Menyambung kisah-kisah para rasul dan umat yg diturunkan siksa atas mereka, Allah menegaskan bhw sebenarnya kalau saja penduduk suatu negeri beriman dan bertakwa, maka pasti akan dilimpahkan keberkahan atas mereka dari langit dan bumi. Semua kekayaan alam di bumi dan hujan, udara dan panas matahari akan dilimpahkan bagi kesejahteraan dan kemakmuran penduduk negeri yg beriman dan bertakwa tsb (96).

Kemudian Allah mengulang kembali banyaknya kota yg dimusnahkan krn penduduknya ingkar dengan 2 karakter datangnya siksaan tsb:

  1. Saat mereka lengah: sedang tidur (97), atau sedang santai siang hari (98)
  2. Datang secara tiba-tiba (99), tdk memberi waktu yg cukup utk menghindari dan menyelamatkan diri

Hal ini disebutkan juga di ayat berikut:

Betapa banyaknya negeri yang telah Kami binasakan, maka datanglah siksaan Kami (menimpa penduduk)nya di waktu mereka berada di malam hari, atau di waktu mereka beristirahat di tengah hari. (Al A’raaf 7:4)

Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku jika datang siksaan Allah kepadamu dengan tiba-tiba, atau terang-terangan, maka adakah yang dibinasakan (Allah) selain dari orang yang zalim?” (Al An’aam 6:47)

Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa. (Al An’aam 6:44)

Ayat selanjutnya, Allah memperingatkan agar kita tdk merasa aman dari datangnya musibah (sbg azab Allah), padahal sebenarnya kita tinggal/berada di lokasi yang dulunya pernah terjadi bencana yang memusnahkan sebagian besar penduduknya (spt letusan gunung berapi, banjir, dan gempa bumi). Bahwa sebenarnya mudah saja bagi Allah utk mengulangi musibah bencana tsb bila Dia berkehendak. Juga mudah sekali bagi Allah utk membiarkan hati kita menjadi semakin jauh dari hidayah-Nya shg kita ‘buta’ dan ‘tuli’ dari segala bentuk jalan kebenaran (100), spt yang disebutkan juga di ayat berikut:

maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada. (Al Hajj 22:46)

Kemudian Allah kembali menegaskan bhw sebenarnya banyak negeri yang sdh dimusnahkan krn penduduknya ingkar kpd rasul yang diutus kpd mereka, ttp hanya sebagian yg beritanya sampai kpd kita. Di sini ditegaskan kembali, bahwa melihat dari kisah2 Nabi Nuh, Hud, Shalih dan Luth di ayat2 sebelumnya, maka azab tsb hanya diturunkan dg kondisi:

  1. Telah diutus rasul kpd masyarakatnya yang menyampaikan ajaran inti tauhid dan berita baik (imbalan surga bagi yang beramal kebaikan) serta peringatan (ancaman siksa di dunia dan akhirat bagi yang ingkar dan berbuat zalim).

    Dan Kami tidak membinasakan sesuatu negeri pun, melainkan sesudah ada baginya orang-orang yang memberi peringatan; untuk menjadi peringatan. Dan Kami sekali-kali tidak berlaku zalim. (Asy Syu’araa’ 26:208-209)

    …Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul. (Al Israa’ 17:15)

  2. Sikap masyarakatnya yang mengingkari ayat2 Allah, menantang dg meminta dipercepat datangnya musibah sbg bukti kebenaran ayat2 yang mereka tentang

Di akhir ayat 101, disebutkan, mereka inilah yang disebut di ayat 100 sebelumnya, sbg orang kafir yang sdh dikunci-mati hatinya dari menerima kebenaran. Ayat 102 menerangkan mereka ini juga disebut sbg mengingkari perjanjian, yakni mengingkari perjanjian awal manusia di alam ruh utk mengakui Tuhan yang Esa yg harus ditaati sbgmana yang disebutkan di ayat berikut:

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”

Kisah Nabi Musa as (1)

Ayat 103-156 menceritakan mengenai kisah Nabi Musa dari perjalanannya melawan Fir’aun hingga perilaku Bani Israil yang tdk mensyukuri walaupun telah diberi banyak pertolongan dari Allah SWT.

  • Musa men-declare bahwa dirinya adalah utusan Tuhan semesta alam (104)
  • Musa menegaskan dirinya hanya menyampaikan kebenaran dan membawa mukjizat sbg bukti kebenaran pesannya. Menurut satu riwayat, ini adalah jawaban Musa atas tuduhan Fir’aun bhw dia menyampaikan kebohongan (105)
  • Musa menjelaskan salah satu misinya (selain menyampaikan ketauhidan) adalah melepaskan Bani Israil dari dizalimi, dijadikan budak oleh Fir’aun (105)
  • Fir’aun kemudian meminta bukti kalau Musa memang benar utusan Allah (106). Kemudian Musa menunjukkan mukjizat berupa tongkat berubah menjadi ular dan tangannya yang menjadi terang bercahaya putih (107-108)
  • Para petinggi kerajaan Fir’aun menganggap Musa adalah ahli sihir yang berilmu tinggi yang tdk lain tujuannya utk mengajak Bani Israil makar, mengusir bangsa Mesir keluar dari negerinya (109-110)
  • Mereka mengusulkan utk menggelar adu sihir di depan umum, dg mendatangkan ahli2 sihir dari seluruh penjuru negeri (111-112)
  • Para ahli sihir ini meminta imbalan kalau mereka menang. Mereka kemudian dijanjikan menjadi orang dekat kerajaan, yg mana menunjukkan bahwa motivasi mereka ini adalah utk keuntungan duniawi (113-114)

Menarik di ayat 116, diceritakan Musa mempersilahkan ahli sihir Fir’aun mulai lebih dulu. Disebutkan di akhir ayat 116, bhw apa yang dilakukan tukang sihir Fir’aun ini adalah efek visual*(mereka menyulap mata orang)* dan efek perasaan*(dan menjadikan banyak orang takut dan takjub)*. Sedangkan di ayat 117, disebutkan bhw tongkat Nabi Musa (yg berubah menjadi ular) tsb menelan apa yang mereka sulapkan, artinya bersifat material, pasti, bukan hanya efek visual atau perasaan takut dan takjub. Sehingga dikatakan di ayat berikutnya, ***Karena itu nyatalah yang benar dan kalah *** (118).

Berimannya Ahli Sihir Fir’aun

Ayat 119 menerangkan bhw baik ahli sihir Fir’aun dan juga para pembesar dan Fir’aun sendiri merasa dikalahkan dan dipermalukan habis-habisan oleh Musa.

Saat itu juga, para ahli sihir Fir’aun bersujud dan berkata, ”Kami beriman kpd Tuhan semesta alam, Tuhannya Musa dan Harun (120-122).

Menurut ar-Razi, para ahli sihir Fir’aun ini segera bersujud krn pengetahuan spiritual mereka yg tinggi shg cepat mengenali bhw yg dilakukan Musa sama sekali bukanlah sihir.

Maha Benar Allah dg segala firmanNya.

Wallahu a’lam bish-shawab