Keadaan Orang Kafir dan Munafik dalam Peperangan

Allah menerangkan bbrp fenomena yg terjadi pada org munafik dan orang kafir ketika menghadapi peperangan sbb:

  • Mereka menganggap orang beriman ditipu oleh agamanya, terlalu naif krn mau saja mempertaruhkan nyawa, keluarga dan hartanya demi mengikuti apa yg diperintahkan oleh agama (49)

  • Juga dijelaskan proses kematian orang2 kafir di medan perang yg mengerikan, dimana disebutkan, mereka dipukul muka dan belakang mereka oleh malaikat pencabut nyawa (50). Allah menegaskan bhw bukanlah mereka dianiaya, ttp itu adalah hukuman dari perbuatan mereka (51).

Kemudian dijelaskan juga keadaan kaum kafir di dalam peperangan ini serupa dg Fir’aun, dlm hal berikut:

  • Kaum kafir dan Fir’aun sama2 mengingkari ayat2 Allah shg diturunkan siksa Allah (52)

  • Kaum kafir dan Fir’aun sama2 enggan membuka hati mereka, open-minded menerima hidayah Allah. Selama mereka menutup pikiran dan hati, antipati thd seruan Allah dan RasulNya, maka mereka seakan mengisolasi dirinya dari hidayah Allah. Ini digambarkan di ayat 53 sbg, ”Sesungguhnya Allah sekali-kali tdk akan mengubah suatu nikmat yang telah dianugerahkanNya kpd suatu kaum, hingga kaum itu mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” Kondisi mereka ini diulang bbrp kali di ayat2 lain spt:

    Mereka berkata: “Hati kami berada dalam tutupan (yang menutupi) apa yang kamu seru kami kepadanya dan telinga kami ada sumbatan dan antara kami dan kamu ada dinding, maka bekerjalah kamu; sesungguhnya kami bekerja (pula)”. (Fushilat 41:5)

    Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (Al A’raaf 7:179)

  • Kaum kafir dan Fir’aun sama2 dibinasakan oleh Allah (Fir’aun ditenggelamkan, sedangkan kaum kafir di sini dikalahkan dan terbunuh di medan perang) krn dosa mereka mengingkari ayat2 Allah (54).

Petunjuk Tuntunan dalam Berperang (4)

  1. Bersikap Tegas thd Pengkhianat (Kisah Bani Quraizhah)

    Menurut riwayat, kaum Yahudi di Madinah dan sekitarnya berkhianat thd perjanjian damai antara Nabi SAW dg kaum Yahudi (Piagam Madinah). Pada tahun ke-5 H, terjadi perang Khandaq, dimana kota Madinah dikepung oleh pasukan Ahzab, yakni pasukan gabungan antara kaum kafir Quraisy Mekkah dan Yahudi Bani Nadir selama 27 hari. Usai perang Khandaq, Nabi SAW pulang ke Madinah. Namun ketika beliau sedang mandi di rumah istrinya, Ummu Salamah, beliau diberitahu oleh Malaikat Jibril bhw masih ada suku Yahudi, Bani Quraizhah yang berkhianat (krn membantu pasukan Ahzab – membantu perlengkapan perang dan berencana menyerang Madinah dari arah Selatan):

    (Jibril berkata) ”Kalian sudah meletakkan senjata kalian? Demi Allah, kami belum meletakkannya, keluarlah menuju mereka!” Nabi SAW bertanya, “Kemana ?” Jibril menjawab, “Ke arah sini” Jibril menunjukkan arah Bani Quraizhah. (HR Bukhari)

    Maka berangkatlah Rasulullah ke perkampungan Bani Quraizhah bersama 3000 pasukan. Rasulullah melakukan blokade, pengepungan 25 hari, hingga akhirnya mereka menyerah dan siap menerima sanksi dari Nabi SAW, dg meminta Sa’ad bin Mu’adz, seorang tokoh dari Bani Aus yang merupakan sekutu Bani Quraizhah utk menetapkan hukuman bagi mereka (dan bukan Rasulullah). Nabi SAW pun menyetujui. Di dalam satu hadits diceritakan:

