Kafirnya Nasrani dan Yahudi

Masih terkait dg kaum Nasrani, Allah memasukkan mereka ke dalam golongan kafir karena menyamakan Allah dg Nabi Isa. Di pertengahan ayat sampai akhir, Allah kemudian menerangkan betapa tdk pantasnya seorg manusia (Isa as) disamakan kedudukannya dg Tuhan yg Maha Kuasa atas segala sesuatu, Maha Mencipta, yang memiliki kerajaan langit dan bumi serta mengurusi segala yg ada di antara langit dan bumi (17).

Ayat selanjutnya menjelaskan kesalahan klaim kaum Yahudi dan Nasrani yg menganggap diri mereka suci, anak-anak Allah dan kekasih-Nya yang pasti masuk surga (spt disebutkan di dlm Injil Matius 5:9, Lukas 20:36, Yohanes 11:52).

Yesus tidak mati hanya untuk bangsa Yahudi, tetapi juga untuk anak-anak Allah yang berserak di seluruh dunia. Yesus mati untuk mengumpulkan dan mempersatukan mereka. (Yohanes 11:52)

Ditegaskan bhw kaum Yahudi ini di hadapan Allah sama dg yg lain, manusia biasa yg tdk bebas neraka krn dosa mereka, dan pada Allah lah hak prerogatif utk mengampuni atau membiarkan mereka dihukum sesuai dg perbuatannya (18).

Allah selanjutnya menunjukkan keadilan rule of the game yg ditetapkan bagi hambaNya, dlm hal ini kaum ahli kitab. Yaitu Diutusnya bbrp org rasul kpd mereka yg menjelaskan risalahNya sebelum diberikan sanksi atas ingkarnya mereka atas seruan para rasul tsb (agar kamu tidak mengatakan, “Tidak ada yg datang kpd kami pembawa berita gembira ataupun pemberi peringatan”) (19)

Ayat 19 ini kembali menegaskan akan 2 tugas utama para rasul, yakni:

  1. Menyampaikan kabar gembira, informasi jalan yg lurus, cara2 ibadah dan jalan ketaatan kpd Dzat yang Maha Menguasai segala sesuatu. Juga berita gembira mengenai balasan yg besar serta keberkahan bagi mereka yg menaati risalahNya.
  2. Menyampaikan peringatan akan nikmat Allah selama ini, dan konsekuensi kalau mereka ingkar thd perintah dan laranganNya

Ayat 20 menerangkan contoh peringatan yg disampaikan oleh Nabi Musa ketika dia berkata, “Hai kaumku, ingatlah akan nikmat Allah atasmu”, yakni nikmat krn Allah telah memberi banyak keistimewaan kpd Bani Israel (spt diutusnya bbrp nabi dan rasul, diselamatkan dari Firaun, makanan turun dlm bentuk manna dan salwa dll).

Sedangkan ayat 21 menjelaskan contoh kabar gembira kpd umat Musa dlm bentuk perintah memasuki dan menetap di tanah yg dijanjikan Allah setelah mereka lama berpindah2 sejak meninggalkan Mesir – dg syarat mereka harus memerangi dulu suku yg saat itu menguasai daerah tsb. Lokasi tanah yg dijanjikan ini tdk diketahui persis. Bbrp pendapat mufasir mengatakan ada di Sinai, Jericho, Syiria, Palestina, Yordan dan antara sungai Nil dan Efrat.

Umat Musa waktu itu akhirnya menolak perintah Allah tsb disebabkan mereka tdk mau berperang (22). Diceritakan juga ada 2 org yg mau mengikuti perintah Allah ini dan membujuk kaum Musa utk mau berperang krn Allah menjamin kemenangan selama mereka menjaga iman dan tawakal kpd Allah yang juga tdk diacuhkan oleh Bani Israil saat itu (23).
Bbrp mufasir spt ar-Razi, Thabari, Tha’labi dan Zamakhsari berpendapat mereka ini bernama Joshua dan Caleb yg disebut di dalam cerita Injil.

