Allah Maha Kaya dan Tidak Membutuhkan Apapun dari HambaNya

Ayat 133 menegaskan sifat Allah yang Maha Kaya, yang tdk membutuhkan keimanan hambaNya, tdk juga butuh hambaNya menaati risalahNya. Bagi Allah mudah saja menggantikan satu umat dengan umat yang lain. Dan ancaman siksa Allah pasti datang dan tdk ada cara apa pun yang dapat menolaknya (134).

Tema yang sama disebutkan juga di bbrp ayat lain sbb:

Hai manusia, kamulah yang memerlukan Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak membutuhkan sesuatu) lagi Maha Terpuji.
Jika Dia menghendaki, niscaya Dia memusnahkan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru (untuk menggantikan kamu).
Dan yang demikian itu sekali-kali tidak sulit bagi Allah. (Faathir 35:15-17)

Jika Allah menghendaki, niscaya Dia musnahkan kamu wahai manusia, dan Dia datangkan umat yang lain (sebagai penggantimu). Dan adalah Allah Maha Kuasa berbuat demikian. (An Nisaa 4:133)

Di ayat lain bahkan diceritakan bgmn Allah telah memusnahkan umat2 terdahulu krn kezhaliman mereka dan menggantinya dengan umat lain.

Dan sesungguhnya Kami telah membinasakan umat-umat sebelum kamu, ketika mereka berbuat kezaliman, padahal rasul-rasul mereka telah datang kepada mereka dengan membawa keterangan-keterangan yang nyata, tetapi mereka sekali-kali tidak hendak beriman. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat dosa.
Kemudian Kami jadikan kamu pengganti-pengganti (mereka) di muka bumi sesudah mereka, supaya Kami memperhatikan bagaimana kamu berbuat. (Yunus 10:13-14)

Bagi mereka yang tetap memilih ingkar thd risalah Allah, maka dipersilahkan beramal sesuai dg keyakinannya, demikian juga kita beramal sesuai keimanan kita kpd Allah, sbgmana disebutkan juga di ayat lain:

Dan katakanlah kepada orang-orang yang tidak beriman, “Berbuatlah menurut kemampuanmu; sesungguhnya kami pun berbuat (pula). Dan tunggulah (akibat perbuatanmu); sesungguhnya kami pun menunggu (pula).” (Huud 11:121-122)

Di akhir ayat 135, ditegaskan biarlah nanti Allah yang menentukan siapa yang beruntung mendapat imbalan pahala atas amal2nya. Beruntungnya di sini dijelaskan di ayat2 lain bhw hanya amal orang yang beriman sajalah yang diperhitungkan di hari akhir, sedangkan amal orang yg tdk beriman (sebanyak apa pun) diibaratkan spt fatamorgana, akan sia-sia, hangus, beterbangan spt debu di akhirat (lihat pembahasan ODOP 3:116-132).

Tradisi Kaum Jahiliah yang Dianggap sbg Perintah Allah

Ayat 136 dst menjelaskan bbrp contoh kebiasaan kaum Jahiliah Mekkah yang menetapkan hukum halal-haram berdasarkan dugaan mereka dan menyatakan bhw itu adalah perintah Allah. Sbg informasi, kaum Musyrik Mekkah saat itu mengakui adanya Allah sbg Tuhan, ttp juga mengakui bhw berhala2 lain pun sebagai Tuhan yang mendampingi Allah. Kebiasaan2 yang mereka nisbatkan seakan2 sbg perintah Allah adalah sbb:

  1. Kurban dalam bentuk hasil pertanian dan hewan yang menurut mereka bisa di-share, sebagian untuk Allah, dan sebagian lainnya untuk berhala2 yang lain. Dikatakan, bhw kurban mereka tsb akan tertolak (136)
  2. Membunuh anak2 dg cara menguburkannya hidup2, serta menganggap baik orangtua yang melaksanakannya (137). Mereka ini dikatakan merugi dan sesat krn mengharamkan karunia Allah kpd mereka (140). Tradisi ini diharamkan oleh Allah sbgmana disebut di dalam ayat berikut:

Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rizki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar. (Al Israa’ 17:31)

dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh (At Takwiir 81:8-9)
3. Haramnya bbrp tanaman dan hewan ternak tertentu yang sebenarnya tdk pernah dilarang melalui ayat2 Allah (138, 139). Mengulang sedikit bahasan ayat 5:103, dalam tradisi Jahiliah dikenal 4 jenis hewan yang diharamkan (walaupun tanpa dasar ayat):

  • bahiirah : unta yg sengaja dilubangi telinganya jika melahirkan 5 anak dg anak terakhirnya betina.
  • saaibah : unta yg dilepaskan krn nazar pemiliknya utk berhala, diberikan kpd penjaga ka’bah, dibiarkan cari makan sesukanya, tdk ditunggangi, tdk disembelih dan tdk diperah susunya.
  • washiilah : kambing atau unta perempuan yang lahir kembar. Kalau jantan diberikan kpd berhala.
  • haam : unta jantan yg sdh menghamili 10 betina. Unta tsb tdk boleh ditunggangi dan dihalangi utk cari air dan makanan
  1. Dihalalkannya hewan yang disembelih tanpa menyebut nama Allah, dimana sbg gantinya mereka hanya menyebutkan nama2 berhala. Hal ini diharamkan Allah, sbgmana disebut di dlm surah Al An’aam ayat 118 (138)

Di ayat lain, Allah dengan tegas melarang kita mengharamkan yang halal, dan sebaliknya tanpa dasar ayat2-Nya:

Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. (An Nahl 16:116)

Adab thd Karunia Allah

Allah menjelaskan beberapa tanda2 kebesaran Allah sbg karunia-Nya kpd kita yang diiringi dg syarat perintah dan larangan atas nikmatNya tsb:

  1. Allah menumbuhkan kebun dan berbagai jenis pohon dg buahnya (spt kurma, zaitun, delima). Allah memerintahkan kita untuk memetik dan menikmati hasil kebun tersebut, tetapi dg 2 syarat: (1) menyisihkan sebagian hasilnya kpd yang berhak (sbg zakat); (2) menghindari berlebih-lebihan (141). Berlebih-lebihan ini menurut Al Baydawi dan Jalalayn adalah tdk berlebih2an dalam membagikannya kpd orang lain, minimum harus disisakan utk mencukupi kebutuhan diri sendiri dan 1 orang tanggungan. Sedangkan menurut Thabari, artinya menghindari ketamakan dlm memanfaatkannya (spt dg menjualnya) shg menghalangi kita untuk menyisihkan porsi wajib zakat.
  2. Allah menciptakan hewan ternak yang bisa dijadikan sbg alat transportasi dan ada juga yang bisa disembelih. Allah memerintahkan kita utk memanfaatkannya sbg rezeki dari Dia, tetapi dg syarat tdk mengikuti syetan, yakni tetap mengikuti ketentuan halal-haram yang ditetapkan Allah (142), spt dijelaskan di ayat lain:

Maka makanlah yang halal lagi baik dari rizki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah. (An Nahl 16:114)

Maha Benar Allah dg segala firmanNya.

Wallahu a’lam. Monggo ditambahkan kekurangannya