Ayat 104 menerangkan bahwa sebenarnya sudah ada banyak bukti yang jelas, berupa diutusnya Rasulullah, diturunkannya Al Quran (ayat2 qauliyah), dan juga terbentangnya alam dg segala proses yang terjadi yang dijelaskan di ayat 95-103 sebelumnya (ayat2 kauniyah). Maka diberikan kebebasan kpd manusia apakah akan mengakui itu semua sbg bukti adanya Allah yang Maha Kuasa dan Maha Esa, ataukah tetap buta, mengingkari kebenaran itu semua. Keputusan itu semua adalah tanggung jawab diri masing2 manusia, dan sama sekali bukan tanggung jawab Nabi SAW (105, 107).

Di ayat lain dijelaskan juga,

Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka (An Nisaa 4:80)

Jika mereka berpaling maka Kami tidak mengutus kamu sebagai pengawas bagi mereka. Kewajibanmu tidak lain hanyalah menyampaikan (risalah). Sesungguhnya apabila Kami merasakan kepada manusia sesuatu rahmat dari Kami dia bergembira ria karena rahmat itu. Dan jika mereka ditimpa kesusahan disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri (niscaya mereka ingkar) karena sesungguhnya manusia itu amat ingkar (kepada nikmat). (Asy Syuraa 42:48)

Di ayat 105, Allah menjelaskan maksud dari penjelasan yang beragam dan terperinci mengenai tanda2 kebesaranNya di alam semesta utk memberikan bukti kpd org yang ingkar agar tdk dikatakan Nabi SAW mengutip ayat Al Quran dari kitab2 sebelumnya. Di akhir ayat, ditegaskan kembali, bhw Al Quran akan mudah dipahami dan diterima oleh orang2 yang berpengetahuan, yang merenungi ayat2nya dan fenomena alam beserta proses yang terjadi di dalamnya (ya’lamuun). Pentingnya akal dalam merenungkan ayat2 Allah ini, disebutkan juga di ayat lain:

Dan tidak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya. (Yunus 10:100)

Maka setelah jelas semua ayat2 qauliyah di dalam Al Quran dan ayat2 kauniyah di alam semesta, Allah memerintahkan kita utk mengikuti, taat kpdNya dan tidka mengikuti orang2 yang musyrik (106).

Larangan Menghina Berhala/Sesembahan Non-Muslim

Di ayat 108, Allah melarang kita menghina sesembahan, berhala dan tuhan orang non-Muslim. Termasuk dewa2 di agama Hindu, juga Yesus, roh kudus, dan Uzair yang dipertuhankan oleh Nasrani dan Yahudi. Dikhawatirkan mereka nanti akan membalas menghina Allah SWT. Dikatakan juga, bahwa balas menghina ini didorong insting manusia yang selalu menganggap benar dan baik perbuatan mereka (menyembah tuhan2 selain Allah).

Ingkarnya Kaum Musyrik thd Seruan Iman

Ayat 109 menjelaskan sikap ngotot kaum musyrik dalam menolak seruan iman. Mereka mengatakan, akan beriman kalau sudah melihat mukjizat. Dijawab oleh Nabi SAW, bahwa turunnya mukjizat itu adalah hak prerogatif Allah SWT semata, tdk bisa diatur2 oleh beliau kapan dan bagaimana turunnya.

Allah kemudian menjelaskan, bahwa kalau pun malaikat diutus turun utk hidup bersama kaum musyrik tsb, atau bahkan dihidupkan kembali orang mati semua agar bisa berbicara dg mereka yang semuanya itu dihadapkan ke depan mereka, pasti tidak akan beriman juga, kecuali Allah menghendaki (111).

Allah di sini menggunakan kalimat “kecuali jika Allah menghendaki” atau di ayat lain, “kecuali dg izin Allah”, artinya sesuai dengan ketentuan hukum sunnatullah, yakni perubahan (dlm hal ini, beriman kpd Allah) harus dimulai dari diri sendiri dulu (dlm bentuk keinginan, membuka pikiran dan menjujurkan hati serta mencari tahu jalannya) baru Allah kemudian membimbingnya utk berjalan lebih jauh ke jalanNya (spt dg mempertemukan dg orang yang bisa ditanya, atau tergugah oleh arti ayat2 tertentu, dsb) sebagaimana disebutkan di ayat berikut:

…Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri… (Ar Ra’d 13:11)

Di ayat berikutnya, Allah membesarkan hati Nabi SAW, dengan menerangkan bhw setiap nabi dan rasul pasti memiliki musuh, yang dengan keras menentang tugas kerasulan, yakni syetan yang menggoda golongan jin dan manusia dengan perkataan dan angan2 yang indah (112).

