Kisah Zulkarnain dan Ya’juj – Ma’juj

Tdk ada pendapat yg kuat, mengenai siapa sebenarnya Zulkarnain ini. Para mufasir sepakat, bahwa Zulkarnain adalah sosok yang saleh, bukan Nabi atau pun Rasul.

Kisah Zulkarnain adalah kisah seorang hamba Allah yang saleh, yang diberi amanah kekuasaan militer dan daerah teritorial yang sangat luas. Kalau di ayat2 sebelumnya Khidir dikatakan sbg manusia yang menerima ilmu langsung dari Allah, maka di ayat 84, Zulkarnain disebut sbg manusia yang Allah memberikan kpdnya jalan untuk mencapai segala sesuatu, Allah memberi kemudahan utk mendapatkan segala yang diinginkannya, termasuk ilmu pengetahuan, kekuasaannya yang luas.

Diceritakan Zulkarnain menempuh perjalanan ke barat dan timur. Ketika Zulkarnain bertemu dg suatu kaum, Allah memberinya kebebasan dg berfirman kpdnya, “Hai Zulkarnain, kamu boleh menyiksa mereka atau berbuat baik kpd mereka.” (86). Kemudian Zulkarnain memberi jawaban yang mencerminkan prinsip Zulkarnain sbg wakil Allah, khalifah di bumi, yakni:

  1. Memerangi kaum yang zalim sbg azab atas mereka (di dunia) sebelum mereka menerima azab dari Allah di akhirat (87)
  2. Memberi keringanan dan kemudahan bagi kaum yang beriman dan beramal saleh (88)

Kemudian diceritakan Zulkarnain bertemu dg suatu kaum yang berada di dekat 2 gunung (92-93). Mereka meminta pertolongan agar dibuatkan dinding yang dapat melindungi mereka dari Ya’juj dan Ma’juj dengan bayaran tertentu kpd Zulkarnain (95). Diceritakan, bangsa Ya’juj dan Ma’juj ini selalu membuat kerusakan, merampas, membunuh, tidak membiarkan tanaman hijau kecuali memakannya, tdk membiarkan tanaman kering kecuali membawanya, bahkan bbrp mufasir berpendapat mereka juga memakan manusia.

Zulkarnain menjawab, dia hanya membutuhkan bantuan tenaga, alat2 dan material besi dari mereka, serta menolak bayaran yg ditawarkan dg menjawab, “Apa yang telah diamanahkan Tuhanku kepadaku adalah lebih baik” (95). Redaksi yang sama juga dikatakan oleh Nabi Sulaiman as ketika menerima hadiah dari Ratu Bilqis:

Maka tatkala utusan itu sampai kepada Sulaiman, Sulaiman berkata, “Apakah (patut) kamu menolong aku dengan harta? Apa yang diberikan Allah kepadaku lebih baik daripada apa yang diberikan-Nya kepadamu; tetapi kamu merasa bangga dengan hadiahmu. (An Naml 27:36)

Zulkarnain dan penduduk di sana kemudian membangun dinding yang sangat tinggi dan tebal (spt bendungan) yang menutup lembah di antara dua puncak gunung. Sebagian sejarawan abad 15 meneliti dan menemukan, dinding ini terletak di daerah pertemuan Samarkand dan India, yang dikenal sbg “Pintu Besi” (Bab al-Hadiid).

Setelah dinding tsb selesai dibangun, menarik diperhatikan bgmn redaksi kata2 Zulkarnain. Di tengah suka-cita keberhasilan membangun dinding besi yang tebal dan setinggi puncak gunung, Zulkarnain tetap mengembalikan semuanya kpd Allah dan tidak sedikit pun menyebutkan peran dirinya, dg mengatakan kpd mereka, ”Ini (dinding) adalah rahmat dari Tuhanku.” Zulkarnain menegaskan bhw perannya dlm menyelesaikan pekerjaan besar tsb tdk lain hanya perpanjangan kekuasaan dan rahmat Allah semata kpd mereka (kaum yang meminta pertolongan kpd Zulkarnain). Kemudian Zulkarnain juga menjelaskan, bhw Allah akan menghancurkan dinding tsb menjelang hari kiamat (98).

Balasan bagi orang Kafir dan orang Beriman

Allah menjelaskan balasan neraka Jahannam bagi orang kafir (100), yang diterangkan memiliki ciri2 sbb:

  1. Mata mereka tertutup dari memperhatikan tanda2 kebesaran Allah (101). Mereka tdk tertarik merenungi tanda2 kekuasaan Allah yang tersebar tampak di dalam diri mereka dan di alam semesta. Di ayat lain disebutkan juga,

Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya tanpa hikmah. Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka. (Shaad 38:27)

Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan? (Adz Dzariyat 51:20-21)
2. Telinga mereka tidak mampu mendengar kebenaran (101), sbgmn digambarkan juga di ayat lain:

Mereka berkata, “Hati kami berada dalam tutupan (yang menutupi) apa yang kamu seru kami kepadanya dan telinga kami ada sumbatan dan antara kami dan kamu ada dinding, maka bekerjalah kamu; sesungguhnya kami bekerja (pula).” (Fushilat 41:5)
3. Mengambil sesembahan selain Allah, menjadikan makhluk sbg penolong utama mereka (102)
4. Mengingkari thd ayat2 Allah (104)
5. Tidak mempercayai hari Akhirat (105)
6. Mempermainkan, mencemooh ayat2 Allah dan RasulNya (106)

Kepada mereka ini, dijelaskan bhw mereka menyangka sdh melakukan amal yang terbaik, padahal amal mereka sia2 (104), sbgmn digambarkan di ayat berikut:

Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan. (Al Furqaan 25:22)

Allah menjelaskan detail bagaimana sia-sianya amal mereka ini sbb (105):

  • Allah menghapus semua pahala amal kebaikan mereka (yang sempat tercatat ketika mereka beriman sebelumnya)
  • Allah tdk mencatat amal mereka sbg pahala (sejak mereka menjadi kafir)

Allah kemudian memberikan kontras orang kafir di atas dg orang yang beriman dan beramal saleh. Mereka akan tinggal di surga Firdaus (107), dan kekal di dalamnya (108).

Luasnya Ilmu Allah dan Keesaan Allah SWT

Ayat 109 menggambarkan luasnya ilmu Allah, yang tidak akan cukup dituliskan menggunakan tinta dari seluruh lautan yang ada, pun ditambahkan lagi sebanyak yang sama. Luasnya ilmu Allah ini diterangkan di ayat lain sbb:

Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Luqman 31:27)

Kemudian Allah menjelaskan ketauhidan (110) sbb:

  1. Diutusnya Rasul yang membawa wahyu dan keterangan kpd kita, bhw Tuhan kita adalah Allah yang Maha Esa
  2. Agar kita selamat kembali kpd Allah (kelak di hari kiamat), kita diperintahkan untuk mengerjakan amal saleh dan beriman yang benar (tdk mempersekutukan Allah dg apa pun)

Maha Benar Allah dg segala firmanNya.

Wallahu a’lam bishawab