Karakter Bani Israil (2)

Ayat 70 dst masih melanjutkan karakter Bani Israil yg banyak bertanya dan enggan berkorban, dalam cerita Sapi Betina.
Menarik melihat bagaimana peningkatan spesifikasi sapi betina dari awal, yang semakin sulit seiring dg semakin banyak pertanyaan yg diajukan Bani Israil:

  • Seekor sapi betina (67)
  • Sapi betina pertengahan, tdk muda dan tdk tua(68)
  • Sapi betina yang kuning, kuning tua, dan menyenangkan orang yg melihatnya (69)
  • Sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi tanaman, tidak bercacat, tidak ada belangnya (71)

Di akhir ayat 71 dijelaskan Kemudian mereka menyembelihnya dan hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah itu.

Jadi walaupun sapi itu akhirnya berhasil didapat dan disembelih, tetapi hampir saja Bani Israil tidak melaksanakannya karena sulit menemukannya dan harganya yang mahal sekali.
Kemudian cerita dilanjutkan hingga anggota tubuh sapi tersebut dipakai untuk menghidupkan mayat korban pembunuhan tersebut dan diputuskanlah perkara berdasarkan kesaksian korban tersebut (73).

Ada yg menarik di ayat 74:

Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal diantara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-sekali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan

Ayat ini menggambarkan iman yg kadang naik kadang turun dari kaum Musa (tetapi juga berlaku utk org beriman secara umum).

Sebenarnya ada saat-saat hati yg keras itu bisa menerima hidayah (diumpamakan dg air yg mengalir di tengah-tengah batu). Ada saat bahkan dari hati yg keras itu muncul setitik pancaran hidayah (diumpamakan dg ada batu yg terbelah dan keluar mata air daripadanya). Mereka yg menerima cahaya ini ada yg akhirnya kembali takwa kpd Allah (“meluncur jatuh krn takut kpd Allah”).

Orang beriman yg labil ini disebut juga di dalam ayat lain berikut:

Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik. (Al Hadid 57:16)

Di sini, kita, org beriman seakan dibujuk, diajak, dan ditunggu kapan siapnya untuk kembali kpd Allah sebelum terlalu lama jauh-jauh dari Allah, berjalan menyimpang dari jalan yang lurus, sehingga hati kita terlanjur menjadi keras seperti orang fasik.

Melanjutkan karakter Bani Israil, Allah kemudian menerangkan sikap mereka terhadap risalah para Rasul sbb:

  • Para pendetanya mengubah-ubah perintah Allah (75)
  • Enggan, tidak mau membaca langsung isi sebenarnya Taurat. Menganggap isi Taurat hanya cerita dongeng dan ilustratif saja (78)
  • Para pendetanya menambah-nambah isi Taurat utk kepentingan mereka (spt mengukuhkan kedudukan di depan umat, atau keuntungan finansial) (79)
  • Merasa aman bhw pasti semua Bani Israil pasti masuk surga, dan kalau pun masuk neraka tdk akan lama (80). Di ayat lain dijelaskan juga over confident Bani Israil ini, yang kemudian dibantah oleh Allah SWT:

Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan, “Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya.” Katakanlah, “Maka mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu?” (Kamu bukanlah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya), tetapi kamu adalah manusia (biasa) diantara orang-orang yang diciptakan-Nya. Dia mengampuni bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Kepunyaan Allah-lah kerajaan antara keduanya. Dan kepada Allah-lah kembali (segala sesuatu) (Al Maa’idah 5:18)

Dan mereka berkata, “Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nasrani.” Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah, “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar.”

(Tidak demikian) melainkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Al Baqarah 2:111-112)

Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.

Wallahu a’lam