Ayat 113 implisit menerangkan pentingnya beriman kepada hari akhir. Disebutkan, bhw mereka yang mengingkari adanya kehidupan akhirat akan mudah condong kepada bisikan godaan syetan. Sedangkan di ayat sebelumnya, disebutkan mereka yang beriman kpd kehidupan akhirat akan mudah beriman, menerima Al Quran:

Orang-orang yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat tentu beriman kepadanya (Al Quran) dan mereka selalu memelihara sembahyangnya. (Al An’aam 6:92)

Perintah menggunakan Al Quran sebagai Dasar Hukum

Di dalam ayat 114, Allah memerintahkan untuk menggunakan Al Quran sbg hakim, pedoman dalam mengambil keputusan. Juga disebutkan bhw Al Quran berisi keterangan mendetail thd beberapa hal.

Karakter Al Quran lain digambarkan pada bbrp ayat lain:

  • Al Quran berisi cerita fakta utk diambil pelajaran bagi orang yang berakal

Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. (Yusuf 12:111)

  • Al Quran sdh sempurna, lengkap, mengandung seluruh prinsip pokok yang diperlukan manusia

Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al-Quran) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya dan Dia lah yang Maha Mendenyar lagi Maha Mengetahui. (Al An’aam 6:115(

(Dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri. (An Nahl 16:89)

  • Al Quran asli dari Allah, bukan buatan Nabi SAW

dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). (An Najm 53:3-4)

  • Al Quran terjaga sampai sekarang keasliannya

Berkatalah orang-orang yang kafir: “Mengapa Al Quran itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?” Demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartil (teratur dan benar). (Al Furqan 25:32)

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya (Al Hijr 15:9)

  • Al Quran itu bacaannya berat dan penuh mukjizat

Dan sekiranya ada suatu bacaan (kitab suci) yang dengan bacaan itu gunung-gunung dapat digoncangkan atau bumi menjadi terbelah atau oleh karenanya orang-orang yang sudah mati dapat berbicara, (tentulah Al Quran itulah dia). Sebenarnya segala urusan itu adalah kepunyaan Allah…(Ar Ra’d 13:31)

Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir. (Al Hasyr 59:21)

Terakhir, kita diperingatkan kembali utk tdk mengikuti org kafir yang memutuskan hukum tanpa ayat dan keterangan yang jelas dari Allah, hanya berdasarkan dugaan dan akal mereka saja (116), karena Allah lebih mengetahui siapa yang tersesat dan yang mendapat petunjuk (117). Summary ODOP 6:104-117

Ayat 104 menerangkan bahwa sebenarnya sudah ada banyak bukti yang jelas, berupa diutusnya Rasulullah, diturunkannya Al Quran (ayat2 qauliyah), dan juga terbentangnya alam dg segala proses yang terjadi yang dijelaskan di ayat 95-103 sebelumnya (ayat2 kauniyah). Maka diberikan kebebasan kpd manusia apakah akan mengakui itu semua sbg bukti adanya Allah yang Maha Kuasa dan Maha Esa, ataukah tetap buta, mengingkari kebenaran itu semua. Keputusan itu semua adalah tanggung jawab diri masing2 manusia, dan sama sekali bukan tanggung jawab Nabi SAW (105, 107).

Di ayat lain dijelaskan juga,

Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka (An Nisaa 4:80)

Jika mereka berpaling maka Kami tidak mengutus kamu sebagai pengawas bagi mereka. Kewajibanmu tidak lain hanyalah menyampaikan (risalah). Sesungguhnya apabila Kami merasakan kepada manusia sesuatu rahmat dari Kami dia bergembira ria karena rahmat itu. Dan jika mereka ditimpa kesusahan disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri (niscaya mereka ingkar) karena sesungguhnya manusia itu amat ingkar (kepada nikmat). (Asy Syuraa 42:48)

Di ayat 105, Allah menjelaskan maksud dari penjelasan yang beragam dan terperinci mengenai tanda2 kebesaranNya di alam semesta utk memberikan bukti kpd org yang ingkar agar tdk dikatakan Nabi SAW mengutip ayat Al Quran dari kitab2 sebelumnya. Di akhir ayat, ditegaskan kembali, bhw Al Quran akan mudah dipahami dan diterima oleh orang2 yang berpengetahuan, yang merenungi ayat2nya dan fenomena alam beserta proses yang terjadi di dalamnya (ya’lamuun). Pentingnya akal dalam merenungkan ayat2 Allah ini, disebutkan juga di ayat lain:

Dan tidak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya. (Yunus 10:100)

Maka setelah jelas semua ayat2 qauliyah di dalam Al Quran dan ayat2 kauniyah di alam semesta, Allah memerintahkan kita utk mengikuti, taat kpdNya dan tidka mengikuti orang2 yang musyrik (106).

Larangan Menghina Berhala/Sesembahan Non-Muslim

Di ayat 108, Allah melarang kita menghina sesembahan, berhala dan tuhan orang non-Muslim. Termasuk dewa2 spt di agama Hindu, juga Yesus, roh kudus, dan Uzair yang dipertuhankan oleh Nasrani dan Yahudi. Dikhawatirkan mereka nanti akan membalas menghina Allah SWT. Dikatakan juga, bahwa balas menghina ini didorong insting manusia yang selalu menganggap benar dan baik perbuatan mereka (menyembah tuhan2 selain Allah).

