Ancaman Allah thd Kaum yang Zhalim

Melanjutkan penjelasan mengenai kaum yang zalim di ayat sebelumnya, Allah mengancam kaum yang zalim ini dengan berbagai bentuk azab:

  1. Dimusnahkan masyarakatnya (45), spt yg terjadi kaum Luth dan ‘Aad berikut:

Dan telah Kami wahyukan kepadanya (Luth) perkara itu, yaitu bahwa mereka akan ditumpas habis di waktu subuh. (Al Hijr 15:66)

Adapun kaum ‘Aad maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang, yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; maka kamu lihat kaum ‘Aad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk). Maka kamu tidak melihat seorangpun yang tinggal di antara mereka. (Al Haaqqah 69:6-8)
2. Dijadikan buta, tuli dan ditutup hatinya dari menerima kebenaran, seperti yang dialami oleh orang munafik (46):

Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat. (Al Baqarah 2:7)

Yang demikian itu adalah karena bahwa sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir (lagi) lalu hati mereka dikunci mati; karena itu mereka tidak dapat mengerti. (Al Munafiqun 63:3)
3. Didatangkannya siksaan secara tiba-tiba, spt pada umat Nuh, Luth, ‘Aad dan Tsamud (47):

Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur?

Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain?

Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang merugi. (Al A’raaf 7:97-99)

Tugas dan Integritas Para Rasul

Di ayat 48, Allah menjelaskan (kembali) 2 tugas utama rasul:

  1. Menyampaikan kabar gembira, informasi jalan yg lurus, cara2 ibadah dan jalan ketaatan kpd Dzat yang Maha Menguasai segala sesuatu. Juga berita gembira mengenai balasan yg besar serta keberkahan bagi mereka yg menaati risalahNya.
  2. Menyampaikan peringatan akan nikmat Allah selama ini, dan konsekuensi kalau mereka ingkar thd perintah dan laranganNya

Selanjutnya Allah menjelaskan aturan main yang Dia tetapkan:

  1. Bagi yang beriman dan terus mengusahakan perbaikan atas dirinya mereka akan selamat, tidak merasa khawatir dan tidak sedih (48)
  2. Bagi yang mendustakan rasulNya, akan dibalas dg siksa di dunia dan akhirat (49)

Allah kemudian menegaskan hal2 yang terkait dg integritas para rasul:

  1. Rasul hanya berucap dan berbuat sesuai wahyu dari Allah (50-51)
  2. Rasul tdk boleh membeda-bedakan umat yang miskin dg yang kaya (52). Dikatakan bhw orang miskin itu sebagai cobaan rasa syukur bagi orang kaya (53). Dan Allah menyambut siapa pun hambaNya yang beriman serta mengampuni siapa pun hambaNya yang bertaubat (54).
  3. Rasul tdk mungkin sekali pun mengikuti ritual menyembah tuhan2 dan berhala kaumnya (selain Allah) (56)
  4. Rasul tdk mungkin mengikuti hawa nafsunya dan selalu berjalan atas petunjuk Allah SWT (56)
  5. Rasul membawa ayat2 Allah yang nyata (spt Al Quran) (57)
  6. Rasul tidak bisa menyegerakan azab Allah atau pun menetapkan hukuman atas kaumnya, krn hal itu adalah hak prerogatif Allah (57-58)

Allah kemudian menegaskan, bahwa Dia lah satu-satunya Dzat yang mengetahui yang ghaib dan yang tampak zahir di daratan, di lautan, dan bahkan hingga pergerakan sekecil daun yang jatuh, atau biji2an yang jatuh di dalam kegelapan bumi, di lautan (yang basah) maupun di daratan dan udara (yang kering). Semua pengetahuan itu hanya Allah yang mengetahui dan terekam di dalam kitab yang nyata (59).

Kitab yang Nyata*(kitaabun mubiin)* ini semacam audit trail alam semesta, yang mencatat setiap pergerakan segala yang ada di dalam alam semesta, sbgmana dijelaskan di dalam ayat berikut:

Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al Quran dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah (atom) di bumi ataupun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang Nyata (Yunus 10:61)

Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rizkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang Nyata (Huud 11:6)

…Tidak ada tersembunyi daripada-Nya sebesar zarrahpun yang ada di langit dan yang ada di bumi dan tidak ada (pula) yang lebih kecil dari itu dan yang lebih besar, melainkan tersebut dalam Kitab yang Nyata (Saba’ 34:3)

Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.

Wallahu a’lam