Perjanjian Umat Manusia dg Allah

Masih berkaitan dg ayat sebelumnya yang menerangkan mengenai perjanjian Bani Israil dg Allah, maka Allah menjelaskan di ayat 172 mengenai perjanjian antara umat manusia dg Allah ketika mereka masih di alam ruh, yakni mengakui adanya Tuhan yang Esa dan yang Maha Mencipta dan berjanji menaatiNya sbg tanda pengabdian hamba kepada Tuhannya (172).

Perjanjian ini dilakukan sbg bagian sifat fairness Allah dlm menetapkan hukumNya, prinsip keadilan, bahwa setiap orang dibekali bibit iman yang sama, yakni hati nurani yang mengakui secara spontan keberadaan Tuhan yang Esa yang Menciptakan dirinya. Siapa pun diberi bekal bibit iman yang sama, walaupun orangtua dan nenek moyangnya termasuk org yang sesat, atau dg kata lain, agar setiap manusia mendapatkan kesempatan yang sama mengenal Tuhannya (173). Fitrah dlm bentuk bibit iman yang mengakui Tuhan yang Esa (tauhid) ini disinggung juga di ayat lain sbb:

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui (Ar Ruum 30:30)

Juga di dalam hadits berikut:

Setiap anak terlahir dlm kondisi fitrah, maka kedua orangtuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi, sebagaimana halnya seekor binatang dilahirkan secara sempurna, maka adakah kalian menemukan kekurangan pada penciptaanNya? (HR Bukhari dan Muslim)

Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Aku menciptakan hambaKu dlm keadaan suci dan lurus, lalu datanglah syetan, kemudian dia memalingkan mereka dari agama mereka, dan mengharamkan mereka apa yang telah Aku halalkan” (HR Muslim)

Orang yang Mendustakan Ayat Allah

Di dalam tafsir Ibnu Katsir, diriwayatkan dari Malik bin Dinar, ada seorang laki2 dari kalangan Bani Israil bernama Bal’am bin Ba’ura. Doanya sangat mustajab. Bani Israil selalu mengedepankannya setiap kali terjadi musibah/bencana. Akhirnya ia diutus Nabi Musa menemui Raja Madyan utk menyerunya menyembah Allah SWT. Namun Raja Madyan tsb justru memberinya harta dan jabatan. Akhirnya Bal’am mengikuti agama raja tsb dan meninggalkan agama Nabi Musa as.

Inilah yang dikisahkan di ayat 175, yang implisit menerangkan mengenai ulama yang tergoda meninggalkan ilmu dan imannya demi memperoleh kenikmatan duniawi. Padahal Allah menyatakan, bhw kalau saja org tsb istiqamah dlm keimanan dan ketaatannya kpd Allah maka pasti akan ditinggikan derajatnya melalui kebenaran dan kemuliaan ayat2Nya yang dia dakwahkan.

Allah pun menjelaskan betapa hinanya mantan ulama, shg dianalogikan spt sifat anjing yang selalu kehausan, selalu mengharap (dan membela) siapa pun yang memberinya makan (memberi dia harta, kekuasaan dll), yang tdk akan berubah walaupun dihalau (diberitahu kesalahannya) krn mata, hati dan pendengarannya sudah tertutup dari hidayah Allah. Orang spt ini disebut sebagai orang yang mendustakan ayat Allah (176). Dikatakan juga, mereka ini menzholimi diri sendiri krn menolak, menutup dari masuknya hidayah ke dalam dirinya shg dirinya menjadi orang yang merugi (krn harus menanggung siksa di dunia dan akhirat) diakibatkan oleh sikapnya sendiri (177-178).

Allah kemudian menjelaskan lebih detail lagi, sebab mereka ini mendustakan ayat Allah dan zholim kpd dirinya sendiri, yakni (179):

  • Mereka memiliki hati ttp tdk dibuka dan digunakan utk memahami secara open-minded dan rendah hati akan ayat2 Allah
  • Mereka memiliki mata ttp tdk dipakai utk bertadabur, memperhatikan tanda2 kebesaran Tuhan yang bertebaran kemana saja matanya memandang alam semesta
  • Mereka memiliki telinga ttp menolak open-minded, tdk mau mendengarkan ayat2 Allah dengan polos, rendah hati dan tanpa prejudice

Sebagian ulama menggunakan ayat 179 di atas ”Mereka memiliki hati ttp tdk dipergunakan utk memahami ayat-ayat Allah” sbg dasar dalil bhw tempat ilmu adalah di hati, dan bukan di akal pikiran / rasio. Wallahu a’lam.

