Beberapa Peristiwa di Hari Kiamat

Dialog Manusia dengan Tokoh yang Dijadikan tuhan

Ayat 17 menggambarkan dialog di akhirat antara Allah SWT dengan kaum yang menyembah selain Allah. Mereka ini adalah kaum yang pernah diutus Nabi/Pembaharu yang membawa risalah tauhid, memurnikan ibadah hanya kepada Allah SWT. Setiap umat pasti diutus kepada mereka Nabi/Rasul/Pembaharu ajaran Tauhid, sebagaimana diterangkan di ayat berikut:

Setiap umat mempunyai rasul; maka apabila telah datang rasul mereka, diberikanlah keputusan antara mereka dengan adil dan mereka (sedikitpun) tidak dianiaya. (Yunus 10:47)

hampir-hampir (neraka) itu pecah lantaran marah. Setiap kali dilemparkan ke dalamnya sekumpulan (orang-orang kafir), penjaga-penjaga (neraka itu) bertanya kepada mereka, "Apakah belum pernah datang kepada kamu (di dunia) seorang pemberi peringatan?" Mereka menjawab, "Benar ada. Sesungguhnya telah datang kepada kami seorang pemberi peringatan. Maka kami mendustakan(nya)..." (Al-Mulk 67:8-9)

Akan tetapi lama berselang setelah Nabi/Pembaharu tersebut wafat, mereka justru menjadikan para Nabi/Pembaharu tersebut sebagai tuhan/dewa yang disandingkan dengan Allah yang sama-sama disembah. Contohnya, nabi Isa AS yang dianggap sebagai anak Tuhan di dalam ajaran Trinitas. Menurut Chester G Starr di dalam bukunya, "A History of the Ancient World" (Oxford University Press, 1965), Ibrahim, Abraham dan Brahma adalah orang yang sama, dan tokoh inilah di India disembah sebagai dewa Brahmana.

Mereka berdalih bahwa praktek kemusyrikan ini tidak lain sesuai apa yang diperintahkan oleh Nabi/Pembaharu (nenek moyang) yang juga adalah perintah Allah, sebagaimana disebutkan di ayat berikut:

Dan apabila mereka melakukan perbuatan keji, mereka berkata, "Kami mendapati nenek moyang kami mengerjakan yang demikian itu, dan Allah menyuruh kami mengerjakannya". Katakanlah, "Sesungguhnya Allah tidak menyuruh (mengerjakan) perbuatan yang keji." Mengapa kamu mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui? (Al-A'raf 7:28)

Kemudian Allah mengkonfirmasi jawaban mereka kepada Nabi/tokoh yang dijadikan sesembahan/tuhan tersebut (17). Para Nabi/tokoh ini membantah dengan mengatakan, "Maha Suci Engkau, tidaklah patut kami mengambil selain Engkau sebagai Pelindung, akan tetapi Engkau telah memberi mereka dan keturunan mereka kenikmatan hidup sehingga mereka lupa mengingat (akan keesaan Engkau dan kekuasaan Engkau yang Maha Luas)." Di ayat lain, dengan diceritakan jawaban Nabi Isa AS dengan redaksi yang mirip:

Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman, "Hai Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia, 'Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?'. Isa menjawab, "Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakan maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib". (Al-Maidah 5:116)

Di ayat lain bahkan Allah bertanya kepada Malaikat mengkonfirmasi kesaksian mereka atas sebagian manusia yang menyembah Jin:

Dan (ingatlah) hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka semuanya kemudian Allah berfirman kepada malaikat, "Apakah mereka ini dahulu menyembah kamu?" Malaikat-malaikat itu menjawab, "Maha Suci Engkau. Engkaulah pelindung kami, bukan mereka; Mereka telah menyembah Jin dan kebanyakan mereka beriman kepada Jin itu." (Saba 34:40-41)

Setelah mendapat kesaksian bahwa praktek kemusyrikan itu adalah dari inisiatif umat itu sendiri maka Allah mengancamnya dengan azab yang besar (19), sebagaimana juga dijelaskan di ayat lain:

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya, "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar." (Luqman 31:13)

Allah kemudian menegaskan, bahwa tidaklah pantas mereka - para rasul ini dijadikan sesembahan. Para rasul dan Pembaharu ini semuanya makan dan bekerja seperti manusia biasa. Di ayat lain ditegaskan pula:

Dan tidaklah Kami jadikan mereka (para Rasul) memiliki tubuh yang (mampu) tidak makan, dan tidak (pula) mereka itu orang-orang yang kekal. (Al-Anbiya 21:8)

Para Rasul pun juga mengalami berbagai cobaan, seperti sakit (Ayub AS), marah dan putus-asa (Yunus AS), dilanda fitnah (Yusuf AS) dll sebagai ujian bagi mereka dan menjadi teladan kesabaran bagi umatnya (20). Di dalam hadits Qudsi Allah berfirman,

"Sesungguhnya Aku mengujimu (wahai Muhammad) dan menguji orang lain dengan keberadaanmu" (HR Muslim)

Pertemuan dengan Malaikat

Pertemuan ini dipertanyakan oleh kaum kafir terhadap kerasulan Nabi SAW. Mengapa bukan Malaikat yang diutus sebagai Rasul. Atau mengapa mereka tidak bisa melihat Allah. Hal ini juga disebutkan di ayat berikut:

Dan mereka berkata, "Kami sekali-kali tidak percaya kepadamu hingga kamu memancarkan mata air dan bumi untuk kami, ...atau kamu datangkan Allah dan malaikat-malaikat berhadapan muka dengan kami." (Al Isra' 17:90,92)

Allah menyatakan, bahwa mereka ini memandang dirinya terlalu mulia, karena Malaikat hanyalah diutus kepada hamba-hamba pilihanNya. Sedangkan sikap mereka yang menginginkan melihat Allah adalah tidak pantas dan sikap yang melampaui batas (21).

