Kisah Nabi Luth

Luth adalah anak Haran, saudara Nabi Ibrahim as. Luth mengikuti risalah Nabi Ibrahim sbgmana disebutkan di ayat berikut:

Maka Luth membenarkan (kenabian) nya (Ibrahim)… (Al ‘Ankabuut 29:26)

Luth mengikuti perjalanan bersama Nabi Ibrahim, hingga akhirnya beliau menetap di Sodom, yang terletak di timur Yordania.

Berbeda dg kisah Nabi Nuh, Hud dan Shalih sebelumnya, kisah Nabi Luth dimulai langsung kpd perilaku kaumnya yang keji, perilaku homoseksual yang menyimpang, yang bahkan dikatakan sbg, ”sesuatu yang belum pernah dilakukan siapa pun sebelum mereka dan kaum yang melampaui batas (80-81).

Menarik mengamati jawaban kaumnya thd seruan Nabi Luth ini. Mereka berkata (diterjemahkan secara bebas), “Usirlah Luth dan pengikutnya krn mereka adalah orang-orang yang sok suci” (82). Jadi tampak di sini, bhw kaum Luth bukannya tdk tahu mereka melakukan perbuatan keji dan kotor tsb. Justru mereka membenci org yang sok suci tdk mau ikut2 dg perbuatan tsb krn ingin bebas, tdk mau diganggu / dihalangi mereka utk terus melakukan perbuatan tsb.

Maka tidak lain jawaban kaumnya melainkan mengatakan: “Usirlah Luth beserta keluarganya dari negerimu; karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang (menda’wakan dirinya) bersih.” (An Naml 27:56)

Sedemikian dahsyatnya kemungkaran yang dilakukan oleh kaum Luth, disebutkan di ayat lain, bahwa dakwah Nabi Luth ini hanya diterima oleh keluarganya saja – itu pun tdk termasuk istrinya, sbgmn ayat berikut:

Dan Kami tidak mendapati negeri itu, kecuali sebuah rumah dari orang yang berserah diri (rumah keluarga Luth). (Adz Dzaariyaat 51:36)

Mengenai istri Nabi Luth ini, di satu ayat Allah menyamakannya dg istri Nabi Nuh:

Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua isteri itu berkhianat kepada suaminya (masing-masing), maka suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya), “Masuklah ke dalam jahannam bersama orang-orang yang masuk (jahannam).” (At Tahrim 66:10)

Ayat di atas menunjukkan kafirnya kedua perempuan tsb krn berkhianat kpd suaminya. Jumhur ulama berpendapat, khianat mereka ini terkait krn mereka tdk mau mengikuti risalah yang dibawa suaminya, atau mereka berpihak kpd orang kafir (spt istri Nabi Luth yang memberitahu kedatangan malaikat kpd kaumnya). Mereka bukan berkhianat dlm hal kehormatan. Hal ini dikuatkan bhw semua Rasul dimaksum oleh Allah dan di ayat lain disebutkan bhw:

Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rizki yang mulia (surga) (An Nuur 24:26)

Perbuatan keji kaum Luth ini digambarkan di ayat2 lain, di antaranya:

Dan (ingatlah kisah) Luth, ketika dia berkata kepada kaumnya, “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan keji (mesum) itu sedang kamu memperlihatkannya (melakukannya dg terang-terangan)?”
“Mengapa kamu mendatangi laki-laki untuk (memenuhi) nafsu (mu), bukan (mendatangi) wanita? Sebenarnya kamu adalah kaum yang tidak mengetahui (akibat perbuatanmu).” (An Naml 27:54-55)

Akhirnya kaum Luth ini satu kota dijungkir-balikkan oleh Allah dan kemudian dihujani bertubi2 oleh batu dari tanah yang terbakar. Sebagian riwayat menerangkan kota ini meninggalkan tanda khusus berupa batu yang bertumpuk2; ada juga yang menyebutkan sebuah danau yang airnya hitam dan berbau busuk.

