Allah Membesarkan Hati Nabi SAW

Melanjutkan bahasan sebelumnya, Alllah membesarkan Nabi SAW dalam menghadapi cemoohan kaum kafir, dengan menyatakan bhw para rasul sebelum Nabi SAW pun juga dicemooh oleh umatnya (10). Kemudian Allah memerintahkan agar mereka yang tdk percaya ini utk mengunjungi situs2 peninggalan umat yang dulu pernah maju tetapi ingkar kpd Allah shg diturunkan azab kpd mereka (11). Secara implisit ayat ini membesarkan hati Nabi SAW (dan orang beriman) yang saat itu mendapat banyak celaan bhw tdk usah goyah dengan ejekan kaum kafir krn sebenarnya bukti kebesaran Allah yang menghancurkan mereka yang ingkar kpdNya sebenarnya mereka bisa lihat jejak-jejaknya.

Allah kemudian menegaskan bahwa Dia lah satu-satunya Dzat yang memiliki segala yang ada di langit dan di bumi (12). Dia yang menggilirkan siang dan malam (13). Dan Dia yang memberi dan menahan rezeki bagi hambaNya (14).

Nasib Kaum Musyrik di Akhirat

Di ayat selanjtnya Allah menegaskan, bahwa Dia lah yang menguasai hari pembalasan (15), yang di saat itu hanya Allah yang dapat menyelamatkan hambaNya dari siksa dan mudharat (16-18).

Kemudian ditegaskan juga, bahwa biarlah di akhirat nanti Allah yang menjadi saksi kebenaran antara apa yang dibawa oleh Nabi SAW (beserta Al Quran) dg kaum musyrik (beserta berhala yang mereka sembah) (19).

Nasib Kaum Ahli Kitab di Akhirat

Allah kemudian menyinggung kaum Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) yang sebenarnya sangat jelas mengenali tanda2 akan datangnya rasul terakhir pada diri Nabi SAW – sebagaimana tertulis di dalam Taurat dan Injil (20). Tetapi mereka menutup-nutupi fakta tsb dan mengubah ayat2 di dalam Taurat dan Injil (21).

Mirip dengan ayat 19 sebelumnya, Allah bertanya (retoris) kpd kaum Ahli Kitab nanti di akhirat, dimanakah tuhan anak, roh kudus yang mereka sandingkan dg Allah ketika di dunia? (22). Kemudian diceritakan, mereka (karena takutnya melihat suasana akhirat) menjawab “Demi Allah, (Allah lah) Tuhan kami, tiadalah kami mempersatukan Allah” (23-24).

Nasib Kaum Munafik di Akhirat

Selanjutnya Allah menerangkan kaum Munafik. Mereka ini digambarkan sbg orang yang sudah menerima Islam, tetapi menutup hati dari memahami ayat Allah. Menarik di sini, bahwa kaum munafik ini menganggap Al Quran adalah cerita tahyul dan dongeng zaman dulu (25). Di ayat lain disebutkan,

dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang (munafik) yang berkata “Kami mendengarkan, padahal mereka tidak mendengarkan.” Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apapun. (Al Anfaal 8:21-22)

Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata: “(Ini adalah) dongeng-dongengan orang-orang dahulu kala.” (Al Qalam 68:15)

Dan apabila dikatakan kepada mereka “Apakah yang telah diturunkan Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Dongeng-dongengan orang-orang dahulu” (An Nahl 16:24)

Kemudian diterangkan juga, paradigma kaum munafik ini, Hidup di dunia hanya sekali dan tidak ada hidup setelah mati (29), yang menyebabkan mereka tdk takut berbuat khianat thd sesama muslim demi mendapatkan keuntungan duniawi.

Allah kemudian menceritakan peristiwa ketika orang munafik ini sudah melihat kerasnya siksa neraka di depan mata mereka. Mereka dengan memelas memohon agar bisa dikembalikan ke dunia menjadi muslim yang benar2 beriman. Implisit di sini diceritakan mengharukannya peristiwa ini ketika disaksikan juga oleh orang beriman, karena mereka yang akan masuk neraka ini adalah sama-sama muslim, di antara mereka bisa jadi ada saudara, adik, kakak, orangtua dari kaum beriman yang pernah sama-sama mempelajari Islam. Hanya saja kemudian mereka salah jalan shg terkena penyakit munafik (27-28). Diceritakan juga, Allah bertanya kpd mereka, “Bukankah kebangkitan ini benar?” yang kemudian dijawab, “Sungguh benar demi Tuhan kami.” (30).

