Kisah Musa as (2)

Masih melanjutkan ayat sebelumnya:

  • Fir’aun murka kpd ahli sihir nya yang malah bersujud dan beriman kpd Tuhannya Musa dan Harun, krn beranggapan bhw apa yang mereka lakukan ini tdk lebih dari skenario persekongkolan utk melakukan makar thd kekuasaan Fir’aun atas Bani Israil (123)

  • Para ahli sihir dihukum mati dg dipotong tangan, kaki dan disalib (124)

  • Mereka (para ahli sihir ini) tetap teguh dalam keimanannya, tdk takut bahkan kalau harus dibayar nyawa sekalipun (125). Mereka mempertanyakan mengapa mereka dihukum hanya karena mengakui kebenaran Nabi Musa yang dibuktikan melalui menangnya beliau dlm adu sihir tsb? Di sini, kita dicontohkan sikap pasrah dlm kondisi dimana keselamatan diri terancam dan diperlakukan tdk fair sbb:

    رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَتَوَفَّنَا مُسْلِمِينَ

    Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (kepada-Mu).

  • Fir’aun kemudian memerintahkan utk membunuh semua anak laki-laki Bani Israil utk memastikan Bani Israil tdk mungkin menggalang kekuatan melawan kerajaan Fir’aun (127). Di akhir ayat 127 disebutkan juga bhw kerajaan Fir’aun memiliki kendali penuh thd bangsa Bani Israil. Ini juga yg menjelaskan mengapa hanya anak laki2 yang dibunuh, krn laki-laki dewasa sdh diikat menjadi budak pembantu masyarakat Mesir yg tdk mungkin mereka ini dibunuh krn masih dibutuhkan tenaganya.

  • Musa pun melihat rasa gentar kaumnya dan menyemangati mereka dg menasehati mereka 4 poin berikut (128):

    1. Mohon pertolongan dan bantuan Allah
    2. Bersabarlah, persisten, jangan takut/gentar
    3. Ingatlah bhw hanya Allah yang menentukan siapa yang berkuasa dan menggilirkannya kekuasaan tsb kpd siapa yang Dia kehendaki
    4. Ingatlah akan janji Allah bhw kesudahan yang baik hanyalah diperuntukkan bagi org yang bertakwa, yang konsisten menjalankan ketaatan kpd Allah dan bersabar (tdk menyerah, putus asa)

Kaum Musa (Bani Israil) pun (dengan setengah percaya dan pesimis menjawab), bhw nasib mereka akan sama saja spt sebelum datang Musa (contohnya, perintah bunuh anak laki2 ini sdh pernah diberlakukan dulu sebelum Musa dan sekarang diberlakukan lagi tanpa mereka bisa berbuat apa2). Mereka merasa tdk mungkin bisa menang, lolos dari kekuasaan Fir’aun yg sangat berkuasa saat itu (129).

Allah kemudian menurunkan bbrp peringatan berupa bencana alam kpd Fir’aun dan rakyatnya:

  • Musim kemarau yang panjang shg mereka kekurangan buah2an (makanan) (130). Diceritakan juga, bhw mereka menganggap bencana ini disebabkan krn kutukan yg melekat pada Musa dan pengikutnya, ttp dijawab oleh Allah bhw Dia sdh menetapkan turunnya bencana tsb sbg hukuman atas keingkaran Fir’aun dan rakyatnya (131-132)

  • Dikirimkannya angin topan, kemudian wabah belalang, kutu, katak dan darah sbg bukti kebenaran risalah yang dibawa Nabi Musa as (133)

Para pembesar Fir’aun akhirnya mendatangi Musa, minta tolong Musa berdoa agar dibebaskan dari bencana yang datang tanpa henti tsb, serta berjanji akan beriman jika musibah tsb berhenti (134). Allah kemudian mengabulkan doa Musa, semua bencana tsb berhenti. Namun demikian, mereka ingkar janji, tetap tdk mau beriman (135).

Allah akhirnya menurunkan azab pamungkas yang memusnahkan Fir’aun dan para pembesarnya, yakni ditenggelamkannya mereka di laut (136), nasib yg sama terjadi pada kaum Nuh, Hud, Shalih dan Luth yg diceritakan di ayat2 sebelumnya.

Allah kemudian memberikan Bani Israil daerah / area bagi Bani Israil yang subur dan aman, sbg janjiNya memberikan kesudahan yang baik bagi bagi org yang bertakwa dan bersabar (sbgmn disebutkan di ayat 128 di atas) (137).

Hal yg sama disebutkan juga di ayat lain sbb:

Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi), dan akan Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi dan akan Kami perlihatkan kepada Fir’aun dan Haman beserta tentaranya apa yang selalu mereka khawatirkan dari mereka itu. (Al Qasash 28:5-6)

Maha Benar Allah dg segala firmanNya.

Wallahu a’lam bish-shawab