Allah menjelaskan, bahwa di akhirat nanti mereka akan bisa melihat Malaikat seperti yang mereka minta, tetapi saat itu mereka akan sangat ketakutan (22) - kemungkinan karena mereka bertemu dengan Malaikat Penjaga Neraka.

Perhitungan Amal

Allah menerangkan, bahwa setiap orang akan dihadapkan pada amal-amalnya di dunia. Bagi mereka yang tidak beriman akan menyaksikan seluruh amal baiknya (seperti sedekah, silaturahmi, menolong orang) diterbangkan bagaikan debu, tidak diperhitungkan sebagai pahala sedikit pun karena tidak disertai oleh keimanan kepada Allah SWT (23). Sedangkan mereka yang beriman mendapat balasan surga (24).

Kehancuran Alam Semesta

Ayat 25-26 menggambarkan kehancuran alam semesta pada hari Kiamat:

  • Langit pecah dan diikuti oleh kabut putih, sebagaiman dijelaskan di ayat lain:

    Apabila langit terbelah, dan apabila bintang-bintang jatuh berserakan (Al-Infitar 82:1-2)

    Maka pada hari itu terjadilah hari kiamat, dan terbelahlah langit, karena pada hari itu langit menjadi lemah. Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit. Dan pada hari itu delapan orang malaikat menjunjung 'Arsy Tuhanmu di atas (kepala) mereka. (Al-Haqqah 69:15-17)

  • Para Malaikat yang sangat banyak turun secara bergelombang (25) sebagaimana diterangkan di ayat di atas

  • Semua makhluk tidak ada satu pun yang bisa menolong sesamanya atau terhindar dari kebinasaan (26)

  • Kaum kafir merasakannya sebagai hari yang sangat berat (26).

    maka waktu itu adalah waktu (datangnya) hari yang sulit, bagi orang-orang kafir lagi tidak mudah. (Al-Muddatstsir 74:9-10)

    Sedangkan bagi orang beriman digambarkan dalam hadits berikut:

    "Demi Dzat yang diriku berada di dalam kekuasaanNya. Hari tersebut pasti akan diringankan bagi orang Mukmin, bahkan lebih ringan daripada menunaikan sholat wajib selama di dunia." (HR Imam Ahmad)

Penyesalan Mereka yang Mengabaikan Al-Qur'an

Di hari Kiamat juga diceritakan, mereka yang menyesali kehidupannya karena tidak mengikuti ajaran Rasul (27). Mereka dikatakan salah pergaulan, mengikuti ajakan teman-temannya yang menyesatkan, padahal ayat-ayat Al-Qur'an sudah pernah disampaikan kepada mereka (28-29). Di dalam satu hadits disebutkan,

"Permisalan teman baik dan teman buruk adalah seperti penjual minyak misik dan pandai besi. Penjual minyak misik bisa jadi ia akan memberimu minyak wangi, kamu membeli darinya, atau kamu mendapatkan bau yang harum darinya. Sedangkan pandai besi maka bisa jadi akan membakar pakaianmu atau kamu mencium bau yang tidak sedap." (HR Bukhari dan Muslim)

"Teman terbaik adalah orang yang melihatnya mengingatkanmu kepada Allah, bicaranya dapat menambah ilmumu, dan perbuatannya mengingatkanmu kepada akhirat." (Hadits dari Ibnu Abbas)

Rasulullah mengadukan Umatnya kepada Allah SWT

Rasulullah mengadu kepada Allah SWT, karena umatnya banyak yang mengabaikan isi kandungan Al-Qur'an. Menolak kebenaran kandungan Al-Qur'an. Menjadikan bacaan yang indah dan hafalan Al-Qur'an sebagai kebanggaan, sementara lalai tidak mempelajari kandungannya dan mengamalkannya (30) - padahal, Al-Qur'an sengaja diturunkan sedikit demi sedikit tidak hanya supaya mudah dihafalkan, melainkan agar mudah ditadaburi di dalam hati, dapat mengambil hikmahnya dari jawaban Al-Qur'an atas permasalahan yang dihadapi Rasulullah serta diamalkan sedikit demi sedikit (32-33). Allah pun menegaskan di ayat lain:

Dan Al Quran itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian. (Al Isra' 17:106)

Neraka Jahannam

Ayat 34 menceritakan akhir kesudahan mereka yang amal kebaikannya tidak mencukupi. Mereka diseret ke neraka Jahannam dengan berjalan di atas wajah/muka mereka. Mereka inilah yang mendapatkan akhir kesudahan yang paling buruk dan orang-orang yang paling sesat jalannya.

Nabi SAW menjelaskan mengenai peristiwa ini sbb:

"Pada hari Kiamat manusia akan dikumpulkan dalam tiga kelompok: para pejalan kaki, para pengendara, dan para pejalan di atas wajah mereka." Beliau ditanya, "Wahai Rasulullah bagaimana mereka bisa berjalan di atas wajah mereka?" Beliau menjawab, "Sesungguhnya Dzat yang membuat mereka berjalan di atas kaki mampu membuat mereka berjalan di atas wajah. Dan mereka akan berjalan di atas wajah mereka dengan penuh kehati-hatian." (HR at-Tarmidzi)

Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Referensi tafsir klik di sini.