Kalau di ayat sebelumnya ditunjukkan bhw Al Quran tdk akan bisa ditiru oleh manusia, maka di ayat selanjutnya dijelaskan kontrasnya – bahkan Allah yang Maha Mulia dan telah menurunkan AQ yang mulia itu pun tidak malu utk membuat perumpamaan spt nyamuk atau yg lebih rendah lagi dari itu (26). Implisit di sini diperlihatkan bahwa kekuasaanNya meliputi segala sesuatu, termasuk hal yang tampak kecil tdk berarti spt nyamuk.

Menurut Thabari, ayat ini diturunkan sebagai jawaban bagi orang Munafik yang mengatakan bahwa Allah terlalu mulia untuk membuat perumpamaan “orang menyalakan api” dan “orang di tengah hujan lebat” di ayat 18-20 sebelumnya.

Di ayat lain digambarkan kegelisahan orang Munafik ini dengan perumpamaan terhadap diri mereka sbb:

…dan agar orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir (mengatakan), “Apakah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai suatu perumpamaan?” Demikianlah Allah membiarkan sesat orang-orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya… (Al Mudatsir 74:31)

Di akhir ayat 26 disebutkan, “Dan tidak disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik.” Kemudian dilanjutkan dengan keterangan mengapa seseorang menjadi fasik, _yang menyebabkan dia tersesat dari petunjuk Allah, yakni (27):

  1. Mereka melanggar perjanjian untuk menaati Allah dan RasulNya
  2. Mereka memutuskan silaturrahmi
  3. Mereka membuat kerusakan di muka bumi

Allah pun kemudian mempertanyakan kekafiran mereka, padahal Allah lah:

  • Tuhan yang menghidupkan dan mematikan makhlukNya dan setelah mati pun mereka kembali kepada Allah lagi
  • Tuhan yang menciptakan bumi, serta langit yang berlapis-lapis, berikut dengan isinya (29).

Penciptaan Adam

Di ayat selanjutnya Allah menjelaskan kronologis penciptaan Adam:

  1. Allah mengumumkan bahwa Dia akan menciptakan di muka bumi. Di dalam beberapa ayat lain, khalifah ini diartikan sebagai penerus dan wakil/delegasi, maksudnya manusia diciptakan untuk mengemban amanah mengelola bumi dengan sebaik-baiknya. Jadi turunnya Adam ke bumi di kemudian hari itu memang sudah sesuai dg plan awal penciptaan (30)
  2. Malaikat menyatakan keberatan atas rencana Allah tsb, yang kemudian dijawab oleh Allah, bahwa Dia mengetahui apa yang tidak diketahui Malaikat (30). Menurut Thabari di dalam tafsirnya, dijelaskan mengapa malaikat itu tahu mengenai karakter manusia padahal saat itu manusia belum ada:
  • Malaikat tahu karena diberitahu Allah sebelumnya
  • Malaikat tahu karena pengetahuan mereka atas isi Lauhul Mahfuzh yang melintasi batas ruang dan waktu
  • Malaikat tahu krn menganggap manusia mirip dg Jin yang sudah lebih dulu hidup di bumi
  • Malaikat tahu berdasarkan karakter bahan pembuat manusia (tanah) yang mengandung unsur kejahatan dan kebaikan
  1. Allah menciptakan Adam, dan mengajarkan nama-nama benda (31). Di dalam sains, ini disebut sebagai Toxonomy, yang merupakan tahapan awal dalam mengenali sesuatu.
  2. Allah menguji malaikat untuk menyebutkan kembali nama-nama yang sudah diajarkan kpd Adam. Malaikat tidak mampu. Adam pun kemudian menyebutkan dengan sempurna nama-nama yang diajarkan Allah (32-33). Di sini implisit bahwa manusia diciptakan dengan kelebihan akal pikirannya dibandingkan Malaikat.
  3. Allah kemudian memerintahkan para Malaikat untuk bersujud kepada Adam (34). Sujudnya malaikat ini bukan spt sujud kita kpd Tuhan. Tetapi lebih ke penghormatan para malaikat kpd Adam. Sama seperti sujudnya saudara-saudara Yusuf kepada Yusuf ketika bertemu kembali dengan Yusuf sebagaimana disebutkan berikut:

Dan ia menaikkan kedua ibu-bapanya ke atas singgasana. Dan mereka (semuanya) merebahkan diri seraya sujud kepada Yusuf. Dan berkata Yusuf, “Wahai ayahku inilah ta’bir mimpiku yang dahulu itu; sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya suatu kenyataan. Dan sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskan aku dari rumah penjara dan ketika membawa kamu dari dusun padang pasir, setelah syaitan merusakkan (hubungan) antaraku dan saudara-saudaraku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (Yusuf 12:100)
6. Iblis menolak utk bersujud (34). Di ayat lain dijelaskan lebih detail:

Allah berfirman: “Hai iblis, apa sebabnya kamu tidak (ikut sujud) bersama-sama mereka yang sujud itu?”
Berkata Iblis, “Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk”

(Al Hijr 15:32-33)

Allah berfirman, “Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?”.
Iblis berkata: “Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah”.

(Sad 38:75-76)

Maka tampak di sini bahwa Iblis tidak mau bersujud kepada Adam bukan krn dia sombong kpd Allah, atau menantang keberadaan/kekuasaan Allah; namun karena dia tidak menerima bahwa Adam yg diciptakan dari tanah harus dia hormati padahal dia lebih mulia krn diciptakan dari api. Jadi takabur nya iblis ini krn dia merasa lebih mulia daripada makhluk lainnya walaupun sebenarnya saat itu dia beriman, percaya kpd Allah dan bahkan melihat/berdialog dg Allah – bersama-sama malaikat lainnya.
7. Adam dan istrinya (Hawa) dipersilahkan tinggal (transit) di surga dan diperintahkan untuk tidak mendekati pohon khuldi (35)
8. Mereka ternyata mendekati pohon Khuldi karena tergoda oleh Iblis (36).
9. Allah memerintahkan Adam dan Hawa untuk meninggalkan surga dan turun ke Bumi.
10. Adam bertaubat dan Allah menerima taubatnya.

Menarik di sini surga yang ditempati oleh Adam Hawa. Surga tsb ternyata ada larangan (35), ada juga Iblis, dan juga ada sanksi/hukuman (36) dan Iblis pun bisa menggoda Adam Hawa di dalam Surga (ayat 37).

Tampaknya surga yg ditempati Adam dan Hawa ini berbeda dengan surga yang dijanjikan Allah nanti di Akhirat. Kalau kita perhatikan ayat-ayat lain di Al Quran mengenai surga maka ditemukan bahwa surga akhirat ini memiliki ciri-ciri utamanya, seperti sungai yg mengalir, bidadari dan dipan-dipan tempat duduk dan tidur mereka. Sementara ciri ini tidak dijelaskan di cerita Adam waktu beliau di surga.

Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.

Wallahu a’lam bish-shawwab.