Hukum Haram Halal terkait Judi, Makanan dan Minuman (1)

Ayat 90 membuka bahasan dg larangan sbb:

  1. Haramnya minum khamr
  2. Haramnya berjudi
  3. Haramnya berkurban utk sesajen / persembahan berhala
  4. Haramnya mengundi nasib dg panah (atau yg mirip dg ini)

Terkait dg khamr, ayat ini menjelaskan tahap terakhir pelarangan khamr (copas dari ODOP sebelumnya):

Pentahapan Pelarangan Khamr

Tahap 1: belum diperintahkan haramnya

Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya”. Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: “Yang lebih dari keperluan”. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir, (2:219)

Tahap 2: tdk boleh mabuk kalau sholat

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan (4:43)

Tahap 3: inilah hukum final khamr = haram. Di dalam hadits, disebutkan tetap haram hukumnya, walaupun hanya sedikit.

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. (5:90)

Allah kemudian menjelaskan efek negatif khamr dan berjudi di ayat selanjutnya (91) yaitu:

  1. Menumbuhkan rasa benci dan permusuhan pada pelakunya
  2. Menghalangi, menjauhkan dan membuat sulit pelakunya dari mengingat Allah, tafakur dan mengerjakan sholat

Selanjutnya Allah menegaskan bhw kita sendirilah yg harus berhati2 dan menjalankan ketaatan menghindari larangan Allah krn tugas Rasulullah hanya menyampaikan risalahNya, bukan menjamin kita masuk surga (92).

Allah kemudian menerangkan bhw Dia akan memaafkan segala yg haram2 yg kita makan dan kerjakan (spt judi dll) yang terjadi sebelum kita menerima Islam, selama kita:

  1. Bertakwa, terus berusaha menjaga ketaatan kpd Allah
  2. Beriman, menjaga keimanan, doa dan harapan hanya kpd Allah
  3. Mengerjakan amal soleh dan kebajikan

Di akhir ayat 93, ditekankan bhw mengerjakan ketiga hal di atas harus dilakukan secara konsisten, berulang terus menerus.

Ayat 94, ditegaskan bhw ketaatan kita akan diuji apakah bisa tetap tdk memakan binatang yg diharamkan padahal binatang tsb mudah didapat dan tersedia dimana2 (mudah diburu). Ujian ini dibahasakan dg: “supaya Allah mengetahui org yg takut kepadaNya walaupun org tsb tdk dapat melihat Allah”

Ayat 95 menjelaskan larangan berburu pada saat ihram, berburu di tanah haram – Mekkah dan Madinah – (walaupun tdk sedang ihram), dan menerima atau memakan hasil buruan tsb serta ketentuan denda bila melanggarnya.

Ayat 96 menjelaskan halalnya binatang dan apa pun yg ada di laut utk diolah menjadi makanan yg lezat dan bisa sbg bekal bagi perjalanan (mgkn krn relatif tdk mudah rusak/busuk). Menurut jumhur ulama, ayat ini mengecualikan ikan dan hewan laut lainnya dlm larangan yg disebutkan di ayat 95 sebelumnya.

Dalam salah satu hadits disebutkan,

(air laut) airnya suci dan bangkainya halal (HR Abu Dawud, Tirmidzi, an-Nasa’i, Ibnu Majah, dan Ibnu Abi Syaibah)

Juga disebutkan dlm hadits yg diriwayatkan oleh Bukhari Muslim, Nabi pernah makan daging ikan paus (anbar) yg ditawarkan kpd beliau.

Kedudukan Ka’bah sbg Pusat Ibadah dan Kemakmurannya

Allah kemudian menyebutkan keutamaan Ka’bah sbg rumah suci pusat ibadah dan sbg penyokong kehidupan masyarakat di Mekkah dan sekitarnya, yakni dg adanya bulan haram (bulan diharamkannya berperang), dan hadyu (hewan ternak yg disedekahkan) + qalaid (hewan yg dikalungkan ketika dibawa utk dijadikan sbg hadyu) yang diperuntukkan bagi kaum fakir miskin di sana.

Ayat ini menjelaskan jaminan Allah thd negeri Mekkah yg juga disebutkan di ayat berikut:

Dan apakah mereka tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Kami telah menjadikan (negeri mereka) tanah suci yang aman, sedang manusia sekitarnya saling merampok. Maka mengapa (sesudah nyata kebenaran) mereka masih percaya kepada yang bathil dan ingkar kepada nikmat Allah? (Al Ankabut 29:67)

Hukum Haram Halal terkait Judi, Makanan dan Minuman (2)

Di ayat 98 Allah mengingatkan jangan menganggap enteng dan mudah terhadap keharaman yg disebutkan di ayat2 sebelumnya sebab siksaNya yg amat berat. Tetapi jangan juga membebani diri melewati kemampuan kita krn Dia Maha Pengampun dan Maha Penyayang yang memaafkan dosa2 yang lalu serta mengampuni dosa2 kecil selama kita berusaha menjaga ketakwaan, keimanan, dan beramal soleh serta kebajikan terus menerus.

