Ayat 220 dst banyak membahas bbrp hukum terkait keluarga:

Anak yatim (220)

Asbabun nuzul ayat ini adalah jawaban atas kekhawatiran umat Islam waktu itu setelah turunnya 2 ayat berikut:

Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa…. (Al An’aam 6:152)

Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka). (An Nisaa 4:10)

Sehingga akhirnya banyak yg takut kalau mencampuri anak yatim dalam hal makan, minum dll.
Di ayat ini Allah menjelaskan adab mencampur harta mereka dg harta kita, dimana dibolehkan memilih mana yang maslahat nya paling besar, apakah dicampur atau dipisah.

Perbanyaklah memohon kemudahan menjalaninya kpd Allah krn secara umum tdk mudah mengurus mereka. Jika Allah menghendaki, niscaya Dia dapat mendatangkan kesulitan kepadamu

Yakinlah bhw Allah tempat memohon pertolongan dan Dia Maha Bijaksana yang memberi pilihan terbaik bagi kita. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Menikahi Wanita Musyrik (221)

Allah melarang kita menikahi wanita dan laki2 musyrik. Bahkan ditegaskan org beriman masih lebih baik di mata Allah sbg istri/suami dibandingkan org musyrik – walaupun org beriman ini levelnya budak (atau jaman sekarang mgkn bisa dianalogikan dg ART / org yg sangat rendah secara ekonomi, kedudukan dan keilmuan).

Dikatakan mereka mengajak ke neraka, maksudnya menggambarkan besarnya konflik dan pengaruhnya istri/suami thd pasangannya dan anak2nya, sementara Allah mengajak ke surga melalui keimanan kita.

Menurut jumhur ulama, yang diharamkan ini adalah laki2 dan perempuan musyrik (penyembah berhala dan api – Majusi). Sedangkan wanita Nasrani dan Yahudi tetap dibolehkan berdasarkan ayat:

… (Dan dihalalkan mangawini) wanita yang menjaga kehormatan diantara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al Kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik… (Al Maidah 5:5)

Haidh dan Suami-Istri (222-223)

Asbabun nuzulnya adalah kebiasaan kaum Yahudi waktu Nabi hidup, mereka tdk mau menemani makan ataupun berbicara kalau istrinya sedang haidh. Maka ketika sahabat bertanya, diturunkanlah ayat ini, disertai penjelasan, “Lakukan apa pun selain jimak” (hadits riwayat Ahmad dan Muslim)

Perintah ini kemudian dilanjutkan utk menggauli kembali setelah mereka bersih. Terakhir ayat ini ditutup dg pesan bhw Allah mencintai mereka yang bertaubat (yang mungkin khilaf melanggar perintah ini) dan juga mencintai orang yang mensucikan diri (krn bagi bbrp org sangat berat utk ‘puasa’ selama istrinya haid).

Adab Bersumpah (224-225)

Kita dilarang bersumpah dg nama Allah utk sesuatu yang akan menghalangi kita berbuat kebaikan. Contoh, sumpah utk tdk akan menolong seseorang.

Ayat 225 menjelaskan bhw sumpah harus sepenuh hati. Sumpah yang terpaksa dianggap tdk sah.

Hukum Ilaa’ (226-227)

Ilaa’ adalah sumpah suami utk tidak mencampuri istri. Di sini Allah menentukan batas maksimumnya adalah 4 bulan krn akan memutuskan hubungan dan menciptakan perselisihan yg berkepanjangan.

Bagi yang sudah terlanjur sumpah lebih dari 4 bulan, maka ybs harus (1) membatalkan dan menebus sumpahnya dg membayar kafarat; (2) memberikan talak kpd istrinya (227).

Hukum Iddah dan Talak (228-230)

Wanita merdeka yang ditalak wajib menunggu selama 3x haid atau 3x suci agar jelas siapa anak siapa, sebelum boleh menikah lagi.

Di dalam tulisan ini dibahas bahwa berdasarkan penelitian, ternyata 3x bersih ini menjadikan rahim benar2 bersih dari sisa-sisa hubungan dg suami sebelumnya.

Ayat 229 Allah melarang para suami utk meminta kembali apa pun yg telah diberikan kpd istrinya (baik mahar maupun barang lainnya).

Di ayat 330 dijelaskan juga bahwa rujuk hanya bisa dilakukan pada saat Iddah ini, dan maksimum 2x rujuk. Lewat dari itu, istri harus menikah dan bercampur dulu dg orang lain sebelum kembali menikah dg dia.

Ayat mengenai talak ini masih dilanjut sampai ayat 232.

Maha Benar Allah dg segala firmanNya.

Wallahu a’lam