Kisah Musa as (4)

Peristiwa Patung Anak Sapi

Ketika Musa meninggalkan kaumnya krn pergi ke gunung Thur, mereka terpengaruh oleh Samiri yang juga salah seorg dari Bani Israil, membuat patung anak sapi dari logam mulia untuk disembah sbg perantara doa mereka dg Allah SWT. Menurut ar-Razi, patung anak sapi ini dbuat lubang angin dan rongga shg menghasilkan suara mirip suara sapi kalau terkena angin.

Allah menerangkan perilaku bodoh Bani Israil ini krn menyembah sesuatu hanya krn bentuknya mirip makhluk hidup (anak sapi) dan bisa bersuara. Padahal patung tsb tdk punya akal, tdk bisa berbicara (kontras dg Allah yg Maha Mengetahui dan Maha Menguasai Segalanya) dan juga tdk bisa menuntun ke jalan kebenaran (kontras dg Allah yang mengutus Rasul menyampaikan risalah dan dg membawa ayat2Nya) (148). Di ODOP ayat 138 sebelumnya, disebutkan bhw Bani Israil ini pernah juga minta dibuatkan berhala kpd Musa pada saat mereka baru selamat dari kejaran Fir’aun dan melewati perkampungan yang penduduknya menyembah berhala. Mereka butuh berhala sbg tuhan tambahan krn sifatnya lebih nyata, lebih rill daripada Tuhan Allah yg abstrak dan tdk tampak.

Mengangkat tuhan lain selain Allah termasuk perbuatan musyrik, dosa besar yang sangat dimurkai Allah. Bani Israil kemudian segera bertaubat dan menyesali perbuatan ini (149).

Ketika Musa kembali dan mendapati kaumnya menyembah patung anak sapi, beliau kecewa thd kaumnya yang ternyata masih bisa terpengaruh berbuat musyrik padahal sudah diturunkan banyak pertolongan dan menyaksikan banyak mukjizat Allah melalui dia dan Harun. Musa pun marah kpd Harun krn tdk dapat melaksanakan pesan Musa di ayat 142 sebelumnya: Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku, dan perbaikilah, dan janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang yang membuat kerusakan.”

  1. Harun menggantikan sbg pemimpin Bani Israil selama Musa pergi
  2. Harun berwenang untuk mengambil tindakan perbaikan/koreksi bila diperlukan
  3. Harun harus menjaga value yang sdh ditanamkan oleh Musa, yakni ketaatan kpd Allah yang Esa

Harun kemudian menjawab, ”Sesungguhnya kaum ini telah menganggapku lemah dan nyaris membunuhku”. Harun gagal menggantikan Musa sbg pemimpin. Juga, Harun gagal mengambil tindakan tegas thd Bani Israil yang kembali musyrik. Dan Harun gagal menegakkan value ketauhidan di tengah umat yang dipimpinnya. Implisit di sini, seakan Allah berpesan, bhw kemampuan social skill spt leadership, communication, negotiation, juga conflict management mutlak diperlukan agar dakwah bisa efektif. Menyampaikan kebenaran saja (bahkan sekelas Rasul spt Harun) tdk menjadi jaminan pesannya sampai dan diikuti / dilaksanakan (150).

Menarik kemudian sikap Musa setelah reda marahnya, dimana beliau mohon ampunan bagi dirinya dan juga bagi Harun. Artinya Musa setelah kembali memegang kepemimpinan, tdk menganggap semua krn kesalahan Harun, ttp pertama, memintakan ampun bagi dirinya (krn sedikit banyak tipisnya iman Bani Israil tsb karena mgkn ada kekurangan Musa selama ini dlm mendidik mereka), dan kedua, memintakan ampun bagi Harun (krn kegagalannya melaksanakan pesan Musa) (151).

Bani Israil segera Bertaubat

Allah kemudian mengancam Bani Israil yang tidak bertaubat akan dimurkai dan dihinakan di dunia (152). Tetapi, bagi mereka yang bertaubat, segera menyadari kesalahannya, maka Allah pasti mengampuninya, walaupun kesalahannya tsb adalah dosa terbesar (153). Hal ini sejalan dg ayat berikut:

Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (An Nisaa’ 4:17)

Di ayat lain dijelaskan, bahwa taubatnya Bani Israil krn kesalahan besar ini adalah dg membunuh diri mereka.

Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya, “Hai kaumku, sesungguhnya kamu telah menganiaya dirimu sendiri karena kamu telah menjadikan anak lembu (sembahanmu), maka bertaubatlah kepada Tuhan yang menjadikan kamu dan bunuhlah dirimu. Hal itu adalah lebih baik bagimu pada sisi Tuhan yang menjadikan kamu; maka Allah akan menerima taubatmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (Al Baqarah 2:54)

Allah kemudian menegaskan, bahwa Taurat yang baru diterima oleh Musa adalah petunjuk dan rahmat bagi Bani Israil yang tetap dalam keimanannya krn takut kpd Allah SWT (154).

