Kisah Musa as (3)

Masih melanjutkan cerita Nabi Musa as. Setelah mereka lolos dari kejaran Fir’aun, mereka melewati perkampungan yang penduduknya menyembah berhala berupa patung anak sapi. Bani Israil kemudian bertanya kpd Musa, apakah bisa mereka dibuatkan juga sebuah berhala spt patung anak sapi tsb. Permintaan ini dijawab oleh Musa, dg mengatakan bhw mereka ini sbg qawm tajhaluun, kaum yg jahiliah, ignorant dan tdk tahu diuntung (138). Musa kemudian menerangkan, bhw kepercayaan tsb cepat-lambat akan musnah dan amal mereka akan sia-sia (139).

Menurut bbrp mufasir (ar-Razi, Thabari dan Zamakhshari), kecenderungan Bani Israil menyembah berhala ini krn sifat berhala yang lebih nyata, lebih rill daripada Tuhan Allah yg abstrak dan tdk tampak. Kejadian ini kemudian menginspirasi peristiwa patung anak sapi di kemudian hari, spt dijelaskan di ayat 148 berikut:

Dan kaum Musa, setelah kepergian Musa ke gunung Thur membuat dari perhiasan-perhiasan (emas) mereka anak lembu yang bertubuh dan bersuara. Apakah mereka tidak mengetahui bahwa anak lembu itu tidak dapat berbicara dengan mereka dan tidak dapat (pula) menunjukkan jalan kepada mereka? Mereka menjadikannya (sebagai sembahan) dan mereka adalah orang-orang yang zalim. (Al A’raaf 7:148)

Ayat 140 menceritakan jawaban Musa yg tdk suka thd pertanyaan kaumnya ini, dengan sindiran, “Apakah pantas kalian mencari tuhan yang lain selain Allah, padahal Dia lah yang telah memberi banyak nikmat & kelebihan kpd kalian, melebihkan kalian daripada umat2 yg lain?”, dan mengingatkan utk mensyukuri nikmat Allah yang telah menyelamatkan mereka dari penderitaan yang sangat pedih, yakni disembelihnya semua anak laki2 Bani Israil oleh Fir’aun (141). Hal yang sama diulang di ayat lain sbb:

Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya, “Ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia menyelamatkan kamu dari (Fir’aun dan) pengikut-pengikutnya, mereka menyiksa kamu dengan siksa yang pedih, mereka menyembelih anak-anak laki-lakimu, membiarkan hidup anak-anak perempuanmu; dan pada yang demikian itu ada cobaan yang besar dari Tuhanmu.” (Ibrahim 14:6)

Musa kemudian diperintahkan utk menyepi (itikaf) ke gunung Sinai selama 40 hari. Menurut bbrp mufasir, ini terjadi pada bulan Dzulhijjah dan beliau saat itu juga berpuasa selama 40 hari. Utk ini, Musa mendelegasikan kepemimpinannya kpd Harun, dg berpesan 3 hal:

  1. Harun menggantikan sbg pemimpin Bani Israil selama Musa pergi
  2. Harun berwenang untuk mengambil tindakan perbaikan/koreksi bila diperlukan
  3. Harun harus menjaga value yang sdh ditanamkan oleh Musa, yakni ketaatan kpd Allah yang Esa

Pesan Musa kpd Harun ini dpt kita jadikan sbg best practice proses delegasi kepemimpinan.

Ayat 143 juga menceritakan kisah hancurnya bukit hingga Musa tdk sadar diri ketika Musa ingin melihat Allah. Kisah ini implisit menggambarkan betapa besarnya Dzat Allah yang bahkan utk dilihat saja bukit pun tdk sanggup menahan kedahsyatannya.

Peristiwa ini disebutkan juga di ayat lain:

Dan (ingatlah), ketika kamu berkata, “Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang, karena itu kamu disambar halilintar, sedang kamu menyaksikannya.” (Al Baqarah 2:55)

Dari ayat di atas, bbrp mufasir spt at-Tabrisi dan Zamakhshari berpendapat, Musa berdoa ingin melihat Allah tsb sebenarnya krn permintaan kaumnya, yang sulit percaya kpd Tuhan yang tdk tampak.

Nikmat Allah kpd Musa dan Kaumnya

Allah menjelaskan bbrp nikmat yang diturunkan kpd Musa dan kaumnya:

  1. Musa ditinggikan derajatnya sbg rasul Allah (144)
  2. Musa diberi kelebihan bisa berbicara langsung dg Allah (144)
  3. Musa dan kaumnya diberi kitab taurat dalam bentuk fisik tulisan di atas kepingan2 batu (145)

Kemudian Allah memerintahkan agar (144-145):

  • Berpegang teguh pada risalah Allah dan ayat2Nya di dlm kitab Taurat. Melaksanakannya dengan sebaik2nya
  • Bersyukur atas nikmatNya

Sebab Utama Manusia Dijauhkan dari Hidayah Allah

Masih terkait dg kisah ingkarnya Bani Israil di ayat2 berikutnya, Allah menjelaskan secara umum, sifat sombong terhadap petunjuk / ayat Allah yg menjadi pangkal utama dari dijauhkannya (dipalingkannya) hamba dari hidayah Allah. Mereka yg sombong ini disebutkan memiliki ciri sbb (146):

  • Bila disampaikan ayat2 Allah, mereka menolak (sebagian atau seluruhnya); merasa lebih tahu daripada apa yang disampaikan di dalam ayat2 Allah, menolak semuanya atau memilih2 mengikuti ayat tertentu yg sesuai keinginan saja.
  • Mengabaikan pintu2 hidayah yg dibuka oleh Allah
  • Tdk merasa berat dan biasa saja mengikuti jalan kesesatan

Di ayat lain, Allah menerangkan sebenarnya ada saat2 dimana hati itu menerima kilas2 hidayah. Tergantung kita apakah akan mengikutinya atau mengabaikannya.

Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal diantara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-sekali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan (Al Baqarah 2:74)

Kemudian dijelaskan juga, bahwa mereka yang mendustakan ayat2 Allah dan mengingkari adanya kehidupan akhirat, amal kebaikannya akan hampa tdk berbekas; yang tercatat hanya amal keburukannya saja (147).

Maha Benar Allah dg segala firmanNya.

Wallahu a’lam bish-shawab