Sikap ingkar ini makin menjadi sampai mereka malah meminta agar Musa berdua bersama Tuhannya saja yg berperang sementara mereka tinggal duduk menunggu hasilnya (24).

Saat itu Musa dlm keadaan frustrasi akhirnya memohon pertolongan kpd Allah atas kaumnya yg sangat ingkar dan fasik ini (25). Allah kemudian melarang Bani Israil memasuki tanah suci tsb selama 40 tahun sbg hukuman atas sikap fasik dan ingkar mereka kpd perintah Allah (26).

Kisah Habil dan Qabil

Allah menceritakan kisah Habil Qabil sbg analogi perbandingan sikap:

  • Habil = Mereka yg bertakwa dan memenuhi perjanjian dg Allah
  • Qabil = Mereka yg fasik, khianat thd perjanjian dg Allah, enggan mengikhlaskan hati utk taat dan mau gampangnya saja (spt kaum Musa di ayat sebelumnya). Bbrp mufasir juga menganalogikan Qabil sbg kaum Yahudi dan Musyrik yg merencanakan pembunuhan thd Rasulullah sbgmana diceritakan di ayat 11 sebelumnya (ODOP kemarin).

Menurut riwayat, Adam memerintahkan Habil dan Qabil utk melaksanakan qurban (Habil berupa hewan ternak, Qabil berupa hasil kebun) sbg ujian mereka utk mendekatkan diri kpd Allah. Diceritakan akhirnya qurban Habil diterima Allah krn keikhlasan, kesungguhan melaksanakan ketaatan sebaik mungkin (memilih hewan yg paling baik utk qurban) sedangkan qurban Qabil tdk diterima Allah (27).

Qabil dikisahkan sudah lama ingin membunuh Habil krn Habil dipilihkan (oleh Adam melalui wahyu Allah) istri yg lebih cantik daripada yg dipilihkan utk Qabil, jauh hari sebelum peristiwa qurban di atas. Diancam spt ini, Habil menolak melawan krn khawatir berbalik dia yg membunuh Habil dg mengatakan, “Kalau kamu membunuhku, aku sekali2 tdk akan melawan krn aku sangat takut kpd Allah. Sementara kamu masuk neraka krn amal kamu dan dosa pembunuhan ini” (28-29).

Hingga akhirnya terjadilah pembunuhan pertama umat manusia, Qabil membunuh Habil (dlm riwayat disebutkan Qabil membunuh Habil ketika sedang tidur). Al Quran di sini menggunakan redaksi, “Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya mudah membunuh saudaranya” yg menunjukkan pembunuhan ini khilaf dilakukan Qabil krn terbawa nafsu amarah dan kedengkiannya yg memuncak thd Habil (30). Menurut bbrp mufasir, Nabi Adam setelah itu tidak lagi mau tersenyum krn kecewa dan sedihnya.

Allah kemudian mengajarkan cara penguburan melalui contoh burung gagak yg dilihat Qabil (31). Menarik di sini, ternyata Allah tdk segan memberi pengajaran cara menguburkan melalui hambaNya (Qabil) yg berdosa kemudian menyesal.

Besarnya penyesalan Qabil ini digambarkan dlm Al Quran dg menggunakan kata “waylati” utk Qabil dimana akar kata yg sama digunakan juga di ayat2 lain sbg ekspresi penyesalan amat besar kaum kafir di akhirat ketika mereka melihat azab neraka di depan mata.

قَالُوا يَا وَيْلَنَا إِنَّا كُنَّا ظَالِمِينَ

Mereka berkata, “Aduhai, celaka kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zaIim”. (Al Anbiyaa 21:14)

يَا وَيْلَتَىٰ لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا

Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulan itu teman akrab(ku). (Al Furqan 25:28)

وَقَالُوا يَا وَيْلَنَا هَٰذَا يَوْمُ الدِّينِ

Dan mereka berkata, “Aduhai celakalah kita!” Inilah hari pembalasan. (As Shafat 37:20)

Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.

Wallahu a’lam