih sayang seorang laki-laki kepada ibu kandungnya tidaklah sama dengan rasa cinta kepada istrinya.

    Alasan inilah mengapa Zihar kemudian diharamkan setelah turunnya ayat ini. Melakukan Zihar merupakan bentuk pelanggaran mengharamkan sesuatu yang dihalalkan Allah SWT. Larangan Zihar ini disebutkan pula di ayat berikut:

    Orang-orang yang menzhihar isterinya di antara kamu, (menganggap isterinya sebagai ibunya, padahal) tiadalah isteri mereka itu ibu mereka. Ibu-ibu mereka tidak lain hanyalah wanita yang melahirkan mereka. Dan sesungguhnya mereka sungguh-sungguh mengucapkan suatu perkataan mungkar dan dusta. Dan sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun. (Al-Mujadalah 58:2)

  2. Hubungan orangtua dengan anak kandungnya dibandingkan dengan anak angkat tidaklah akan sama, betapa pun orangtua menyayangi anak angkatnya.

    Terhadap anak angkat ini, Allah SWT memerintahkan memanggil mereka menggunakan nama bapak kandung mereka (5). Diceritakan di dalam hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Umar, anak angkat Nabi SAW, awalnya dipanggil sebagai Zaid bin Muhammad. Setelah turun ayat ini, Zaid dipanggil sebagai Zaid bin Haritsah bin Syaharil (Haritsah bin Syaharil adalah nama bapak kandung Zaid). Hal ini kemudian ditetapkan sebagai larangan keras, sesuai hadits Nabi SAW berikut:

    "Tidak ada seorang pun yang menisbahkan nasabnya kepada selain bapaknya, selain dia mengetahuinya, melainkan dia telah kufur." (HR Imam Ahmad, Bukhari dan Muslim)

Adab Orang Beriman terhadap Nabi SAW dan Istri Nabi SAW

Allah SWT kemudian menjelaskan beberapa adab orang beriman terhadap Nabi SAW dan para istrinya (6):

  1. Perwalian Rasulullah SAW bagi seluruh kaum Muslimin bersifat mutlak, mencakup semua urusan agama dan dunia.

    Katakanlah, "Jika bapak, anak, saudara, isteri, sanak saudaramu, serta harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, serta tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya". Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (At-Taubah 9:24)

    Kami mengiringi Nabi SAW. Beliau menggandeng tangan Umar bin Khattab ra. Umar ra berkata kepada Nabi SAW, "Wahai Rasulullah, sungguh engkau lebih aku cintai daripada segala sesuatu kecuali diriku." Nabi SAW menjawab, "Tidak, wahai Umar. Tidak, demi Dzat yang jiwaku berada dalam genggamanNya, sampai aku lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri." Lalu Umar ra berkata kepada beliau, "Sungguh sekaranglah saatnya, demi Allah, engkau lebih aku cintai daripada apa pun, bahkan melebihi diriku sendiri." Nabi SAW menjawab, "Sekarang, itu baru yang benar wahai Umar." (HR Bukhari no. 6632)

    Di ayat lain, disebutkan juga kewajiban bagi kaum Muslimin untuk ridha dan menaati keputusan Rasulullah SAW walaupun keputusan tersebut berat:

    Maka demi Tuhanmu, mereka (sebenarnya) belum beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (An-Nisa' 4:65)

    Di dalam beberapa hadits digambarkan bagaimana perwalian Nabi SAW atas kaum Muslimin saat itu:

    "Aku lebih utama bagi orang-orang beriman daripada diri mereka sendiri. Maka barangsiapa meninggal dunia dan masih memiliki hutang, maka akulah yang akan membayarkannya. Dan barangsiapa yang meninggal dunia dengan meninggalkan harta kekayaan, maka itu adalah untuk ahli warisnya." (HR Bukhari dan Muslim)

  2. Para istri Nabi SAW harus diperlakukan sebagai ibu dari orang beriman. Menurut para mufassir, ayat ini menjadi dasar hukum diharamkannya menikahi para istri Nabi SAW, termasuk yang telah diceraikan, baik ketika beliau hidup maupun setelah wafat, sebagaimana haramnya menikahi ibu kandung sendiri.