Kemudian Allah sekali lagi mengingatkan bahwa kita lah yg bertanggung jawab utk menghindari hal2 yg diharamkan Allah. Urusannya adalah diri kita dg Allah SWT, Dzat yg mengetahui apa yg tersembunyi dan yg tampak di dlm diri, bukan dg Rasulullah krn beliau sekedar menyampaikan risalah Allah SWT kpd kita (99).

Ayat 100 menegaskan bhw Allah lebih tahu mana yg baik (halal) dan mana yg buruk (haram) bagi kita, walaupun yg haram itu ada banyak di sekitar kita, mudah ditemukan dimana2.

Kelak akan ditunjukkan mengapa yg dihalalkan itu baik dan yg diharamkan itu buruk (secara ilmiah – orang berakal) shg tampak jelas perbedaannya manfaat dan mudaratnya antara yg dihalalkan dan yg diharamkan.

Akhir ayat 100 disebutkan bhw mereka yg patuh taat thd perintah Allah (takwa) maka mereka beruntung krn selain terhindar dari mudarat yg haram juga diberikan pahala yg besar di sisi Allah.

Larangan Banyak Bertanya dlm Ibadah

Dalam salah satu hadits diceritakan Rasulullah berkhutbah,

“Wahai manusia, Allah telah mewajibkan haji kpd kalian, maka laksanakanlah.” Seseorang bertanya, “Apakah setiap tahun wahai Rasulullah?” Beliau diam, sampai org itu mengucapkan 3x. Lalu Rasulullah berkata, “Kalau aku menjawab iya, maka pasti menjadi wajib. Dan jika diwajibkan, kalian tdk akan mampu.” (HR Muslim).

Menurut sebagian riwayat, kisah di atas adalah asbabun nuzul dari ayat 101.

Ayat ini menjelaskan larangan kpd para sahabat Nabi SAW utk tdk banyak bertanya mengenai hal2 detail kpd Rasulullah, shg beliau ‘terpaksa’ menjawab dan diturunkan ayat hukum mengenai itu, yg pada akhirnya hanya akan menyusahkan umat. Disebutkan pula, bhw Allah memaafkan kekurangan2 kecil dlm beramal, dan mengampuni dosa2 kecil kita krn Dia Maha Pengampun dan Maha Penyantun.

Sikap banyak bertanya ini pernah dilakukan sebelumnya oleh Bani Israil dan pada akhirnya mereka menjadi tdk percaya dan melaksanakannya dg terpaksa krn tata cara syariatnya yg menjadi sulit (102). Bbrp mufasir merujuk kpd kisah sapi betina di surat Al Baqarah 67-71 yg dikatakan hampir2 saja mereka tdk melaksanakannya krn sangat sulit mencari sapi dg kriteria yg ditentukan.

Musa berkata: “Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi tanaman, tidak bercacat, tidak ada belangnya”. Mereka berkata: “Sekarang barulah kamu menerangkan hakikat sapi betina yang sebenarnya”. Kemudian mereka menyembelihnya dan hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah itu. (Al Baqarah 2:71)

Dihalalkannya Hewan yg dlm Tradisi Jahiliah Haram

Ayat 103 menjelaskan bhw perilaku org musyrik yg mengharamkan 4 jenis hewan krn sdh tradisi dan diklaim haramnya krn perintah Allah:

  1. bahiirah : unta yg sengaja dilubangi telinganya jika melahirkan 5 anak dg anak terakhirnya betina.
  2. saaibah : unta yg dilepaskan krn nazar pemiliknya utk berhala, diberikan kpd penjaga ka’bah, dibiarkan cari makan sesukanya, tdk ditunggangi, tdk disembelih dan tdk diperah susunya.
  3. washiilah : kambing atau unta perempuan yang lahir kembar. Kalau jantan diberikan kpd berhala.
  4. haam : unta jantan yg sdh menghamili 10 betina. Unta tsb tdk boleh ditunggangi dan dihalangi utk cari air dan makanan.

Implisit di sini, kita diminta utk selektif thd tradisi budaya yg mengharamkan (dan juga mewajibkan) sesuatu yg sebenarnya tdk pernah dilarang (atau diperintahkan) oleh Allah dan RasulNya.

Maha Benar Allah dg segala firmanNya.

Wallahu a’lam