Dunia adalah Permainan

Di ayat selanjutnya digambarkan besarnya penyesalan mereka ini, dan sangat meruginya mereka krn menipu diri selama di dunia, hidup hanya sekali shg tdk mempersiapkan bekal utk akhirat (31). Implisit Allah seakan menegur krn kebodohan mereka, “Kenapa kok tdk sadar bahwa sebenarnya dunia ini hanyalah permainan, padahal kehidupan sejati yang sesungguhnya adalah kehidupan akhirat.” (32).

Dunia adalah permainan ini ditegaskan di banyak ayat lain juga:

Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui. (Al Ankabuut 29:64)

Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Dan jika kamu beriman dan bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu. (Muhammad 47:36)

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (Al Hadiid 57:20)

Dari ayat2 di atas ini, maka disimpulkan:

  • Dunia adalah spt permainan. Ada aturan mainnya (yakni sunnatullah atau hukum alam – spt siapa yg kerja keras akan berhasil). Ada periode waktu permainannya (selama hayat masih dikandung badan)
  • Tidak hanya permainan, ttp dunia juga membuat kita terlena – terbawa dg kenikmatan dunia dan kebanggaan atas pencapaian(achievement). Padahal semua di dunia sifatnya sementara, pasti ada life-time-nya.

Misi Rasul dan Sikap Beriman kepada Allah SWT

Ayat 34 Allah menerangkan, kaum kafir saat itu bukannya tdk percaya Nabi (terbukti dg beliau dikenal sbg Al Amin) ttp sebenarnya mereka ingkar thd Tuhan mereka. Hati merekalah tertutup, menolak ayat-ayat Allah (33). Allah kemudian memerintahkan Nabi utk sabar thd cemooh dan tekanan mereka, krn para rasul sebelum beliau pun juga mengalami hinaan, dikatakan berbohon dan bahkan sampai dibunuh oleh kaumnya.

Kemudian Nabi SAW diperintahkan utk tidak membebani diri beliau dg seakan2 dakwah kpd kaum kafir tsb haruslah berhasil. Padahal mereka beriman atau tdk beriman adalah urusan Allah, dan Nabi SAW hanya menyampaikan (35) – spt di ayat berikut:

Dan taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasul-(Nya) dan berhati-hatilah. Jika kamu berpaling, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kewajiban Rasul Kami, hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang. (Al Maidah 5:92)

Allah selanjutnya menjelaskan, bahwa jalan mereka yang memenuhi panggilan iman adalah mereka yang memahami dan merenungkan (memikirkan dan merefleksikan ke diri) atas ayat2 Allah yang sampai kpd mereka. Sedangkan mereka yang berpaling (spt kaum Munafik), mereka menolak utk memahami (walaupun mendengarkan), shg dikatakan hati mereka sudah mati (36).

Di ayat selanjutnya, disebutkan bahwa binatang yang ada di bumi pun sama adalah umat juga, yang akan dihisab oleh Allah (38). Dalam salah satu hadits, disebutkan:

Nabi SAW bertanya, “Wahai Abu Dzar, tahukah kamu apa yang membuat kedua domba itu saling menandung?” Abu Dzar menjawab, “Tidak.” Beliau bersabda, “Tetapi Allah SWT mengetahuinya dan kelak akan menghukumi di antara keduanya” (HR Imam Ahmad)

Kemudian di ayat 39 ditegaskan kembali, bahwa mereka yang kafir dianalogikan sbg orang yang bisu, tuli dan sedang berada di dlm suasana yang gelap gulita. Di ayat lain digambarkan kegelapan ini sbb:

Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun. (An Nuur 24:40)

Ayat selanjutnya, diterangkan bhw di hari kiamat semua akan mengakui keberadaan Allah krn sudah karakter manusia utk segera mengingat Allah di waktu mengalami kesulitan (41).

Sikap Kaum Kafir thd Seruan Kebenaran

  1. Ingkar, turun azab dan kemudian bertaubat

Dijelaskan ada umat yang sudah turun azab atas mereka tetapi kemudian mereka bertaubat, tunduk taubat kpd Allah dengan merendahkan diri kpdNya (42).
2. Ingkar, turun azab tetapi terus bertambah kekufurannya

Ada juga yang tidak mau bertaubat walaupun sudah turun azab atas mereka. Hal ini disebabkan hati mereka yang sdh keras dan syetan yang sengaja menampakkan yang bagus2 thd apa yang mereka kerjakan (43).

Demikianlah Kami menjadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan dari jenis manusia dan dari jenis jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). (Al-An‘am 6:112)
3. Ingkar, dibiarkan hingga diturunkan siksa dengan tiba-tiba

Inilah orang yang diberikan istidraj, dibiarkan hidup bertambah sukses, dibukakan pintu2 kenikmatan di dunia hingga satu waktu diturunkan siksa yang tiba2 atas mereka, hingga mereka putus asa (44).

Maha benar Allah dg segala firmanNya.

Wallahu a’lam