Mereka yang Mengabaikan Al Quran dan Rasul

Allah menegaskan bhw Al Quran mengandung prinsip2 kebenaran dan hikmah (dasar pengetahuan), guidance (petunjuk) dan rahmat bagi orang beriman (52). Di ayat lain, dijelaskan dg struktur kalimat yang mirip sbb:

Inilah ayat-ayat Al Quran yang mengandung hikmah, menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang berbuat kebaikan (Luqman 31:3-4)

Dan sesungguhnya Al Quran itu dalam induk Al Kitab (Lauh Mahfuzh) di sisi Kami, adalah benar-benar tinggi (nilainya) dan amat banyak mengandung hikmah. (Az Zukhruf 43:5)

Kemudian digambarkan profil kelompok yang sudah menerima Islam di hari kiamat, ttp mereka di dunia tdk acuh dan mengabaikan risalah Allah yang ada di dalam Al Quran dan sunnah Nabi SAW. Mereka ini dikatakan tdk mendapatkan syafaat (pertolongan) – baik melalui doa Rasulullah maupun dari keutamaan Al Quran. Mengenai syafaat ini, Nabi SAW bersabda dlm hadits sahih berikut:

Bacalah al-Qur’an karena ia akan memberikan syafaat kepada para “sahabatnya” (HR Muslim, no. 1337)

Dijelaskan kemudian, mereka ini spt ditinggal sendirian; tuhan-tuhan (berhala, atau yang diagungkan selama di dunia, spt kehormatan, karir, harta, dan keturunan) ternyata tdk dapat berbuat apa2, tdk bisa membantu apa pun. Kemudian dijelaskan juga, mereka memohon bisa kembali ke dunia agar dapat mengerjakan amal2 yang sebelumnya mereka abaikan (53).

Adab Berdoa

Allah kemudian menjelaskan bbrp adab dalam berdoa, yang diawali dg menjelaskan kekuasaanNya yang Maha Luas, Maha Meliputi dan melingkupi segenap aspek kehidupan manusia dan alam semesta seisinya. Di akhir ayat 54, ditegaskan bhw hanya Allah yang berhak memerintah dan yang mampu menciptakan. Implisit, kita di sini utk hanya mematuhi perintah yang selaras dg perintah Allah; dan mengembalikan segala karya cipta manusia (spt ilmu pengetahuan dan seni) kpd Allah yang Maha Mencipta.

Barulah setelah kita dipaparkan kebesaran dan kekuasaan Allah, ayat 55 dan 56 menjelaskan adab dlm berdoa, sbg tanda rendah dan tidak berartinya kita – hamba yang lemah berhadapan dg Dzat yang Maha Luas dan Maha Meliputi kekuasaanNya.

Kita diperintahkan berdoa dg mengedepankan adab sbb:

  1. Berdoa dg merendahkan diri
  2. Berdoa dg suara yang halus
  3. Berdoa dg rasa rendah dan takut kalau tdk dikabulkan
  4. Berdoa dg penuh harapan agar dikabulkan

Di samping itu, disebutkan 3 amal yang disebutkan sangat erat kaitannya dg doa, mgkn krn amal2 ini mempercepat diperkenankannya doa kita:

  1. Menjaga diri dari perbuatan yang melampaui batas
  2. Menjaga diri dari perbuatan yang membuat kerusakan di bumi / lingkungan kita
  3. Memperbanyak melakukan banyak kebaikan

Proses Dibangkitkannya Manusia dari Mati

Allah menerangkan di ayat 57 bhw proses dihidupkannya manusia nanti di hari kebangkitan dari matinya adalah sama dg dihidupkannya tanaman/rumput yang sebelumnya sudah mati krn keringnya tanah menjadi hidup kembali hanya karena disirami hujan (walaupun tanah tsb tdk ditanami ulang).

Kemudian, Allah memberikan analogi lain. Menurut Ibnu Abbas, ayat 58 membandingkan tanah yang subur dg yang tandus spt orang beriman dan orang yang kafir. Orang beriman (tanah subur) amalnya (hujan) akan mendapatkan pahala berlipat (menumbuhkan tanaman yang banyak). Sedangkan org kafir (tanah tandus), walaupun mereka banyak beramal (hujan lebat) amal mereka akan nihil / sedikit sekali (tanaman yang tumbuh tdk ada / sedikit sekali).

Hal ini sejalan dg perumpamaan di ayat lain sbb:

Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat. (Al Baqarah 2:265)

Dan kami hadapi segala amal (kebaikan) yang mereka (org kafir) kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan. (Al Furqaan 25:23)

Kisah Nabi Nuh

Ayat 59-64 menceritakan kisah Nabi Nuh as.

  • Nabi Nuh menyerukan ketauhidan. Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali2 tdk ada Tuhan bagimu selain Dia (59)
  • Nabi Nuh dianggap orang yang gila dan sesat (60-61), tetapi sebenarnya kaumnya menolak Nuh karena Nuh hanyalah orang biasa-biasa saja, bukan dari kalangan yang dihormati oleh kaumnya (63)
  • Akhirnya Allah menurunkan azab berupa banjir besar. Di akhir ayat 64, disebutkan, bhw mereka yang mengingkari Nabi Nuh as adalah mereka yang buta (mata hatinya). Turunnya azab ini disebabkan oleh umat Nuh yang sdh tdk ada lagi yang mau beriman, shg disebutkan di ayat lain:

Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang-orang yang buta (mata hatinya) dari kesesatannya. Dan kamu tidak dapat memperdengarkan (petunjuk Tuhan) melainkan kepada orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami, mereka itulah orang-orang yang berserah diri (kepada Kami). (Ar Ruum 30:53)

Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada. (Al Hajj 22:46)

Tambahan Kisah Nuh as

  • Dijelaskan di dalam salah satu hadits, Nabi Nuh adalah rasul pertama yang diutus kpd orang musyrik.
  • Nuh adalah Nabi yang terkenal sabar dalam berdakwah dan sabar dalam menghadapi penolakan orang2 terdekatnya (istri dan anaknya) selain juga penolakan kaumnya. Menurut Ibnu Abbas, beliau diangkat rasul pada usia 40 tahun, dan menghabiskan 950 tahun utk berdakwah. Mereka yang beriman sangat sedikit (QS 11:40). Ada yang menyatakan 13 org, ada juga yg menyatakan 40 orang.
  • Proses pembuatan kapal dilakukan melalui pengawasan dan petunjuk wahyu, sbgmn diterangkan di ayat berikut:

Dan buatlah kapal itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami. (Huud 11:37)

  • Kesabaran Nabi Nuh dalam berdakwah dan menghadapi kezaliman kaumnya ini extra ordinary. Walaupun sudah berdakwah 950 tahun, istri dan anaknya menolak beriman. Selain itu, beliau tetap tdk menceraikan istrinya. Juga beliau tdk mengusir anaknya, bahkan masih mengajak anaknya di saat2 terakhir sebelum anaknya akhirnya tenggelam oleh banjir. Setelah banjir surut, beliau pun masih juga mendoakan anaknya krn sayangnya, shg akhirnya Allah menegur Nuh sbb:

Dan Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya.”
Allah berfirman, “Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu, sesungguhnya (perbuatan)nya perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakekat)nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan. (Huud 11:45-46).

Maha Benar Allah dg segala firmanNya.

Wallahu a’lam bishawab