Sesungguhnya Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang membawa batu-batu (yang menimpa mereka), kecuali keluarga Luth. Mereka Kami selamatkan sebelum fajar menyingsing (Al Qamar 54:34)

_Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi yang diberi tanda oleh Tuhanmu, dan siksaan itu tidak akan jauh dari orang-orang yang zalim. _ (Huud 11:82-83)

Maka Kami jadikan bagian atas kota itu terbalik ke bawah dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras. (Al Hijr 15:74)

Dan Kami tinggalkan pada negeri itu suatu tanda bagi orang-orang yang takut kepada siksa yang pedih. (Adz Dzaariyaat 51:37)

Mengenai perbuatan homoseksual ini, Nabi SAW bersabda sbb:

Barangsiapa yang mendapati seseorang melakukan perbuatan kaum Luth, maka bunuhlah pelaku dan objek perbuatan itu. Dalam redaksi lain, maka rajamlah yang di atas dan yang di bawah (HR Abu Dawud, Tirmidzi dan an-Nasa’i)

Kisah Nabi Syu’aib

Madyan adalah kabilah Arab yang menempati daerah Ma’an di sebelah timur Yordania. Mereka keturunan Madyan bin Ibrahim. Mereka menyembah malaikat dan sering menipu dlm takaran dan timbangan.

  • Nabi Syu’aib menyerukan ketauhidan, sama dg para rasul yg lain (85). Selain itu, Nabi Syu’aib juga menyerukan bbp hal:
  1. Meninggalkan praktek menipu dlm timbangan dan takaran ketika berjual beli 85)
  2. Jangan menakut-nakuti dan menghalangi orang utk beriman dan taat di jalan Allah
  3. Jangan menginginkan jalan Allah menjadi bengkok. Maksudnya, jangan mencari-cari sesuatu yang bertentangan dengan akal sehat dalam risalah Allah dan mencari2 kontradiksi di dalam ayat2 Allah shg membuat ragu org2 yang sudah beriman

Kaum Madyan ini kemudian diingatkan akan nikmat Allah, bhw mereka dulu jumlahnya sangat sedikit shg Allah memberikan banyak keturunan shg suku mereka menjadi besar (menurut riwayat, Madyan bin Ibrahim menikahi Raiya binti Luth dan memiliki anak yang banyak). Selanjutnya mereka juga diingatkan akan siksa Allah atas umat2 sebelumnya (Nuh, Hud, Shalih dan Luth) yang berbuat zalim (86).

Kemudian di ayat 88 diceritakan kesombongan mereka terhadap seruan Nabi Syu’aib shg mengancam agar Nabi Syu’aib dan pengikutnya kembali menyembah malaikat spt mereka atau akan diusir. Nabi Syu’aib pun dengan tegas menolak. Beliau kemudian berdoa, “Ya Tuhan kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dg hak (adil) dan Engkaulah pemberi keputusan yang sebaik-baiknya” (89) sehingga diturunkanlah azab kpd kaum Madyan ini berupa gempa yang mematikan mereka semua (91), sehingga kota tsb spt kota mati yang kosong tdk berpenghuni (92).

Ayat 93 adalah perkataan terakhir Nabi Syu’aib, ungkapan kekecewaan sebelum beliau mengungsi meninggalkan umatnya menghindari dari azab Allah yang sudah kelihatan di depan mata. Kata2 Nabi Syua’aib di ayat ini memiliki redaksi yang sama dengan kata2 Nabi Shalih di ayat 79:

Maka Shalih meninggalkan mereka seraya berkata, “Hai kaumku sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat Tuhanku, dan aku telah memberi nasihat kepadamu, tetapi kamu tidak menyukai orang-orang yang memberi nasihat.” (7:79)

Maka Syu’aib meninggalkan mereka seraya berkata, “Hai kaumku, sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat-amanat Tuhanku dan aku telah memberi nasihat kepadamu. Maka bagaimana aku akan bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir?” (7:93)

Allah kemudian menjelaskan ketetapan sunnah-Nya, akan kepastian diturunkannya azab bagi setiap kaum yang mendustakan rasul yang diutus kpd mereka, berupa:

  1. Diturunkan siksa saat itu juga dlm bentuk kesulitan hidup dan penderitaan (juga kebinasaan) (94)
  2. Diberi tempo sementara, dibiarkan mereka mendapatkan berbagai kesenangan dan kenikmatan dunia sampai waktu tertentu, baru kemudian didatangkan azab dg tiba2 ketika mereka sedang lengah (95). Di ayat lain dijelaskan juga:

Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa. (Al An’aam 6:44)

Maha Benar Allah dg segala firmanNya.

Wallahu a’lam bishawab 🙏😇