Adab dalam Berinfaq (2)

  1. Meluruskan niat. Menurut tafsir Al Munir, “min anfusihim” diartikan sbg keinginan yang benar2 muncul dari dalam jiwa mereka, tumbuh dari keyakinan mereka akan manfaat infak dan muncul usaha melawan sifat kikir

Disebutkan bahwa mereka yg berinfak mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa akan mendapatkan kelapangan hidup berlimpah, yang bahkan di saat sulit pun masih tetap kehidupan mereka dilapangkan. Ini dianalogikan dg kebun subur yg menghasilkan buah berlipat yang bahkan tetap bisa menghasilkan walaupun di musim kering (265).

Al Quran kemudian mengkontraskan dg analogi mereka yg berinfak ttp tdk disertai dg keikhlasan dan harapan akan ridho Allah. Diceritakan betapa kecewanya mereka di akhirat, disangka amalnya banyak krn banyak bersedekah di dunia, ttp ternyata tdk ada artinya (kebun yang hangus terbakar) sementara utk beramal sdh tdk bisa lagi.

  1. Menginfakkan harta yang baik2, yang kita sukai, yang kita pun akan mau menerimanya kalau dikasih orang (267)

Perintah ini sejalan dg ayat lain:

Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. (Al Insaan 76:8-9)

Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya. (Ali Imran 3:92)

Ayat 268 menjelaskan 2 pilihan kita terkait perintah berinfaq ini:

(A) Takut miskin + kikir
(B) Ampunan Allah + kelapangan rezeki (karunia Allah)

Dijelaskan bhw syaithan selalu mengajak kpd opsi A, sedangkan Allah menawarkan opsi B.

Menarik di sini, ampunan dan kelapangan rezeki disebutkan berbarengan. Seakan implisit Allah berpesan kpd kita bhw ampunan dan kelapangan rezeki adalah (salah satu) balasan bagi yg mengikuti perintah Allah (opsi B) (268).

  1. Diperbolehkan menampakkan sedekah kita, tetapi lebih baik menyembunyikannya (271)

  2. Tidak membatasi penerima infaq hanya kpd org beriman (272).

  3. Infaq diutamakan bagi mereka yg memenuhi kriteria berikut (273):

  • Terikat di jalan Allah. Dulu ada 400 org miskin dari Muhajirin tinggal di bangsal masjid Nabawi. Ahlush Shufah.
  • Tidak mampu bekerja
  • Memiliki sifat iffah (menjaga diri dari meminta2)
  • Memiliki bbrp ciri khusus yang membedakan mereka dg org lain. “Dan kamu mengenal mereka dg memperhatikan ciri2 dan tanda2 khusus yg mereka miliki”, spt ciri fisik kurus, lusuh, sakit, lemah akal dll
  • Mereka yg tdk meminta2 dan jika meminta tdk memaksa

Terakhir disebutkan imbalan tambahan dari mereka yg rutin berinfaq, yakni menghilangkan perasaan khawatir dan kesedihan.

Maha Benar Allah dg segala firmanNya.

Wallahu a’lam


Terkait dg No 7 di atas, Allah menegaskan bhw harta apa saja yang dinafkahkan sepanjang itu harta yg baik pasti akan diberi diperhitungkan pahalanya. Ini sejalan dg ayat lain:

Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawipun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan. (Al Anbiya’ 21:47)

Masih terkait dg no 7 ada hadits yg menarik:

Ada seorang laki-laki berkata, “Malam ini, aku benar-benar akan bersedekah.” Maka laki-laki itu pun keluar membawa sedekahnya, dan disedekahkannya kepada wanita pelacur. Esok harinya, orang-orang pun mengatakan bahwa tadi malam ada pelacur yang diberi sedekah. Maka laki-laki itu berdoa, “Ya Allah, segala puji bagi-Mu yang telah mentakdirkan sedekahku jatuh di tangan pelacur. Aku akan bersedekah lagi.”

Ia pun pergi dengan membawa sedekahnya, lalu diberikannya kepada orang kaya. Esok harinya, orang-orang pun membicarakannya bahwa tadi malam ada orang yang memberi sedekah kepada orang kaya. Maka laki-laki itu pun berkata, “Ya Allah, Untuk-Mulah segala puji, karena Engkau telah menjadikan sedekahku jatuh di tangan orang yang kaya, aku akan bersedekah lagi.”

Kemudian ia pergi lagi dengan membawa sedekahnya dan diberikannya kepada pencuri. Esok harinya, orang-orang pun membicarakannya, bahwa tadi malam ada orang yang bersedekah kepada pencuri. Laki-laki yang bersedekah itu pun berujar, “Segala puji bagi Allah yang telah mentakdirkan sedekahku jatuh pada pelacur, kepada orang kaya, dan kepada pencuri.”

Kemudian laki-laki itu didatangi malaikat seraya berkata, “Sedekahmu telah diterima oleh Allah. Adapun shadaqahmu yang jatuh ke tangan perempuan pelacur, semoga ia berhenti dari perbuatan melacur, yang jatuh kepada orang kaya semoga dia menyadari dirinya dan bersedekah pula, sedangkan yang jatuh kepada si pencuri, semoga ia berhenti mencuri.” (Hadits Sahih Riwayat Muslim 1698, Bukhari 1332, Nasa’i 2476, Ahmad 7933)