    Nabi SAW berkata, “Berdirilah (sambutlah) pemimpin kalian.” Sa’ad kemudian mendatangi Nabi SAW dan duduk. Nabi SAW berkata kepadanya, “Sesungguhnya orang-orang ini tunduk kepada hukummu.” Kemudian Sa’ad mengatakan, “Hukum yang saya tetapkan yaitu pasukan mereka dibunuh, kaum wanita dan anak ditawan.” (Mendengar sanksi ini) Nabi SAW berkata, “Engkau telah menjatuhkan sanksi kepada mereka sesuai dengan sanksi Allah Azza wa Jalla” (HR Bukhari dan Muslim)

    Akhirnya seluruh tentara Bani Quraizah yg terdiri dari 400 orang laki2 dieksekusi mati (penggal kepala) saat itu sbg sanksi mereka mengkhianati perjanjian dg Nabi SAW dan kaum Muslim.

    Bani Quraizhah dan sekutunya inilah yang disebut di ayat 55 sbg makhluk yang paling buruk di sini Allah. Dijelaskan, selain tdk beriman (kafir), mereka berkali-kali mengkhianati perjanjian dan tidak takut setiap kali melakukan pelanggaran thd Piagam Madinah yang sudah disepakati antara mereka dg Nabi SAW dan Kaum Muslim Madinah (56). Maka Allah memerintahkan untuk memerangi para pengkhianat ini (57-58). Di ayat 59, ditegaskan bhw mereka ini tdk akan bisa melarikan diri dari ketetapan Allah atas mereka (yakni di-eksekusi mati oleh Pasukan Nabi SAW).

  2. Melakukan Persiapan Perang Sebaik-baiknya

    Di ayat 60, Allah memerintahkan kita utk melakukan persiapan dg segenap kemampuan kita yang ada secara maksimal (finansial, tenaga, skill, networking, dll) demi utk menggentarkan musuh. Menarik di ayat 60, Allah menyebut, ”orang-orang selain mereka yang kamu tdk mengetahuinya.” Menurut Thabari, maksudnya adalah persiapan yang sungguh2 ini bukan hanya utk menggentarkan musuh kita yang tampak, ttp juga untuk menggentarkan musuh dlm selimut, mata-mata (spt kasus Bani Quraizhah di ayat sebelumnya).

    Di akhir ayat 60, ditegaskan bahwa apa pun kontribusi yang kita berikan utk membantu persiapan perang ini pasti akan diberi balasan yang berlipat ganda oleh Allah SWT, sbgmn juga disebutkan di ayat lain:

    Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. (Al Baqarah 2:261)

  3. Mengedepankan Perdamaian

    Allah kemudian memerintahkan kita untuk mengedepankan perdamaian, menerima perdamaian kalau musuh meminta berdamai, krn Islam merupakan agama perdamaian, hidayah dan kasih sayang. Allah kemudian menjelaskan pentingnya bertawakkal kpd Allah, yakni melaksanakan perintah Allah, mendahulukan prinsip perdamaian yang diperintahkan Allah ini daripada keinginan melanjutkan peperangan (61).

  4. Menjaga Persatuan

    Allah kemudian menenangkan kita, dengan menyatakan bhw Dia akan melindungi, menguatkan dan menolong kita – org beriman – dari tipu daya musuh (62) dan juga menyatukan hati org beriman, menurunkan rasa cinta kasih thd sesama org beriman shg semua bersatu (63).

    Di akhir ayat 63, dijelaskan juga, bhw rasa persatuan antara org beriman ini tdk mungkin dapat ditandingi oleh musuh walaupun mereka membelanjakan semua kekayaan alam yg ada di bumi demi menyatukan sesama mereka. Menurut Qurthubi dan Ar-Razi, ayat 63 ini menerangkan sangat kuatnya rasa persatuan dan persaudaraan masyarakat Anshar (org Islam penduduk Madinah) dg Muhajirin (org Islam yang hijrah ke Madinah). Masyarakat Madinah sendiri terdiri dari 2 suku besar (Aus dan Khazraj) yang sering saling berperang sebelum akhirnya mereka menerima Islam.

    Perintah menjaga persatuan ini disebutkan juga di ayat lain:

    Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh. (Ash Shaff 61:4)

    Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. (Ali Imran 3:103)

Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.

Wallahu a’lam bish-shawab. Monggo ditambahkan kekurangannya 🙏😇