Tidak cukup dengan perintah taubat kpd mereka yang musyrik terpengaruh Samiri, Allah memerintahkan Musa memilih 70 orang dari kaumnya (menurut bbrp mufasir, 6 org dari setiap 12 suku Israil, jadi total 72 orang) untuk bermunajat bersama di waktu yg ditentukan di gunung Thur, memohon taubat atas penyembahan kaum Musa thd patung anak sapi tsb. Sebagian mufasir berpendapat, mereka yg walaupun tdk ikut2 menyembah patung sapi ini tetap dihukum berdosa krn membiarkan dan tdk memperingatkan sesama kaumnya yang terpengaruh Samiri tsb.

Tiba-tiba tempat tersebut berguncang oleh gempa yg sangat kuat shg membuat mereka semua terkapar tdk sadarkan diri. Akan halnya Musa, yang menyaksikan kejadian tsb, berdoa dg sangat merendahkan diri, ”Duhai Tuhanku, kalau Engkau berkehendak, tentulah Engkau sudah membinasakan mereka dan aku sebelum kami datang ke gunung Thur ini. Apakah Engkau membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang kurang akal di antara kami?… Ampunilah kami, dan berilah kami rahmat (dijauhkan dari siksaMu) dan sungguh Engkaulah sebaik-baiknya Pemberi Ampunan. Dan karuniakanlah bagi kami kebaikan di dunia dan di akhirat, sesungguhnya kami semua pasti akan kembali kepadaMu.”

Allah pun memperkenankan doa Musa, dengan menjawab, bahwa rahmatNya jauh lebih luas daripada siksaNya, tetapi rahmatNya hanya eligible bagi mereka yang (156):

  1. Menjaga ketakwaan. Tekun dalam ketaatan kpd Allah semata
  2. Menunaikan zakat
  3. Beriman kpd ayat2 Allah. Menerima dg sepenuhnya apa yang diperintahkan dan dilarang di dalam ayat2 Allah (di dalam Taurat)

Allah kemudian menambahkan syarat eligible bagi rahmatNya utk Bani Israil yang hidup setelah kedatangan Nabi SAW, yakni, mengakui, beriman dan mengikuti Rasulullah Muhammad SAW (yang kedatangannya sdh disebut di dalam Taurat dan Injil). Menurut Tabrisi, kedatangan Rasul setelah Yesus, bahkan juga profil Rasul tsb disebutkan di dalam Injil Yohanes 16:7-14 berikut:

Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu. Dan kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia   akan dosa, kebenaran dan penghakiman; akan dosa,  karena mereka tetap tidak percaya kepada-Ku; akan kebenaran, karena Aku pergi kepada Bapa dan kamu tidak melihat Aku lagi; akan penghakiman, karena penguasa dunia ini telah dihukum. Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya. Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran,  Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari pada-Ku.

Kemudian dijelaskan, bahwa Rasul utusan terakhir ini akan (157):

  • Mewajibkan amar ma’ruf nahi munkar
  • Menghalalkan semua yang baik (sbg berita gembira krn sebelumnya Bani Israil diharamkan bbrp makanan yang sebelumnya halal krn kesalahan mereka – refer ke ayat 6:146 dan 4:160).
  • Meringankan dan membebaskan bbrp hukum yang memberatkan mereka, spt kewajiban zakat Bani Israil sebesar 25% – dibandingkan Nabi SAW yang hanya mewajibkan 2.5%
  • Orang yang beriman kpdnya akan memuliakannya dan siap melakukan apa pun utk membelanya; serta menjadikan Al Quran sbg pedoman dan bimbingan hidupnya

Mengenai amar ma’ruf nahi munkar, enggannya Bani Israil saling mengingatkan kalau ada yg berbuat salah di antara mereka ini diterangkan juga di ayat lain:

Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu. (Al Maa’idah 5:79)

Terakhir, ayat 158 menjelaskan summary dari dakwah Rasulullah SAW sbg petunjuk bagi kaum Yahudi dan Nasrani:

  • Nabi SAW adalah utusan Allah bagi seluruh umat manusia (utk orang Arab dan non-Arab)
  • Sembahlah Allah yang maha luas kekuasaanNya (menguasai langit dan bumi)
  • Sembahlah Allah yang Esa, yang tdk disandingkan oleh apa pun (spt dikatakan memiliki anak)
  • Sembahlah Allah yang menjadi awal dan akhir segala sesuatu, yang menghidupkan dan mematikan setiap makhluk
  • Berimanlah kpd Allah dan juga kpd RasulNya (satu paket)
  • Berimanlah kpd kitab Al Quran dan kitab2 lain yang turun sebelumnya
  • Amalkanlah, bertakwalah, jalankan ketaatan kpd Allah dengan tekun

Maha Benar Allah dg segala firmanNya.

Wallahu a’lam bish-shawab