Kaum Jahiliah yang Menetapkan Hukum tanpa Ayat dan Ilmu

Masih terkait dg ayat 138-139 sebelumnya, Allah kembali menyinggung kaum Jahiliyah yang menetapkan haram-halal hewan dengan hanya berdasarkan persangkaan mereka dan apa yang dikatakan oleh orangtua / nenek moyang mereka terdahulu.

Allah menegur kaum Jahiliah ini dengan menanyakan, apakah pernah Allah menurunkan ayat-ayat mengenai ketentuan haramnya hewan yang mereka katakan. Kemudian dg teguran berikutnya, apakah mereka memiliki pengetahuan yg mendasari pengharaman hewan tsb. Teguran ini diulangi kembali di ayat 144, “Apakah kamu menyaksikan di waktu Allah menetapkan ini (menurunkan ayat-ayatNya) bagimu” dan “Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang membuat-buat dusta thd Allah utk menyesatkan manusia tanpa pengetahuan?”

Ketentuan Makanan yang Diharamkan

Allah kemudian menerangkan apa yang sebenarnya diharamkan sesuai dg ketentuanNya (145):

  1. Bangkai, darah dan daging babi -> diharamkan krn sifatnya yang kotor
  2. Hewan yang disembelih atas nama selain Allah

Dalam keadaan tertentu kita dibolehkan memakannya dg syarat:

  1. Kondisi darurat, bukan krn keinginan, dimana bila tidak makan akan mengancam keselamatan jiwa
  2. Mengkonsumsinya tidak melampaui batas, makan sekedar cukup untuk bertahan hidup saja

Allah menerangkan hal yang sama di ayat lain sbb:

Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (Al Baqarah 2:173)

Ayat 146 menjelaskan pengharaman tambahan, khusus bagi kaum Yahudi, sbg sanksi atas kedurhakaan mereka (hewan berkuku dan lemak), sbgmn disebutkan di ayat lain:

Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan atas (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah (An Nisaa 4:160)

Kemudian Allah menegaskan bhw rahmat karuniaNya sangatlah luas, masih jauh lebih banyak makanan yang halal daripada yang diharamkan. Sedangkan bagi mereka yang memilih tetap ingkar, diancam dg siksa yang pasti dan tidak dapat ditolak kedatangannya. (147).

Ayat selanjutnya menjelaskan argumen kaum Jahiliah atas ingkarnya mereka. Dikatakan, kalau memang Allah Maha Kuasa, mengapa Dia tdk menjadikan saja mereka beriman, shg mereka beriman, tdk musyrik dan juga tdk mengharamkan tanpa dalil spt di ayat sebelumnya. Kemudian diterangkan, bhw argumen mereka ini dibuat2 dan tidak ada dasarnya (148). Hal ini karena jika Allah pasti memberi hidayah kpd semua hambaNya yang memenuhi syarat sebabnya turunnya hidayah ini (149) – refer ke bahasan ODOP 6:104-117 sebelumnya.

Beberapa Larangan dan Perintah Allah

Di ayat 151-152, Allah menjelaskan bbrp hal yang diharamkan dan diwajibkan sbg kontras atas hukum yang dibuat2 oleh kaum Jahiliah sebelumnya, yakni:

  1. Jangan mempersekutukan Allah
  2. Wajib berbuat baik kpd kedua orangtua
  3. Jangan membunuh anak2 karena takut miskin, karena rezeki mereka sudah dijamin oleh Allah
  4. Jangan mendekati perbuatan keji (dosa yang terkait dg nafsu seksual – spt zina) – baik terang2an maupun sembunyi2
  5. Jangan membunuh siapa pun kecuali dg alasan yang diperbolehkan (spt dlm peperangan dan eksekusi hukum qishash/rajam)
  6. Menjaga harta anak yatim
  7. Menyempurnakan takaran dan timbangan
  8. Berlaku adil, walaupun thd kerabat saudara sendiri
  9. Memenuhi janji

Ayat 153 menutup dg penegasan, bahwa larangan dan perintah yang disebut di atas itulah jalan yang lurus, terang dan jelas dari Allah SWT. Kita diperintahkan mengikutinya, tdk mencari jalan lain selain jalan Allah tsb, agar kita menjadi orang yang bertakwa, yang tetap dalam ketaatan kpd Allah SWT.

Maha Benar Allah dg segala firmanNya.

Wallahu a’lam. Monggo ditambahkan kekurangannya