Misi dan Tugas Kerasulan

Melanjutkan sikap pengingkaran yang diterima oleh para Rasul dari umatnya, Allah kemudian menjelaskan misi, etika dan tugas kerasulan sebagai berikut:

  1. Misi para Rasul adalah menyampaikan berita gembira dan memberi peringatan (56):

    • Membawa berita gembira kepada mereka yang mencari kebenaran. Kejelasan siapa seharusnya yang diibadahi (ajaran Tauhid), bagaimana caranya beribadah yang diterima oleh Tuhan serta apa balasan atas amal kebaikan yang dikerjakan.

    • Memberi peringatan kepada mereka yang tetap ingkar setelah dakwah Rasul sampai. Ancaman dan azab atas mereka di dunia dan di akhirat.

    Di ayat lain ditegaskan juga:

    Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. (Al-Maidah 5:67)

  2. Rasul tidak pernah mengharapkan keuntungan duniawi dan ekonomi dalam dakwahnya. Mereka hanya mengharapkan umatnya mengikuti seruannya, yakni jalan lurus taat kepada Allah (57). Hal ini sangat penting sehingga ditegaskan berkali-kali dalam banyak ayat berikut:

    Katakanlah (hai Muhammad): "Aku tidak meminta upah sedikitpun padamu atas dakwahku dan bukanlah aku termasuk orang-orang yang mengada-adakan. (Shad 38:86)

    Atau kamu meminta upah kepada mereka?", maka upah dari Tuhanmu adalah lebih baik, dan Dia adalah Pemberi rezeki Yang Paling Baik. (Al-Mukminuun 23:72)

    Bahkan juga ditegaskan dalam lima ayat dengan redaksi yang sama berikut:

    dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam (Asy Syu’araa’ 26:109, 127, 145, 164, 180)

  3. Rasul mengajak umatnya untuk menaati, bertakwa, bertasbih dan memohon ampun kepada Allah Tuhan yang kekal, tidak mati dan yang Maha Pengampun, yang memaafkan dosa kesalahan hambaNya (58)

Beberapa Sifat Allah

Ayat selanjutnya menjelaskan lebih rinci mengenai Tuhan Allah yang dimaksud di ayat 58 di atas:

  1. Dialah yang menciptakan langit dan bumi beserta seluruh yang ada di antaranya dalam enam tahap
  2. Dialah yang bersemayam di atas 'Arsy
  3. Dialah yang Maha Pemurah (59)
  4. Dialah yang Maha Penyayang kepada seluruh makhlukNya (60)
  5. Dialah yang menjadikan gugusan bintang di langit, matahari dan bulan yang tampak bercahaya (61)
  6. Dialah yang menjadikan pergantian siang dan malam (62)

Hamba Tuhan yang Maha Penyayang ('Ibadurrahman)

Allah menyebutkan kelompok hambaNya yang memiliki kualifikasi khusus. Mereka ini bak kelompok manusia istimewa yang sangat dicintai Allah, sehingga tidak lagi disebut sebagai hamba Allah, melainkan diberi sebutan hamba Tuhan yang Maha Penyayang - _Ibadurrahman. Di sini, seakan Allah rela melekatkan salah satu sifat ketuhanan-Nya: Ar-Rahman - Maha Penyayang - kepada kelompok hamba yang satu ini.

Mereka ini disebutkan memiliki karakteristik sebagai berikut:

  1. Rendah hati, sebagaimana nasehat Luqman kepada anaknya:

    Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. (Luqman 31:18)

  2. Menjaga ucapannya, sabar dan tetap menjaga perkataan yang baik ketika menghadapi ucapan buruk dari orang-orang jahil (63)

    Mereka itu diberi pahala dua kali disebabkan kesabaran mereka, dan mereka menolak kejahatan dengan kebaikan, dan sebagian dari apa yang telah Kami rezekikan kepada mereka, mereka nafkahkan. (Al-Qasas 28:54)

  3. Mendirikan sholat malam, melewatkan malam hari dengan bersujud dan mengingat Allah (64). Di ayat lain disebutkan ini sebagai salah satu ciri orang bertakwa:

    Di dunia mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam. Dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum fajar. (Az-Zariyat 51:17-18

    Di ayat yang lain ini diterangkan sebagai salah satu ciri orang yang sangat meyakini ayat-ayat Allah:

    Sesungguhnya orang yang benar-benar percaya kepada ayat-ayat Kami adalah mereka yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat itu mereka segera bersujud seraya bertasbih dan memuji Rabbnya, dan lagi pula mereka tidaklah sombong. Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan rezeki yang Kami berikan. (As-Sajdah 32:15-16)

  4. Takut kepada azab Allah. Mereka berdoa, "Ya Tuhan kami, jauhkan azab jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal" (65-66).

  5. Proporsional dan adil dalam berinfak, tidak berlebihan dan tidak pula kikir (67), sebagaimana perintah Allah di ayat lain:

    Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal. (Al-Isra' 17:29)

  6. Menjaga diri dari tiga dosa besar berikut (68):

    • Menyembah tuhan yang lain beserta Allah
    • Membunuh tidak dengan (alasan) yang benar
    • Berzina
  7. Segera bertaubat dan mengerjakan amal saleh bila terjerumus melakukan perbuatan dosa (71). Allah selalu mengampuni dosa hambaNya yang bertaubat:

    Katakanlah, "Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Az-Zumar 39:53)

    Di ayat lain disebutkan pula:
    Perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan (Hud 11:114)

    Nabi SAW pun menguatkannya dalam hadits berikut:
    "Ikutilah amal buruk itu dengan amal baik, karena amal baik itu dapat menghapusnya." (HR Imam Ahmad, at-Tarmidzi dan al-Baihaqi)

  8. Menjauhi persaksian palsu atau berbicara dusta.

  9. Menjauhkan diri dengan tetap menjaga kehormatan dari berkumpul dengan orang-orang yang melakukan hal yang tidak bermanfaat (72). Ini juga dinyatakan di ayat berikut:

    Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling daripadanya dan mereka berkata, "Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil". (Al-Qasas 28:55)

  10. Segera introspeksi diri bila diperingatkan melalui ayat- ayat Allah (73). Di ayat lain disebutkan bahwa ini adalah ciri dari mereka yang diberi hikmah dan nikmat Allah:

    ...Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al Quran dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, dan mereka berkata, "Maha Suci Tuhan kami, sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi." Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu'. (Al Isra' 17:107-109)

    Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis. (Maryam 19:58)

  11. Mengusahakan dengan sekuat tenaga agar keluarganya menaati dan bertakwa kepada Allah, tidak membiarkannya terjerumus ke dalam dosa sehingga mereka menjadi pemimpin bagi anak dan istrinya yang bertakwa (Tafsir Ath-Thabari). Mereka berdoa, "Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa." (74). Atau dengan kata lain, mereka bermohon:

    "Ya Allah jadikan keluargaku seluruhnya menjadi hambaMu yang bertakwa serta jadikan aku menjadi pemimpin bagi mereka - yakni istri dan anak-anakku yang telah menaati dan bertakwa kepadaMu."

Maka, mereka yang memiliki 11 ciri di atas inilah yang akan mendapat kehormatan dan martabat yang tinggi kelak di dalam surga yang kekal (75-76).

Terakhir, surah Al-Furqan ini ditutup dengan ancaman kepada orang Musyrik sebagai kontras dengan kelompok istimewa di atas, yakni seluruh amal ibadah mereka akan hampa, sia-sia disebabkan ingkarnya mereka kepada risalah Allah melalui para Rasul (77).

Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Referensi tafsir klik di sini.