Surah Al Anfaal termasuk surat Madaniyah. Surah ini banyak membahas mengenai berbagai aspek peperangan. Menurut Ibnu Abbas surat ini diturunkan terkait perang Badar Kubra yang terjadi pada tahun 2 hijrah. Peperangan ini sangat penting karena menentukan jalan sejarah perkembangan Islam.

Ayat pertama, menerangkan mengenai prinsip2 akhlak bagi orang beriman terkait rampasan perang pada perang pertama (perang Badar) yang dialami oleh Nabi SAW dan umat Muslim saat itu, yakni sbb:

  1. Harta rampasan perang asalnya adalah milik Allah dan RasulNya, bukan by default milik bersama yang ikut berperang
  2. Jagalah ketakwaan, meletakkan Allah dan RasulNya di atas segalanya, di atas ego pribadi dan suku/kelompok mereka
  3. Jaga hubungan silaturrahmi di antara sesama kaum muslim, jangan sampai rusak karena masalah pembagian harta rampasan perang ini
  4. Taatilah Allah dan RasulNya dalam segala hal, termasuk dlm masalah harta rampasan perang

Ayat selanjutnya, menerangkan ciri karakter mereka yang beriman dengan sebenar-benarnya, (4) yakni:

  1. Hatinya bergetar bila disebut nama Allah
  2. Bertambah iman, khusyu’, tenang, dan hati menjadi rendah, humble mengingat nikmat dan kebesaran Allah bila mendengar bacaan Al Quran dan maknanya
  3. Bertawakal, menguatkan kesabaran, menjaga ketakwaan kpd Allah dlm segala situasi (2)
  4. Melaksanakan ketaatan kpd Allah (mendirikan sholat)
  5. Menafkahkan sebagian dari rezeki yg dikaruniai Allah (3)

Allah menjanjikan 3 hal kpd mereka yang beriman dg sebenar-benarnya sbb:

  1. Ditinggikan bbrp derajat di sisi Allah
  2. Diberikan ampunan atas dosa dan kesalahannya
  3. Dikaruniai rezeki yang mulia, rezeki yang memuliakan, dan bukan rezeki yg merendahkan kehormatan (4)

Petunjuk Tuntunan dalam Berperang (1)

Allah kemudian menjelaskan contoh penerapan orang yang beriman dengan sebenar-benarnya ini dalam menghadapi peperangan. Perang ini dipilih mungkin krn mewakili peristiwa yang tingkat kesulitannya tinggi, kritis (menyangkut hidup-mati) serta memerlukan pengambilan keputusan yang cepat.

  1. Ketika perintah berperang turun, maka kaum muslim pada saat itu terbagi dua, ada yang langsung menyambut, bersegera mempersiapkan diri berangkat – sami’na wa atho’na. Ada pula yang mencari-cari alasan agar tdk perlu ikut berperang krn takut kalah dan takut mati (5-6).

  2. Perintah taat kpd Rasulullah walaupun secara perhitungan akal tdk menguntungkan. Menurut riwayat, saat itu kaum Muslimin dihadapkan pilihan: 1) menyergap kafilah dagang Abu Sofyan yang dg harta hasil penjualan dari Syam dan hanya dikawal 40 orang, atau 2) menghadapi pasukan siap tempur an-Nafir pimpinan Abu Jahal berjumlah 1000 orang yang diutus kaum Quraisy utk menyelamakan kafilah dagang Abu Sofyan. Kaum muslim saat itu awalnya condong memilih menghadapi kafilah dagang Abu Sofyan krn membawa harta yang lebih besar dan hanya dikawal 40 orang, hingga akhirnya Allah menurunkan perintah melalui Nabi SAW utk menghadapi pasukan an-Nafir Abu Jahal yang terdiri dari 1000 personil bersenjata lengkap (7). Selanjutnya Allah menegaskan bhw di balik setiap perintah-Nya selalu ada maksudnya dan pasti ada kebaikannya di kemudian hari. Hal ini terbukti dg dimenangkannya pasukan Islam saat itu shg komunitas muslim di Madinah diakui sbg kekuatan yang diperhitungkan dlm politik saat itu (8).

