Kisah Ashabul Kahfi

Ashabul kahfi menceritakan mengenai sekelompok pemuda dan anjing mereka (menurut sebagian riwayat, bernama Raqim) yang melarikan diri dari dari kejaran penguasa zalim saat itu. Mereka bersembunyi di dalam gua dan ditidurkan Allah SWT selama 309 tahun. Menurut sebagian riwayat, raja zalim yg dimaksud adalah Dikyanus (Decius) yang memerintahkan rakyatnya utk menyembah patung dan berhala. Menurut Ibnu Katsir, mereka hidup sebelum munculnya agama Nasrani krn para rahib Yahudi sangat hafal dan memberi perhatian thd kisah ini.

Kisah ini dibuka dengan penegasan Allah, bhw peristiwa Ashabul Kahfi yang menakjubkan ini hanya salah satu tanda kekuasaanNya. Implisit di sini, Allah berpesan, kalau saja kita mau mentadabburi kekuasaan Allah, maka akan tampak banyak hal yang jauh lebih menakjubkan daripada peristiwa ini (9), spt penciptaan langit dan bumi dg segala isinya yg sempurna di ayat berikut:

Maka apakah mereka tidak melihat akan langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasinya dan langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikitpun. Dan Kami hamparkan bumi itu dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata, untuk menjadi pelajaran dan peringatan bagi tiap-tiap hamba yang kembali (mengingat Allah). (Qaaf 50:6-8)

Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?

Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah. (Al Mulk 67:3-4)

Kemudian diceritakan bgmn para pemuda ini masuk ke dalam gua krn ketakutan, dg berdoa agar mereka dijaga, disempurnakan keimanannya agar tdk goyah krn hukuman yang mereka terima kalau tertangkap.

رَبَّنَا آتِنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا

“Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini).” (Al Kahfi 18:10)

Diceritakan, para pemuda ini ditangkap dan dihadapkan ke Raja Dikyanus. Keteguhan hati mereka digambarkan pada jawaban mereka thd seruan Raja di ayat 14 berikut:

Dan Kami meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri lalu mereka pun berkata, “Tuhan kami adalah Tuhan seluruh langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran.” (Al Kahfi 18:14)

Menarik kita perhatikan struktur kata2 mereka pada ayat 14 di atas:

  1. ”Tuhan kami adalah Tuhan seluruh langit dan bumi.” Ini adalah gambaran Tauhid Uluhiyyah, yang mana sama2 diakui oleh para penyembah berhala, sbgmn ditegaskan juga di ayat lain:

Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka, “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” Tentu mereka akan menjawab, “Allah.” Katakanlah,“Segala puji bagi Allah”; tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. (Luqman 31:25)
2. ”kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia.” ini adalah gambaran Tauhid Rububiyah, dan inilah yang ditolak oleh para penyembah berhala. Di ayat lain, disebutkan salah satu alasan mereka menyembah berhala adalah sbg jalan/media mereka menyembah Allah, yang mana tetap dianggap sbg perbuatan syirik.

Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata), “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar. (Az Zumar 39:3)

Raja Dikyanus akhirnya melepas mereka, dan memberi mereka waktu berpikir agar mau mengikuti penyembahan patung dan berhala.

Di ayat 16, diceritakan bhw mereka akhirnya sepakat utk melarikan diri dan bersembunyi ke dlm gua. Allah pun menidurkan mereka, dan menggeser peredaran matahari agar lokasi tidur mereka tetap gelap (17). Di akhir ayat 17 ini, Allah menegaskan bhw hidayahNya berlaku bagi siapa saja, terlepas dari usia (spt muda), tempat (spt di tengah masyarakat yang kafir) dan juga tanpa kehadiran Rasul spt yang dialami oleh para pemuda ini.

Setelah tertidur selama 309 tahun (25), mereka bangun dari tidur dan mengutus salah seorg utk ke kota membeli makanan (19-20), sehingga akhirnya kejadian mereka ini diketahui org banyak dan penduduk kota tsb mendirikan masjid di atas gua tsb.

Allah kemudian menegaskan agar kita jgn mempersoalkan mengenai jumlah org dan anjingnya (spt yang dilakukan oleh umat Yahudi dan Nasrani), ttp mengambil pelajaran dari kisah mereka:

  • Kekuasaan Allah sebenarnya sangat banyak, Ashabul Kahfi ini hanya salah satunya (9)
  • Allah selalu menolong hambaNya yg beriman (10-22)
  • Kekuasaan Allah meliputi konsep waktu, dimana kita diperintahkan utk mengucapkan “Insya Allah” setiap kali berniat akan mengerjakan sesuatu di masa depan (23-24)

Kisah Ashabul Kahfi ini ditutup dengan penegasan bhw Allah lah satu2nya Dzat yang tahu persis berapa lama mereka tinggal di dalam gua – sama halnya dg Dia yang Maha Mengetahui semua yang tersembunyi di langit dan di bumi (Al ‘Aliim dan Al Lathiif), PenglihatanNya sangat terang (Al Bashir), PendengaranNya sangat tajam (As Sami’), dan Dia menjadi pelindung bagi hamba2Nya (Al Wali) serta Dia memiliki kehendak yang independen dlm memutuskan segala sesuatu (Al Qayyum) (26)

Maha Benar Allah dg segala firmanNya.

Wallahu a’lam bishawab