Allah menyebarkan tanda2 keberadaanNya sbg Dzat yang Esa dan Maha Besar dlm bentuk:

  1. langit dan bumi yg terbentang
  2. pergantian malam dan siang
  3. laut yg dapat dilayari oleh kapal walaupun berat dan besar
  4. siklus hujan
  5. tumbuhnya tanaman dari tanah yg kering dan mati
  6. hewan yg beragam jenis
  7. pergerakan angin dan awan

Dikatakan bhw 7 hal di atas bisa menjadi pintu kita utk memikirkan keberadaan, keesaan dan kebesaran Allah SWT. (164)

Dijelaskan juga, ada manusia yang menyembah dan mencintai sesuatu sama taat dan cintanya sebagaimana org beriman menyembah dan mencintai Allah (165)

Kemudian digambarkan juga betapa menyesalnya mereka yg masuk neraka krn pergaulan (teman), dimana pada saat itu bahkan teman dekat pun tdk peduli (166). Mereka berkata, “Seandainya kami dapat kembali ke dunia, pasti kami akan berlepas diri dari mereka sebagaimana mereka berlepas diri dari kami” (167)

Tuntunan terkait Makanan

Allah memerintahkan kita utk makan:

  • makanan yg halal – zatnya (168)
  • makanan yang baik (168)
  • bersumber dari rezeki Allah yg baik2 (172)
  • tidak asal makan sesuatu krn alasan “sudah tradisi” (170)

Haram di sini dibahas detail di 173:

  • Bangkai
  • Darah
  • Daging babi
  • Binatang yg disembelih atas nama selain Allah

Juga disebutkan kita boleh memakan yg haram di atas hanya kalau:

  • Terpaksa
  • Bukan krn ingin
  • Kalau pun terpaksa, maka sekedarnya saja (tidak melampaui batas). Contoh makan babi hanya utk bertahan hidup, bukan aji mumpung sampai kenyang

Menarik di sini, ternyata Allah hanya menyebutkan yg diharamkan bukan yang dihalalkan. Hikmahnya adalah bhw hukum asal makanan itu adalah halal kecuali kalau ada yg mengharamkan. Sbg tambahan, makanan yg diharamkan bukan hanya yg di ayat ini, ttp ada juga di ayat lain dan juga hadits.

Rangkaian ayat mengenai makanan ini ditutup dg penegasan bahwa semua itu tidak lain krn sifat Maha Penyayang dan Maha Pengampunnya Allah kpd kita – hambanya yang beriman.

Selanjutnya dibahas (kembali) mengenai orang Yahudi dan Nasrani. Diulang kembali bahwa mereka menukar A) kesesatan dg petunjuk; B) siksa dg ampunan (175). Disebutkan juga mereka melakukan itu dengan tenang2 saja tdk takut sama sekali dg konsekuensi api neraka. Dikatakan menukar/membeli krn sebenarnya telah sampai kpd mereka Al Quran yg membenarkan Taurat dan Injil dan mengklarifikasi hal2 yg mereka perselisihkan sebelumnya. (176).

Mahabenar Allah dengan segala firmanNya….

Wallahu a’lam