  3. Nabi SAW saat itu berdoa, memohon agar dimenangkan dlm peperangan. Allah kemudian memberikan pertolongan berupa 1000 malaikat yang datang secara bertahap (9). Di ayat lain, dijelaskan bhw mereka ditolong oleh 3000 malaikat, dan kemudian ditambah lagi 5000 malaikat.

    (Ingatlah), ketika kamu mengatakan kepada orang mukmin, “Apakah tidak cukup bagi kamu Allah membantu kamu dengan tiga ribu malaikat yang diturunkan (dari langit)?” Ya (cukup), jika kamu bersabar dan bersiap-siaga, dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu Malaikat yang memakai tanda. (Ali Imran 3:124-125)

    Menurut bbrp riwayat, dikatakan bhw pasukan malaikat ini memakai tanda bulu warna putih di jambul dan ekor kudanya, dan kudanya berwarna putih-hitam; dan hanya di perang Badar inilah mereka turun langsung ke lapangan membantu pasukan Rasulullah.

    Dijelaskan juga, bhw Allah menurunkan bantuan malaikat ini, pertama sbg kabar gembira, pemenuhan janji Allah yang selalu bersama org yg berbuat baik dan bersabar. Dan kedua, perasaan tentram dan tenang sbg jawaban atas doa kaum muslim yang waktu itu diliputi perasaan khawatir dan takut.

    Allah kemudian menerangkan bagaimana diturunkannya rasa aman dan keteguhan hati kpd pasukan Islam di Badar sbb:

    • Diberikan banyak kemudahan/nikmat yang sifatnya internal, spt rasa mengantuk dan dikuatkannya keimanan dan kesabaran hati (11)

      Di dalam ayat lain, disebutkan bhw rasa mengantuk ini hanya dirasakan oleh kaum muslim yang teguh imannya

      Kemudian setelah kamu berdukacita, Allah menurunkan kepada kamu keamanan (berupa) kantuk yang meliputi segolongan dari pada kamu, sedang segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri… (Ali Imran 3:154)

    • Diturunkannya kemudahan dari alam, spt diturunkannya hujan (shg mereka dapat bersuci dan menyegarkan, mengusir pikiran2 negatif krn kekuatan pasukan yg tdk imbang) dan dipadatkannya tanah berpasir shg menguatkan pijakan langkah kaki mereka (11)

    • Allah pun memerintahkan para malaikat utk meneguhkan pendirian pasukan Islam saat itu, dan pada saat bersamaan menurunkan rasa takut ke dalam hati pasukan kafir (12)

  4. Larangan lari dari medan perang, kecuali sebagai bagian taktik perang. Taktik perang di atas, termasuk misalnya mundur utk bergabung dg pasukan lain yang lebih besar. Jadi bukan mundur, melarikan diri krn menyerah dan takut kpd lawan.

    Lari dari medan perang ini salah satu dosa besar dan dimurkai Allah serta diancam neraka Jahannam. Hal ini mungkin disebabkan krn org yg melarikan diri dari medan perang sebenarnya sudah menempatkan ketakutannya, kekhawatiran akan keselamatannya lebih tinggi prioritasnya daripada perintah Allah utk berperang (sampai menang atau syahid). Dalam salah satu hadist disebutkan:

    Nabi SAW bersabda, “Jauhilah tujuh (dosa) yang membinasakan!” Mereka (para sahabat) bertanya, “Wahai Rasûlullâh, apakah itu?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, (1) “Mempersukutukan Allah (syirik); (2) sihir; (3) membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dlm bentuk yg dibenarkan (spt hukum Qishash); (4) memakan riba; (5) memakan harta anak yatim; (6) melarikan diri dari medan perang; (7) menuduh perempuan baik-baik yang lengah dan beriman melakukan zina.” (HR Riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.

Wallahu a’lam bish-shawab