Kisah Ibrahim dan Prinsip Tauhid

Ayat 74-83 mengisahkan perjalanan Ibrahim mencari Tuhan hingga Allah memberikan hikmah pengetahuan mengenai Tauhid dan mengangkatnya sbg rasul.

Pencarian Ibrahim dimulai dari dialog beliau dg bapaknya, yang akhirnya Ibrahim menolak patung berhala sbg Tuhan krn tdk masuk akal. Bagaimana mungkin patung yang dibuat sendiri dan tdk bisa bicara/bergerak bisa lebih berkuasa daripada yang membuatnya? Di akhir ayat 74 digambarkan Ibrahim menganggap perbuatan ini sbg hal yang absurd dan perbuatan yg bodoh dan sesat.

Kemudian di ayat 75 disebutkan bahwa Allah akan membekali Ibrahim dg ketauhidan dan memperlihatkan bukti2 kebesaranNya agar Ibrahim tdk ragu2 dan yakin, sbg bekal beliau sebelum diangkat sbg rasul. Di ayat lain disebutkan, Ibrahim meminta bukti agar bertambah keyakinannya kpd Allah:

Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata, “Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati.” Allah berfirman: “Belum yakinkah kamu?” Ibrahim menjawab, “Aku telah meyakininya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku).” Allah berfirman, “(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah semuanya olehmu. Lalu letakkan di atas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera.” Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (Al Baqarah 2:260)

Menarik melihat bbrp tahapan yang dilalui Ibrahim sebelum sampai kpd menyembah Allah yang Maha Esa dan Maha Kuasa.

Tahap 1: Ibrahim menjadikan bintang sbg tuhan. Digambarkan di ayat 76, bahwa bintang dianggap sbg tuhan krn sifatnya yang menerangi dalam kegelapan malam. Akhirnya Ibrahim menolak krn tuhan tdk seharusnya hilang sementara, tenggelam krn mengikuti orbitnya.

Tahap 2: Ibrahim menjadikan bulan sbg tuhan. Mungkin krn sifat bulan yang lebih terang daripada bintang. Di ayat 77 tampak Ibrahim sudah menyerah krn dia tdk menemukan satu benda pun yang tetap steady di atas langit dan tdk terbit tenggelam, shg dia berkata, “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat.”

Tahap 3: Ibrahim menjadikan matahari sbg tuhan. Mungkin krn sifatnya yang lebih besar dan banyak memberi manfaat. Di sini kemudian diceritakan, ketika Ibrahim akhirnya menolak menuhankan matahari krn pun tdk beda dg bintang dan bulan, sama2 terbit dan tenggelam. Diceritakan bgmn dia menerangkan kpd umatnya, “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan” (78).

Tahap 4: Ibrahim mengakui Allah sbg Tuhan yang Maha Kuasa, yang berbeda dari ciptaanNya, dan dia berikrar berserah diri taat mengikuti risalah (agama) yang lurus. Pernyataan “Eureka” ini ditulis dg kalimat yg sangat mengharukan di ayat 79 sbb:

Sesungguhnya aku hadapkan wajahku kepada Dzat yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh kepasrahan (mengikuti) agama yang benar (lurus), dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. (Al An’aam 6:79)

Ikrar inilah yg kemudian kita baca setiap sholat sbg bagian dari doa iftitah.

Dakwah Ibrahim kpd Kaumnya

Ayat 80 menceritakan dakwah Ibrahim as kpd kaumnya, yang menentang beliau dan menakut-nakuti dg kutukan dari berhala yang mereka sembah. Ibrahim menegaskan, tdk ada satu mudharat pun yang bisa mengenai dirinya, kecuali atas izin Allah. Justru seharusnya mereka yang menyembah berhala yang seharusnya lebih takut kpd siksa Allah krn berhala tuhan mereka tdk bisa membantu apa pun (81).

