Haramnya Hewan Sembelihan

Allah memerintahkan menyembelih hewan yang boleh dimakan dg menyebut nama Allah, dan mengharamkan hewan yang disembelih dengan tdk menyebut nama Allah (walaupun hewan tsb asalnya adalah boleh dimakan) (118, 121).

Allah kemudian melarang kita untuk mengharamkan hewan yang sudah dihalalkan Allah (boleh dimakan dan sdh disembelih dengan menyebut nama Allah) (119). Selanjutnya dijelaskan bhw ketakwaan bukanlah terletak pada pengharaman sesuatu yg telah dihalalkan (spt mengharamkan hewan yang halal ini). Ketakwaan yang sebenarnya terletak pada sikap meninggalkan dosa, baik yang dilakukan secara terang2an maupun yang dilakukan secara sembunyi2. Kita diperintahkan utk meninggalkan perbuatan2 dosa tsb krn semua perbuatan akan mendapat balasannya di akhirat (120).

Perumpamaan Orang yang Mendapat Petunjuk

Allah menggambarkan kontras antara org yang sudah mati kemudian dihidupkan dan diberikan cahaya terang yang dapat menerangi jalannya shg dengan cahaya tsb dia dapat berjalan di tengah manusia versus orang yang dibiarkan dlm ruangan gelap gulita. Orang pertama, menggambarkan org yang sebelumnya sesat (sudah mati), lalu hatinya diberi cahaya petunjuk (dihidupkan kembali), kemudian diberikan cahaya keimanan yang menjadi panduan hidupnya (cahaya yang menerangi jalannya). Sedangkan orang kedua, adalah orang yang kafir, hidup dalam kegelapan yang bertumpuk (122).

Di ayat lain, Allah pun memberikan perbandingan serupa sbb:

Maka apakah orang yang berjalan terjungkal di atas mukanya itu lebih banyak mendapatkan petunjuk ataukah orang yang berjalan tegap di atas jalan yang lurus? (Al Mulk 67:22)

Perbandingan kedua golongan itu (orang-orang kafir dan orang-orang mukmin), seperti orang buta dan tuli dengan orang yang dapat melihat dan dapat mendengar. Adakah kedua golongan itu sama keadaan dan sifatnya? Maka tidakkah kamu mengambil pelajaran (daripada perbandingan itu)? (Huud 11:24)

Di akhir ayat 122, dijelaskan bhw mereka yang berada dlm kegelapan ini memandang indah perbuatannya, sbgmn juga disebutkan di ayat lain:

Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada negeri akhirat, Kami jadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka, maka mereka bergelimang (dalam kesesatan). (An Naml 27:4)

Sikap Pembesar Mekkah thd Seruan Iman

Allah menerangkan akan ketetapan aturanNya (sunnatullah), bhw setiap negeri akan ada penjahat kakap dari kalangan atas yang justru mereka membuat kerusakan di negeri tsb. Dicontohkan, para pembesar Mekkah yang mengadakan makar, tipu daya dan propaganda kebatilan untuk menghalangi penduduk Mekkah dari menerima Islam. Juga sudah menjadi ketetapan Allah bhw umumnya pengikut para Nabi itu dari kalangan bawah, sedangan penentang terbesar dakwah mereka adalah dari pembesar kalangan atas (123), spt yang terjadi dg Musa as, Ibrahim as dan Isa as.

Selanjutnya dijelaskan pula, bahkan para pembesar ini merasa lebih berhak diangkat sbg rasul (124). Diceritakan ayat ini turun ketika Walid bin Mughirah – salah satu pembesar Mekkah – berkata, “Kalau saja kenabian itu benar, aku (tentunya) lebih berhak mendapatkannya daripada Muhammad karena aku lebih tua dan lebih banyak harta dan anak.” Allah kemudian menurunkan ayat ini dan juga menegaskan bhw Allah lebih mengetahui siapa di antara hambaNya yang pantas menerima tugas kerasulan.

Perilaku ini juga disebutkan di ayat lain sbb:

*Dan mereka berkata: **“Mengapa Al Quran ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri (Mekah dan Thaif) ini? *Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan. (Az Zukhruf 43:31-32)

Orang yang Siap Menerima Kebenaran

Kemudian Allah menjelaskan bagaimana kondisi kejiwaan orang yang siap menerima hidayah Allah, yakni dimulai dari sikap melapangkan dada, membuka pikiran, dan meluruskan hati shg kemudian Allah menurunkan cahaya yang menerangi yang membimbing dia untuk mendalami lebih jauh hidayah petunjuk yang diterimanya hingga tumbuhlah ketaatan atas segala perintah dan larangan Allah SWT.