Asmaul Husna

Allah menjelaskan di ayat 180 bhw DzatNya memiliki asma’ul husna (nama-nama yang terbaik) yang menunjukkan Dia memiliki sifat yg beragam. Kita diperintahkan untuk banyak menyebut (dzikir) nama-nama tsb untuk memuji dan meminta segala kebutuhan kpdNya (180). Di dalam hadits disebutkan,

Sesungguhnya Allah memiliki 99 nama, seratus kurang satu. Siapa yang menghafalnya (dan merenungi maknanya) ia akan masuk surga. Dia ganjil dan menyukai yang ganjil. (HR Bukhari dan Muslim)

Kemudian, disebutkan bhw asma’ul husna ini sudah ditentukan, tdk dibolehkan mengganti atau menambahkan nama/sifat Allah. Para ulama berpendapat, kita hanya boleh menggunakan nama2 Allah yang ada disebutkan di dalam Al Quran, tdk boleh dibuat2 sendiri atau hasil ijtihad.

Orang yang Mendapat Hidayah dan yang Mendustakan Ayat2 Allah

Allah menjelaskan bhw di kalangan umat Nabi SAW akan ada orang2 yang tetap konsisten pada kebenaran dan mengajak manusia kpd kebenaran, mengaplikasikan kebenaran dlm keseharian, menetapkan hukum dg adil tanpa berpihak dan aniaya (181). Nabi SAW bersabda ketika membaca ayat ini sbb:

Ayat ini utk kalian dan kaum tersebut (maksudnya kaum Nabi Musa) juga diberikan hal yang serupa (HR Abd bin Humaid dan Ibnu al-Mundzir).

Yang dimaksud dg serupa spt kaum Nabi Musa di atas disebutkan di ayat lain:

Dan di antara kaum Musa itu terdapat suatu umat yang memberi petunjuk (kepada manusia) dengan hak dan dengan yang hak itulah mereka menjalankan keadilan (Al A’raaf 7:159)

Allah kemudian mengkontraskan dg orang yang mendustakan ayat2Nya, dimana mereka akan berangsur2 tanpa sadar terseret semakin jauh dari hidayah dan mendekati jurang kebinasaan / siksa dunia (182). Namun demikian, Allah memberi masa tunggu kpd mereka sebelum menurunkan azabNya (183). Di dalam satu hadits, Nabi SAW bersabda:

Sesungguhnya Allah memberi tempo kpd orang zalim, hingga apabila Allah berkehendak untuk mengazabnya ia tdk akan bisa lepas (HR Bukhari dan Muslim)

Allah kemudian mengajukan pertanyaan retoris kpd kaum yang menentang Nabi SAW, “Apakah mereka tdk menggunakan akalnya, memperhatikan Nabi SAW, keturunannya, masa kecilnya, juga akhlaknya; apakah mungkin orang spt itu kalian anggap dia gila?”

Kalau saja mereka berpikir jernih mereka pasti akan menyadari bhw sebenarnya Nabi SAW tdk lain hanya memberikan peringatan dan memberikan penjelasan sesuai apa yang diwahyukan kpdnya (184).

Bahkan kalau saja mereka melihat ke luar diri, kebesaran alam semesta beserta segala yang ada di langit dan di bumi, kemudian melihat ke diri mereka yang sebenarnya lemah, mudah sakit atau meninggal tiba2, maka secara rasional mereka pasti akan mengakui kebenaran ayat2 di dalam Al Quran (185).

Akhirnya Allah pun menegaskan kembali bhw selama mereka menutup hatinya, tdk menggunakan mata dan telinganya untuk memahami dan mendengarkan kebenaran serta memperhatikan tanda2 kebesaran Allah (sbgmn disebutkan di ayat 179 di atas), maka tdk ada yang bisa menolong menerima hidayah (kecuali mereka yang memulainya). Dikatakan juga mereka ini akan terus dlm keraguan, tdk pasti mengenai dari mana dan akan kemana hidup ini (186). Na’udzubillah min dzaalik.

Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.

Wallahu a’lam bish-shawab