Di ayat 82, Allah kemudian menerangkan mereka yang dikatakan sbg orang yang diberi petunjuk, yakni:

  1. Mereka beriman kpd Allah, mengakui bahwa Allah adalah Tuhan yang Maha Kuasa, bukan matahari, bukan bulan, dan bukan bintang
  2. Mereka tidak mencampuradukkan keimanan mereka. Mereka tdk mengambil Tuhan lain utk didampingkan bersama2 dg Allah

Allah kemudian menjelaskan contoh dari orang yang diberi petunjuk ini, yakni para rasul, spt Ishak, Ya’qub, Nuh, Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa, Harun (84), Zakaria, Yahya, Isa, Ilyas (85), Ismail, Ilyasa’, Yunus, dan Luth (86).

Ayat 87 menerangkan bhw Allah melebihkan sebagian keturunan Ibrahim dengan mengangkat mereka sbg rasul, sebagaimana diterangkan pula di ayat berikut:

Maka ketika Ibrahim sudah menjauhkan diri dari mereka dan dari apa yang mereka sembah selain Allah, Kami anugerahkan kepadanya Ishak, dan Ya’qub. Dan masing-masingnya Kami angkat menjadi nabi. Dan Kami anugerahkan kepada mereka sebagian dari rahmat Kami dan Kami jadikan mereka buah tutur yang baik lagi tinggi. (Maryam 19:49-50)

Dijadikannya banyak keturunan Ibrahim ini sbg rasul adalah jawaban Allah atas doa beliau sbgmn disebutkan di ayat berikut:

Dan (lbrahim) menjadikan kalimat tauhid itu kalimat yang kekal pada keturunannya supaya mereka kembali kepada kalimat tauhid itu (Az Zukhruf 43:28)

Terakhir pada ayat 90, ditegaskan kembali bhw Ibrahim beserta keturunannya, dan para rasul sebelumnya yang disebut di atas adalah orang yang diberi petunjuk. Kemudian diikuti dg penegasan Allah bhw Nabi SAW tidaklah meminta upah balasan apa pun, dan apa yang disampaikan beliau adalah memberi peringatan kpd seluruh umat.

Tambahan Mengenai Ibrahim dan Bapaknya ‘Azar

‘Azar sbg nama bapak Ibrahim ini hanya disebutkan sekali di ayat 74 di atas. Bbrp mufasir spt Ibnu Katsir, Jalalayn, ar-Razi, dan Thabari berpendapat, ‘Azar ini adalah nama lain dari Terah, nama bapak Ibrahim yang disebutkan di dalam Injil (Genesis 11:25-32).

Menarik kisah Ibrahim dg bapaknya ini, karena pada awalnya beliau berjanji utk memohonkan ampunan bagi bapaknya:

Berkata Ibrahim, “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memintakan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku. (Maryam 19:47)

Kemudian beliau berdoa, memohonkan ampunan thd bapaknya, sbgmn disebutkan di ayat berikut:

dan ampunilah bapakku, karena sesungguhnya ia adalah termasuk golongan orang-orang yang sesat (Asy Syu’araa 26:86)

Tetapi kemudian Allah melarangnya krn tidak pantas bagi Nabi dan org beriman mendoakan ampunan bagi org musyrik, walaupun di atas Ibrahim sdh berjanji:

Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam.
Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka, tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri dari padanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun. (At Taubah 9:113-114)

Di sini implisit Allah berpesan kpd kita bhw hubungan darah, yang bahkan hubungan anak dg orangtua pun dikalahkan oleh hubungan keimanan. Ini juga tampak ketika Allah menegur Nabi Nuh ketika mendoakan anaknya yg tetap musyrik:

Allah berfirman: “Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu, sesungguhnya (perbuatan)nya perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakekat)nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan”.
Nuh berdoa, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tiada mengetahui (hakekat)nya. Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi”. (Huud 11:46-47)

Bisa dibayangkan ini yang harus diterima oleh Nabi Ibrahim padahal di surah Taubah ayat 114, beliau disebutkan sbg org yg sangat lembut dan penyantun 😭

Maha Benar Allah dg segala firmanNya.

Wallahu a’lam