Petunjuk Tuntunan dalam Berperang (3)

  1. Pembagian Harta Rampasan Perang

    Allah kemudian menjelaskan detail pembagian ghanimah (harta rampasan perang) yang disebutkan di ayat 1 sebelumnya. Secara umum, 1/5 bagian diperuntukkan khusus utk Nabi SAW, kerabat Nabi SAW, anak yatim, org miskin dan Ibnu Sabil (41). Namun demikian, ulama berbeda pendapat mengenai aturan pembagian ini (termasuk imam 4 mazhab – Syafii, Hambali, Maliki, dan Hanafi). Wallahu a’lam.

  2. Percaya kpd Pertolongan Allah

    Masih dalam konteks peristiwa Perang Badar, Allah menerangkan bhw peristiwa bertemunya pasukan org beriman dan org kafir ini sbg yaumal Furqaan = hari Furqaan (41), yakni hari dimana ditampakkannya dengan sangat jelas kehancuran org yang kafir dan kemenangan pasukan org beriman (42).

    Kemudian Allah menghilangkan rasa gentar pasukan org beriman ini dlm bentuk ditampakkan pasukan org kafir berjumlah sedikit dalam mimpi (43) dan juga ketika sdh berhadap2an (44). Di ayat lain disebutkan:

    Sesungguhnya telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang telah bertemu (bertempur). Segolongan berperang di jalan Allah dan (segolongan) yang lain kafir yang dengan mata kepala melihat (seakan-akan) orang-orang muslimin dua kali jumlah mereka. Allah menguatkan dengan bantuan-Nya siapa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati. (Ali Imran 3: 13)

  3. Sikap Hati ketika Berlangsung Perang

    Kita kemudian diperintahkan melaksanakan bbrp sikap hati ketika sedang di medan perang:

    • Jangan lemah krn kasihan atau pun menjadi bengis/melampaui batas krn benci/dendam. Teguhkan hati berperang krn perintah Allah dan RasulNya (45). Nabi SAW bersabda dlm salah satu hadits:

      Wahai manusia, jangan pernah kalian mengharap-harapkan bertemu dengan musuh dan mohonlah keselamatan kpd Allah SWT, tetapi ketika kamu bertemu mereka maka bersabarlah, dan ketahuilah bhw surga itu di bawah kilatan pedang. (HR Bukhari dan Muslim)

    • Menyebut nama Allah (dzikrullah) sebanyak-banyaknya (45). Perintah ini bersifat khusus, walaupun di ayat lain kita juga diperintahkan (secara umum) utk berdzikir sebanyak2nya spt disebutkan pada ayat berikut:

      Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. (Al Ahzab 33:42)

    • Hindari perpecahan. Taatilah Allah dan RasulNya sbg satu komando (46)

    • Hindari berbantah-bantahan dan adu argumentasi (46)

    • Sabar, tenang dan tdk mudah putus asa dlm menghadapi situasi yang mungkin tdk diprediksi (46). Nabi SAW bersabda:

      Sesungguhnya Allah menyukai diam dalam tiga hal, yaitu ketika mendengarkan bacaan Al Quran, ketika bergerak ke arah musuh, dan ketika berada di dekat jenazah (HR Ath-Thabrani)

      Sikap sabar ini disebutkan juga di ayat lain:

      Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung. (Ali Imran 3:200)

    • Hindari sikap over-confident, yang akhirnya menjerumuskan kita bersikap angkuh (merasa diri tinggi) dan riya’ (47). Juga disebutkan, kita akan mudah terjerumus pada pamrih, menganggap kita sangat berjasa (krn ikut dlm barisan pasukan perang) (48). Di akhir ayat 48, disebutkan juga, bgmn syetan menggelincirkan kita shg kita merasa yakin pasti akan menang (krn kagum atas kemampuan kita dan persiapan kita yang matang), dan menjauhkan kita dari sikap rendah hati memohon pertolongan kpd Allah serta meluruskan niat berperang krn mengikuti perintah Allah dan RasulNya.

Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.

Wallahu a’lam bish-shawab