Ingkarnya Kaum Musyrik thd Seruan Iman

Ayat 109 menjelaskan sikap ngotot kaum musyrik dalam menolak seruan iman. Mereka mengatakan, akan beriman kalau sudah melihat mukjizat. Dijawab oleh Nabi SAW, bahwa turunnya mukjizat itu adalah hak prerogatif Allah SWT semata, tdk bisa diatur2 oleh beliau kapan dan bagaimana turunnya.

Allah kemudian menjelaskan, bahwa kalau pun malaikat diutus turun utk hidup bersama kaum musyrik tsb, atau bahkan dihidupkan kembali orang mati semua agar bisa berbicara dg mereka yang semuanya itu dihadapkan ke depan mereka, pasti tidak akan beriman juga, kecuali Allah menghendaki (111).

Allah di sini menggunakan kalimat “kecuali jika Allah menghendaki” atau di ayat lain, “kecuali dg izin Allah”, artinya sesuai dengan ketentuan hukum sunnatullah, yakni perubahan (dlm hal ini, beriman kpd Allah) harus dimulai dari diri sendiri dulu (dlm bentuk keinginan, membuka pikiran dan menjujurkan hati serta mencari tahu jalannya) baru Allah kemudian membimbingnya utk berjalan lebih jauh ke jalanNya (spt dg mempertemukan dg orang yang bisa ditanya, atau tergugah oleh arti ayat2 tertentu, dsb) sebagaimana disebutkan di ayat berikut:

…Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri… (Ar Ra’d 13:11)

Di ayat berikutnya, Allah membesarkan hati Nabi SAW, dengan menerangkan bhw setiap nabi dan rasul pasti memiliki musuh, yang dengan keras menentang tugas kerasulan, yakni syetan yang menggoda golongan jin dan manusia dengan perkataan dan angan2 yang indah (112).

Ayat 113 implisit menerangkan pentingnya beriman kepada hari akhir. Disebutkan, bhw mereka yang mengingkari adanya kehidupan akhirat akan mudah condong kepada bisikan godaan syetan. Sedangkan di ayat sebelumnya, disebutkan mereka yang beriman kpd kehidupan akhirat akan mudah beriman, menerima Al Quran:

Orang-orang yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat tentu beriman kepadanya (Al Quran) dan mereka selalu memelihara sembahyangnya. (Al An’aam 6:92)

Perintah menggunakan Al Quran sebagai Dasar Hukum

Di dalam ayat 114, Allah memerintahkan untuk menggunakan Al Quran sbg hakim, pedoman dalam mengambil keputusan. Juga disebutkan bhw Al Quran berisi keterangan mendetail thd beberapa hal.

Karakter Al Quran lain sbg kitab yg reliable utk menjadi dasar hukum dan pengambilan keputusan diterangkan pada bbrp ayat berikut:

  • Al Quran berisi cerita fakta utk diambil pelajaran bagi orang yang berakal

_Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. _ (Yusuf 12:111)

  • Al Quran sdh sempurna, lengkap, mengandung seluruh prinsip pokok yang diperlukan manusia

Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al-Quran) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya dan Dia lah yang Maha Mendenyar lagi Maha Mengetahui. (Al An’aam 6:115(

(Dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri. (An Nahl 16:89)

  • Al Quran asli berasal dari Allah, tdk tercampur oleh kata2 Nabi SAW

dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). (An Najm 53:3-4)

  • Al Quran terjaga sampai sekarang keasliannya

Berkatalah orang-orang yang kafir: “Mengapa Al Quran itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?” Demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartil (teratur dan benar). (Al Furqan 25:32)

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya (Al Hijr 15:9)

  • Ayat2 di dalam Al Quran bacaannya berat dan penuh mukjizat

Dan sekiranya ada suatu bacaan (kitab suci) yang dengan bacaan itu gunung-gunung dapat digoncangkan atau bumi menjadi terbelah atau oleh karenanya orang-orang yang sudah mati dapat berbicara, (tentulah Al Quran itulah dia). Sebenarnya segala urusan itu adalah kepunyaan Allah…(Ar Ra’d 13:31)

Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir. (Al Hasyr 59:21)

Terakhir, kita diperingatkan kembali utk tdk mengikuti org kafir yang memutuskan hukum tanpa ayat dan keterangan yang jelas dari Allah. Mereka ini disebutkan hanya mengandalkan kira2 dan logika mereka saja (116). Disebutkan pula di ayat berikutnya, bhw Allah lah yg lebih tahu mana org yang tersesat (krn tdk mau beriman kpd Al Quran) dan yang mendapat petunjuk (117).

Maha Benar Allah dg segala firmanNya.

Wallahu a’lam