Ayat 125 ini satu tema dengan ayat berikut:

Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata. (Az Zumar 39:22)

Di dalam satu hadits diceritakan sbb:

Nabi SAW ditanya mengenai ayat “Barangsiapa dikehendaki Allah akan mendapat hidayah (petunjuk), Dia akan membukakan dadanya untuk menerima Islam”.

“Bagaimana Allah melapangkan dada seorang hamba wahai Rasulullah?”

Beliau bersabda, “Cahaya diletakkan ke dalam diri seseorang shg ia menjadi lapang dan luas.”

Para sahabat bertanya, “Apakah ada tanda-tandanya?”

Rasulullah bersabda, “Kembali ingat pada akhirat, menjauh dari kehidupan, menyiapkan diri untuk kematian sebelum kematian tiba.” (HR Abdur Razzaq)

Di akhir ayat 125 kemudian disebutkan, mereka yang menolak kebenaran, maka akan merasa dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah dia sedang mendaki langit. Kalimat seolah-olah dia sedang mendaki langit ini menurut Caner Taslaman dlm bukunya “Miracle of The Quran” adalah salah satu mukjizat Al Quran yg menjelaskan efek gravitasi pada org yang sedang terbang naik ke langit yang belum dikenal saat Nabi SAW hidup.

Selanjutnya Allah menjelaskan bhw sebenarnya sudah sangat jelas jalan yang lurus di depan kita, selama kita mau merenungkan ayat-ayatNya, ayat kauniyah dan ayat qauliyah (126), serta balasan surga bagi mereka yang mengikuti jalan hidayah Allah (127).

Dialog Allah dengan Manusia dan Jin di Hari Akhir

Ayat 128 dst menceritakan dialog Allah di Padang Mahsyar dengan manusia dan jin yang saling membantu dlm kesesatan dan berteman satu sama lain (129). Keduanya mengakui bahwa mereka mengingkari rasul yang diutus kpd mereka (130). Ayat 131 menjelaskan bhw Allah tdk akan menghukum suatu kaum sebelum Dia mengutus rasul kpd kaum tsb. Hal ini ditegaskan di bbrp ayat lain:

Sesungguhnya Kami mengutus kamu dengan membawa kebenaran sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. Dan tidak ada suatu umatpun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan. (Faathir 35:24)

…dan Kami tidak akan meng’azab sebelum Kami mengutus seorang rasul. (Al Israa’ 17:15)

Kemudian di ayat 132 dijelaskan bhw setiap manusia (dan jin) memperoleh balasan yang adil atas amalnya, dan Allah Maha Mengetahui segala yang dikerjakan oleh mereka.

Maha Benar Allah dg segala firmanNya.

Wallahu a’lam.

Tambahan terkait hadits riwayat Abdur Razzaq di atas. Sebenarnya ada 2 hadits yg mirip, yg disalin hanya yg pendeknya aja, krn isinya sama. Maksud dari “menjauh dari kehidupan”, adalah mereka tdk ngoyo mencari dunia, dan fokus ke bgmn mempersiapkan bekal akhirat (yg unlimited waktunya) dg waktu/usia yang terbatas.

Ini align dg ayat Quran berikut, yg memerintahkan kita utk fokus kpd akhirat dg tdk melupakan dunia (bukan kebalikannya):

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (Al Qashash 28:77)

Kita dapat menerjemahkannya spt kalau kita memilih portofolio investasi, dg memilih amal dan pekerjaan yg memiliki ROI yg paling tinggi. Spt:

  • Amal sosial. Pekerjaan yg sifatnya membantu org lain, membuka pekerjaan bagi org lain, menyelamatkan anak2 mereka, mendekatkan mereka kpd hidayah, dll
  • Amal utama, spt menjaga sholat, sunnah sebelum subuh, baca Al Kahfi setiap Jumat dll
  • Amal “passive income forever”. Pekerjaan yg terkait dg amal yg tdk ada putusnya:
  1. Mendidik anak yg soleh
  2. Sharing ilmu yg bermanfaat
  3. Sedekah jariah

Amal high-return lainnya adalah dlm sikap kita menghindari dosa2 besar, termasuk riba dan memutuskan silaturahmi (termasuk yg berbahaya sekali di medsos).

Wallahu a’lam.