Hubungan Darah di dalam Hukum Waris

Pada ayat yang sama, dijelaskan juga bahwa walaupun Nabi SAW menjadi wali bagi kaum Muslimin, namun beliau tidak berhak mendapatkan warisan dari kaum Muslimin. Orang yang memiliki kekerabatan (hubungan darah) dengan orang yang meninggal adalah lebih berhak atas warisannya daripada mereka yang bukan kerabat, kecuali bila ada wasiat tertentu. Hal ini berlaku mutlak, termasuk atas kaum Muhajirin yang sudah dipersaudarakan oleh Nabi SAW sekalipun (6).

Perjanjian Allah SWT dengan RasulNya

Allah SWT menerangkan bahwa setiap Rasul terikat dengan perjanjian dengan Allah untuk sepenuh hati, jiwa dan raga, mendedikasikan hidupnya untuk mendakwahkan risalah Allah SWT kepada kaumnya (7). Perjanjian ini dijelaskan lebih detail pada ayat berikut:

Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi, "Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya." Allah berfirman, "Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?" Mereka menjawab, "Kami mengakui". Allah berfirman, "Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu" (Ali Imran 3:81)

Perjanjian ini sangat krusial karena kelak para Rasul akan diminta pertanggungjawaban dan kesaksiannya di hari Akhir bahwa mereka sudah menyampaikan risalah Allah kepada umatnya (8). Sampainya risalah Allah inilah yang menjadi dasar dikenakannya perhitungan (hisab) amal baik-buruk serta balasan surga-neraka bagi manusia.

Kesaksian para Rasul atas umatnya di hari Akhir dijelaskan dalam banyak ayat, diantaranya:

Maka pasti akan Kami tanyakan kepada umat yang telah diutus rasul kepada mereka dan pasti Kami akan menanyai (pula) para rasul (Kami) (Al-A'raf 7:6)

(Dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri. (An-Nahl 16:89)

Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya. Dan di hari kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka. (An-Nisa’ 4:159)

Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu). (An-Nisa’ 4:41)

Sedangkan jaminan fairness bahwa Allah SWT akan menghisab amal hanya atas umat yang sudah diutus Rasul kepada mereka diterangkan pada ayat berikut:

Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barangsiapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul. (Al Isra’ 17:15)

(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (An-Nisa' 4:165)

Perjanjian yang Kokoh - mitsaqan ghaliza

Menarik memperhatikan penggunaan kata "mitsaqan ghaliza" - yang memiliki arti perjanjian yang kokoh.

Di dalam Al-Qur'an, kata ini hanya digunakan tiga kali, satu pada ayat 7 ini (perjanjian Rasul kepada Allah SWT), dan dua di dalam ayat lain:

  1. Perjanjian para Rasul kepada Allah SWT
    Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari nabi-nabi dan dari kamu (sendiri) dari Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa putra Maryam, dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang teguh (7)

  2. Perjanjian suami kepada istri di dalam pernikahan
    Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul dengan yang lain sebagai suami-isteri. Dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat. (An-Nisa' 4:21)

  3. Perjanjian Bani Israil kepada Allah SWT
    Dan telah Kami angkat ke atas (kepala) mereka (Bani Israil) bukit Thursina untuk (menerima) perjanjian (yang telah Kami ambil dari) mereka. Dan kami perintahkan kepada mereka, "Masuklah pintu gerbang itu sambil bersujud", dan Kami perintahkan (pula) kepada mereka, "Janganlah kamu melanggar peraturan mengenai hari Sabtu", dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang kokoh. (An-Nisa' 4:154)

Dari ayat-ayat di atas, tergambar betapa serius dan beratnya perjanjian pernikahan suami kepada istri - yang disetarakan kualitas perjanjiannya dengan perjanjian Allah dengan para RasulNya dan Bani Israil.

Perbandingan dengan Hubungan Anak dengan Orangtua

Sebagai perbandingan, jika relasi suami dengan istri diikat oleh perjanjian pernikahan yang disamakan dengan perjanjian Allah dengan hambaNya, maka hubungan anak dengan orangtua berada pada urutan kedua setelah perintah menyembah dan bersyukur kepada Allah SWT, seperti disebutkan pada ayat-ayat berikut:

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya... (Al-Isra' 17:23)

...Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (Luqman 31:14)

Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Referensi tafsir klik di sini.