Surah Al Fatihah

  1. Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
  2. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.
  3. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
  4. Yang menguasai di hari Pembalasan.
  5. Hanya Engkaulah yang Kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta pertolongan.
  6. Tunjukilah Kami jalan yang lurus,
  7. (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

Kalau kita perhatikan, maka Surah Al Fatihah ini dapat kita kelompokkan sbb:

  • Ayat 1-4 : Fokus membahas mengenai Allah dan sifat2nya
  • Ayat 5 : Iyya ka na’budu wa iyya ka nasta’in adalah bridging, jembatan antara ayat-ayat mengenai Allah (di ayat 1-4) dg ayat-ayat mengenai kita sebagai hamba (ayat 6-7).
  • Ayat 6-7 : Fokus mengenai kita sebagai hambaNya yang memohon agar diberi bimbingan dan keselamatan menjalani kehidupan di dunia.

Di sini terlihat Al Fatihah memiliki 2 bagian. Part 1 mengenai Allah dan sifat-sifatNya. Part 2 mengenai hamba yg berdoa kepadaNya. Jembatan part 1 dan part 2 di ayat 5, pengakuan Dia sbg yg disembah dan Dia sbg tempat memohon.

Juga ternyata satu-satunya doa di dalam surah Al Fatihah ada di ayat 6. Mohon diberikan bimbingan ke jalan yang lurus, yang kemudian dijelaskan kriterianya di ayat 7:

  1. Jalan orang (sebelumnya) yang diberi nikmat kepada mereka. Di ayat lain, diterangkan siapa mereka yang diberi nikmat ini, yakni para Nabi, Rasul, umat rasul yang saleh dan taat, serta mereka yang mati syahid:

    Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis. (Maryam 19:58)

    Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (An-Nisa' 4:69)

  2. Bukan jalan orang yang dimurkai, yakni mereka yang dikenal sebagai penantang keras atas nilai dan prinsip-prinsip yang dijunjung tinggi di dalam Islam, seperti keadilan, perlindungan jiwa dan harta, kebebasan dalam beragama, ekonomi yang adil dsb.

  3. Bukan jalan orang yang sesat, yakni mereka yang dibiarkan sesat oleh Allah SWT. Mereka ini tidak secara aktif menantang nilai-nilai keimanan dan Islam. Mereka hanya mengabaikan, tidak berlaku zalim dengan sengaja melanggarnya, tetapi juga tidak melaksanakannya.

Dari kriteria di atas, dapat disimpulkan, ada tiga hal yang menjadi indikator apakah kita sudah berada di jalan yang lurus, yakni:

  1. Apakah prinsip kehidupan kita, pilihan-pilihan yang kita ambil untuk diri kita dan keluarga kita, banyak kesamaannya dengan prinsip hidup dan pilihan hidup yang diambil oleh para tokoh/figur yang dikenal kesalehannya? Seberapa besar irisannya antara prinsip / value yang kita pegang, juga kehidupan keseharian kita dengan prinsip / value yang mereka pegang dan juga keseharian mereka? Semakin banyak kesamaannya, semakin kita memenuhi kriteria pertama jalan yang lurus.

  2. Demikian pula, seberapa besar irisannya, antara prinsip dan nilai yang kita pegang dengan mereka yang dimurkai Allah SWT, yakni mereka yang mendapatkan su'ul khotimah, yang di akhir kehidupannya dikenang sebagai penantang nilai-nilai Islam, seperti kriminal, perusak alam, pelanggar HAM, penguasa yang semena-mena dan lain sebagainya. Semakin jauh kemiripan dan kesamaan prinsip, nilai dan jalan hidup mereka dengan kita, maka semakin kita memenuhi kriteria kedua jalan yang lurus.

  3. Terakhir, kita juga melihat, seberapa dekat prinsip dan nilai yang kita pegang dengan mereka yang dibiarkan sesat oleh Allah SWT. Mereka yang sesat ini tidak tampak penderitaannya di dunia, tetapi mereka sangat tipis bekalnya untuk akhirat. Mereka tidak berbuat zalim terhadap sekitarnya, tetapi mereka menolak beriman kepada Allah, Al-Qur'an dan hari Kiamat. Seberapa jauh prinsip mereka dengan prinsip kita, nilai mereka dengan nilai kita; inilah yang menjadi kriteria ketiga jalan yang lurus.

