Masih melanjutkan perilaku org musyrik yg mengharamkan 4 jenis hewan krn sdh tradisi, ayat 104 menjelaskan penolakan mereka thd syariat Allah dg mengatakan, “Cukuplah apa yg diajarkan oleh orangtua dan nenek moyang kami terdahulu”.

Secara umum, Allah kemudian memerintahkan kpd kita – org beriman utk menjaga diri dg saling menasihati sesama org beriman dlm melaksanakan ketaatan kpd Allah agar tdk terpengaruh oleh tradisi kaum musyrik (105). Dalam salah satu hadits diriwayatkan, ketika Rasulullah ditanya makna ayat ini, beliau berkata,

Jika manusia melihat sebuah kemungkaran ttp tdk mau mengubahnya, maka Allah hampir saja meratakan siksaNya kpd mereka semua (HR Imam Ahmad)

Ayat 106-108 menjelaskan bbrp hukum mengenai kesaksian dan wasiat:

  • Anjuran utk berwasiat baik dlm perjalanan maupun tidak
  • Menghadirkan saksi dlm berwasiat
  • 2 org saksi harus muslim dan adil
  • Non muslim dibolehkan dlm kondisi darurat dan dibutuhkan
  • Dibolehkannya menahan org yg memiliki kewajiban menunaikan sebuah hak (spt krn utang dan qishash)
  • Diperbolehkannya pelapor membela diri atau mendapatkan haknya dg bersumpah
  • Dlm masalah warisan, ahli waris yang paling berhak diterima sumpah/kesaksiannya adalah yg paling dekat hubungannya dg si mayat.

Pertanggungjawaban Rasul kpd Allah

Ayat 109 menjelaskan adanya sesi tanya jawab antara Allah dg para RasulNya, mengenai apa yg sdh mereka sampaikan dan bagaimana hasil dakwah mereka. Hal ini dijelaskan di bbrp ayat lain:

Maka sesungguhnya Kami akan menanyai umat-umat yang telah diutus rasul-rasul kepada mereka dan sesungguhnya Kami akan menanyai (pula) rasul-rasul (Kami) (Al A’raaf 7:6)

Salah satu dialog nya adalah ketika Allah bertanya kpd nabi Isa as di ayat 116:

Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia, “Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?” Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakan maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib”. (Al Maaidah 5:116)

Mukjizat Nabi Isa as

Allah kemudian menerangkan bbrp mukjizat Nabi Isa as (110-111):

  • Berbicara ketika masih bayi
  • Menerima hikmah, Taurat dan Injil
  • Membuat burung hidup dari tanah liat
  • Menyembuhkan org yg buta sejak lahir
  • Menyembuhkan sakit kusta
  • Menghidupkan org mati
  • Diselamatkan dari kepungan Bani Israil yg ingin membunuh beliau

Menurut riwayat, banyaknya mukjizat Nabi Isa terkait dg kesehatan dan kematian adalah utk mengungguli ilmu kedokteran yg pada saat sedang berkembang.

Peristiwa Al Maaidah

Ayat 113-115 menceritakan kisah permintaan pengikut Isa as (Al Hawariyyun) untuk diturunkan hidangan dari langit untuk menambah keimanan dan agar hati mereka tenang (mantap).

Permintaan ini sebenarnya kurang pantas krn seperti meragukan Allah dan Nabi Isa, padahal mereka sdh bbrp kali menyaksikan mukjizat Isa as sebelumnya dan ini permintaan yg mirip diminta kpd Nabi Musa as (manna-salwa). Ttp krn didesak akhirnya Nabi Isa pun berdoa dan dikabulkan oleh Allah dg syarat, siapa yg masih kafir setelah itu (turunnya hidangan), maka sungguh Allah akan mengazabnya dengan azab yang tdk pernah Allah timpakan kpd seorang pun di antara umat manusia (seluruh alam)

Para mufasir spt ar-Razi, Zamakhsari, Thabari, dan Ibnu Katsir banyak berpendapat mengenai detail peristiwa ini. Spt diturunkan sekaligus dg mejanya, dengan penutup kain warna merah dan terjadi pada hari minggu serta diperingati sbg hari raya setelah mereka berpuasa 30 hari.

Dalam sebuah hadits yg disebutkan oleh Imam as-Suyuthi, hidangan itu turun dari langit berupa roti dan daging ikan. Mereka diperintahkan utk tdk berbuat khianat atau menyimpannya untuk besok. Lalu mereka melanggarnya shg mereka diubah menjadi kera dan babi. Wallahu a’lam.

Maha Benar Allah dg segala firmanNya.