Diriwayatkan dari Salman Al Farisi RA, bhw Nabi SAW didatangi Uyainah bin Hishn dan Aqra’ bin Habis beserta pengikutnya, seraya berkata, “Wahai Rasulullah, jika kamu bersedia duduk di depan majelis dan menyingkirkan mereka serta bau pakaian mereka (maksudnya Salman Al Farisi, Abu Dzar Al Ghifari dan kaum muslimin yang miskin saat itu), maka kami pasti akan duduk bersamamu, berbicara dan menimba ilmu darimu.” Kemudian turunlah ayat 27-29 yang mencela perkataan mereka dan memerintahkan bbrp hal kpd Rasulullah sbb:

Amanah dlm Menyampaikan Al Quran

Allah memerintahkan Nabi SAW utk menyampaikan ayat2 Al Quran sebagaimana yang diwahyukan Allah kpd beliau sesuai aslinya (27). Dikatakan, bhw tdk ada seorang pun yang bisa mengubah Al Quran krn Allah sendiri yang menjaganya, sbgmn dijelaskan di ayat berikut:

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya (Al Hijr 15:9)

Secara umum, Allah memerintahkan kita menyampaikan ayat2 Al Quran secara apa adanya, sesuai dg konteks dan maknanya, mengambil hikmah dan pelajaran dari kisah2nya dan mempelajari prinsip2 yang dijelaskan di dalamnya. Mempelajari asbabun nuzulnya, ayat2 terkaitnya,
hadits2 pendukungnya serta pendapat para ulama terdahulu thd kandungan suatu ayat; serta tdk menjadikan ayat2 Al Quran sbg pembenaran atas argumen atau pendapat (keinginan) kita shg menyimpang / berbeda dg konteks asal ayat tersebut.

Bersabar dlm Menghadapi Orang Kafir

Dalam menghadapi orang kafir (khususnya peristiwa di atas yg menjadi sebab turunnya ayat), Allah memerintahkan Nabi SAW tiga hal (28):

  1. Berkumpul bersama kelompok yang banyak mengingat Allah krn mengharap ridha Allah
  2. Tidak terpengaruh oleh mereka (org kafir) shg meninggalkan kelompok yang banyak berdzikir tsb demi mencari keuntungan duniawi
  3. Tidak mengikuti orang yang melampaui batas, yakni mereka yg cinta dunia (lalai dari mengingat Allah) dan menuruti hawa nafsu

Keinginan untuk Beriman atau Kafir

Kemudian Nabi SAW diperintahkan untuk menegaskan bhw hidayah Allah sebenarnya terbuka, accessible bagi seluruh manusia. Tinggal terserah manusia utk memilih (free will) apakah dia akan beriman atau dia menjadi kafir. Namun apa pun pilihannya, manusia tdk dapat memilih konsekuensi pilihannya krn sudah ditetapkan oleh Allah SWT, yakni neraka bagi yang memilih kafir (29) dan surga bagi yang memilih beriman dan beramal saleh (30-31).

Perumpamaan Sikap Kufur Nikmat

Di ayat 32-44 Allah menjelaskan perumpamaan sikap manusia thd dunia, dalam bentuk dialog antara org yang kafir dg orang yang beriman. Menurut Ibnu Abbas, cerita ini adalah mengenai 2 org bersaudara di kalangan Bani Israil. Keduanya menerima warisan masing2 mendapat 4000 dinar. Saudara yang kafir membeli tanah ladang dan perkebunan, sedangkan yg beriman menggunakannya di jalan kebaikan.

Org kafir di sini adalah perumpamaan sikap hati mereka yang memilih kafir (spt yg dijelaskan di ayat 30-31 sebelumnya), kufur terhadap kenikmatan dunia. Sedangkan org beriman adalah perumpamaan teguran Allah kpd hambaNya yg kufur nikmat ini.

Orang yang kafir digambarkan menerima karunia Allah dlm bentuk dua kebun anggur yang subur yang dikeliliingi oleh pohon kurma dan dipisahkan oleh ladang (32). Kedua kebun tsb sangat subur, seakan tdk pernah berhenti menghasilkan buah dan dialiri sungai yang ‘menjamin’ pasokan air bagi pohon2 di kebun tsb (33).

Kebun di sini menggambarkan nikmat Allah dlm bentuk harta berlimpah yg dicurahkan kpd org yg kafir tsb. Bisnisnya yang menggurita, sedemikian besarnya shg secara logika keuntungannya tdk akan terpengaruh oleh situasi perekonomian apa pun, krn banyaknya ‘sungai-sungai’, pos-pos investasi dan unit2 usaha yang mampu menjaga cashflow dlm situasi sulit sekali pun.

Kemudian digambarkan bgmn paradigma orang kafir thd harta yang dia miliki:

*“Hartaku lebih banyak dari hartamu, dan pengikut-pengikutku lebih kuat.”*Merasa lebih tinggi dan lebih mulia daripada orang lain (34)

*“Aku kira kebun ini tdk akan binasa selama-lamanya.”*Merasa bhw harta yang dimilikinya akan abadi dan tdk mungkin hilang / habis (35)

*”Aku tdk mengira kiamat itu akan datang.”*Tidak percaya akan adanya akhirat yang mengadili seadil-adilnya setiap manusia dari amalnya, bukan dari harta atau kedudukannya di dunia (36)

*”Jika sekiranya aku kembali kpd Tuhanku, pasti aku mendapat tempat kembali yang lebih baik daripada kebun2 tsb.”*Merasa yakin bhw dirinya adalah hamba pilihan Tuhan yang mulia, pasti dimuliakan di akhirat sbgmn Tuhan telah memuliakannya di dunia (36)

Allah kemudian menegur hambaNya yang kufur nikmat ini dlm bentuk perkataan saudaranya yg beriman pada ayat 37-41:

”Apakah kamu kafir kepada (Tuhan) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna?”