Dari ketiga kriteria di atas, dapat pula kita simpulkan, bahwa jalan yang lurus itu bukanlah jalan yang baru; bahwa menjadi beriman dan selamat di dunia dan akhirat adalah bukan dengan menemukan jalan baru, atau membuat konsep/cara yang belum pernah ada sebelumnya. Jalan keselamatan dunia dan akhirat ternyata diperoleh dengan cara mengambil pelajaran / lesson learned dari para tokoh/figure sebelum kita. Di sinilah implisit, Allah SWT memerintahkan kita untuk membaca dan mengambil pelajaran dari biografi para tokoh yang saleh dan bertakwa, pun juga tokoh yang dikenal sebagai penentang nilai-nilai Islam, serta biografi mereka yang dibiarkan sesat hingga akhir hidupnya.

Karena Al Fatihah ini dikatakan ikhtisar (summary) Al Quran, maka dapat kita simpulkan bhw kurang lebih topik-topik di dalam surah Al Fatihah inilah yg dibahas di dalam surah-surah Al Quran selanjutnya, yakni:

  • Mengenai penyembahan hanya kepada Allah (ketauhidan), bahwa segalanya bermula dari Allah, bahwa kekuasaanNya yang meliputi segala sesuatunya, berikut dengan sifat-sifatNya (1-3).
  • Berita mengenai hari kiamat dan keadaan di akhirat (4)
  • Kisah beberapa hamba pilihan Allah dalam menjalani berbagai ujian/cobaan naik turunnya kehidupan dengan tetap menjaga keimanan mereka (5)
  • Berbagai doa yang dicontohkan oleh para hamba pilihan tersebut – sebagai bagian dari proses mereka mencari dan menerima hidayah (6)
  • Profile dan sifat-sifat mereka yang selamat menjalani kehidupan di dunia dan mendapat balasan surga, serta mereka yang dimurkai Allah serta gagal dalam menjalani kehidupan dunia sehingga mendapat balasan neraka (7)

Surah Al Baqarah

Keyword di Al Baqarah 1-6: org bertakwa.

Di sini dijelaskan bhw Al Quran diperuntukkan bagi org bertakwa. Kemudian Allah menjelaskan cara mencapai derajat taqwa ini sebagaimana yang dijelaskan (sebagian) di ayat 3-5:

  1. Beriman kpd yang tidak tampak
  2. Mendirikan sholat
  3. Berinfak, menunaikan hak-hak sosial masyarakat
  4. Meyakini Al Quran dan kitab2 yang diturunkan sebelumnya adalah dari Allah SWT
  5. Meyakini kepastian adanya hari Akhirat

Siapa pun yg melakukan hal yg disebut di ayat 3-5 di atas maka dia bisa mengambil manfaat dari pesan2 Al Quran. Implisit di sini dijelaskan bhw Al Quran diperuntukkan bagi semua manusia sepanjang mereka melaksanakan ketakwaan spt yang dijelaskan di atas.

Juga, ayat ini bermakna, bahwa untuk memahami Al Quran ternyata yang diperlukan adalah sikap takwa kita. Al Quran bagi mereka yang bertakwa ini menjadi sesuatu yang mudah dipahami, practical dan relevan dengan masalah keseharian mereka.

Menarik di sini, ayat ke dua dibuka dengan penegasan, bhw Al Quran adalah kitab yang tidak ada keraguan daripadanya. Hamka di dalam tafsirnya menjelaskan, bahwa langkah pertama kita dalam memahami kandungan Al Quran adalah dengan meyakini kebenarannya, mengimaninya dahulu baru membuktikannya dalam bentuk pengamalan sehari-hari dan pengamatan terhadap ayat-ayat Kauniyah yang terdapat di alam semesta. Pendekatan yang bersifat deduktif ini berbeda dengan pendekatan ilmu pengetahuan yang mendapatkan bukti dahulu baru mengambil kesimpulan benar/salahnya.

Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.

Wallahu a’lam