-> Apakah kamu lupa akan asal-usulmu dari sesuatu yang sangat hina dan kemudian Allah menjadikannya tumbuh kembang menjadi laki-laki yang sempurna? (37)

“Tetapi aku (percaya bahwa), Dialah Allah, Tuhanku, dan aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku.”

-> Padahal Dia lah Allah Dzat yang Maha Menentukan nasibmu di akhirat, dan yang menjadi Awal dan Akhir segalanya, termasuk kesudahan harta dan hidupmu di dunia. Hanya Dia lah Dzat yang Esa, yang patut disembah (38)

“Dan mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu ‘maasyaallaah, laa quwwata illaa billaah’ (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah).”

-> Mengapa kamu melupakan Dia yang menciptakan segala sesuatunya, yang memberi karunia thd dirimu dan mengangkatmu dari kehinaan menjadi terhormat dan sempurna? (39)

”Mudah-mudahan Tuhanku akan memberi kepadaku (kebun) yang lebih baik dari pada kebunmu (ini)

-> Maka sebenarnya amat mudah bagi Allah membalikkan keadaan hambaNya, menggilir kehinaan dan kemuliaan pada hambaNya (40)

”Mudah-mudahan Dia mengirimkan ketentuan (petir) dari langit kepada kebunmu; hingga (kebun itu) menjadi tanah yang licin atau airnya menjadi surut ke dalam tanah, maka sekali-kali kamu tidak dapat menemukannya lagi.”

-> Dan amat mudah pula bagi Allah menurunkan siksaNya, mencabut karuniaNya dlm waktu sekejap (40-41)

“Dan harta kekayaannya dibinasakan; lalu ia membulak-balikkan kedua tangannya (tanda menyesal) terhadap apa yang ia telah belanjakan untuk itu, sedang pohon anggur itu roboh bersama para-paranya dan dia berkata, ‘Aduhai kiranya dulu aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku.’”

-> Dan setelah semua binasa, membiarkan dirimu menyesali krn mempersekutukan Allah dg harta dan kesuksesanmu di dunia (42)

”Dan tidak ada seorang pun yang akan menolongnya selain Allah; dan sekali-kali ia tidak dapat membela dirinya.”

-> Maka kalau azab Allah telah datang, tdk ada satu pun yang bisa menolongmu, bahkan termasuk dirimu sendiri, kecuali Allah semata (43)

”Di sana pertolongan itu hanya dari Allah Yang Hak. Dia adalah sebaik-baik Pemberi pahala dan sebaik-baik Pemberi balasan.”

-> Ingatlah bhw pertolongan yang riil, yang sejati itu hanya pertolongan dari Allah, Tuhan yang juga Maha Pemurah yang memberi balasan amal hambaNya dg balasan yang lebih baik (44)

Masih terkait dg kufur nikmat, di ayat lain diceritakan juga kisah sbb:

Sesungguhnya Kami telah mencobai mereka sebagaimana Kami telah mencobai pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah bahwa mereka sungguh-sungguh akan memetik (hasil)nya di pagi hari, dan mereka tidak menyisihkan (hak fakir miskin), lalu kebun itu diliputi malapetaka (yang datang) dari Tuhanmu ketika mereka sedang tidur, maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita (hangus tinggal arang krn terbakar)

Seperti itulah azab (dunia). Dan sesungguhnya azab akhirat lebih besar jika mereka mengetahui (Al Qalam 68:17-33)

Perumpamaan Kehidupan Dunia

Di ayat 45, Allah menjelaskan summary perumpamaan kehidupan dunia (spt penjelasan pada ayat 32-44 di atas), sbg sesuatu yang tampak indah dan hebat krn hasil usaha yang dilakukan (sedikit demi sedikit) oleh manusia. Namun demikian sebenarnya amat mudah bagi Allah untuk melenyapkannya dlm waktu singkat spt peribahasa “Hilang kemarau setahun oleh hujan sehari.”

Di ayat lain, dijelaskan juga sbb:

Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dan langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, dan pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanam-tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang berfikir. (Yunus 10:24)

Terakhir, Allah mengingatkan bhw perhiasan dunia spt harta dan anak keturunan adalah fana, pasti akan habis atau meninggal pada waktunya. Kita diperintahkan utk kreatif mencari amalan2 saleh krn sifatnya kekal dan mendapat balasan pahala yang lebih baik dari Allah kelak di akhirat (46).

Mengenai bbrp amal saleh yang kekal ini, di dalam salah satu hadits Nabi SAW bersabda,

”Perbanyaklah amalan yang kekal dan saleh (al-baaqiyaat ash-shalihaat)”. Seseorang bertanya, “Apa itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Yaitu bacaan takbir, tahlil, tasbih, tahmid dan walaa hawla walaa quwwata illa billah” (HR Sa’id bin Manshur, Ahmad, Ibnu Jarir, Ibnu Murdawaih dan Hakim)

Maha Benar Allah dg segala firmanNya.

Wallahu a’lam bishawab