Mereka yang Mengingkari Kehidupan Akhirat

Kepercayaan akan kepastian adanya akhirat sangat penting. Orang yang mengingkarinya dikatakan sbg tersesat dan menyimpang jauh dari jalan lurus (74).

Di dlm banyak ayat disebutkan beriman kpd kehidupan akhirat sbg salah satu sebab utama dan pangkal kekafiran:

(Orang beriman adalah) orang-orang yang mendirikan sholat dan menunaikan zakat, serta mereka yakin akan adanya negeri akhirat. Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada negeri akhirat, Kami jadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka, maka mereka bergelimang (dalam kesesatan). (An Naml 27:3-4)

Dan apabila hanya nama Allah saja disebut, niscaya kesal hati orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat; dan apabila nama sembahan-sembahan selain Allah yang disebut, tiba-tiba mereka bergirang hati. (Az Zumar 39:45)

Dan apabila kamu membaca Al Quran niscaya Kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, suatu dinding yang tertutup, dan Kami adakan tutupan di atas hati mereka dan sumbatan di telinga mereka, agar mereka tidak dapat memahaminya. Dan apabila kamu menyebut Tuhanmu saja dalam Al Quran, niscaya mereka berpaling ke belakang karena bencinya. (Al Israa’ 17:46-47)

Ayat berikutnya menjelaskan kerasnya penolakan mereka thd adanya kehidupan akhirat, shg digambarkan bahkan kalau pun Allah mengangkat kesulitan mereka dan melapangkan kehidupan mereka di dunia, hati mereka tidak akan berubah menjadi beriman, tidak akan tunduk meyakini akhirat dengan merendahkan diri kpd Allah SWT (75-76). Barulah ketika mereka dihadapkan ke neraka, mereka akan spontan putus harapan thd akhir kehidupan mereka di neraka (77).

Allah adalah Tuhan yang Menciptakan Alam Semesta

Allah menegaskan Dia sbg Dzat yang menciptakan dan mengatur manusia dan alam semesta, yang dijelaskan mulai dari yang paling dekat dg manusia (organ tubuh dan hati hingga alam semesta) sebagai berikut:

  1. Dialah yang menciptakan segala yang ada pada diri manusia termasuk organ2 utama: pendengaran, penglihatan dan hati. Allah mengingatkan agar mensyukuri nikmatNya (78).

  2. Dialah yang menciptakan manusia secara individu dan menjadikan anak keturunan yang hidup di berbagai tempat. Allah mengingatkan bahwa kita semua – seluruh generasi – akan dikumpulkan menghadap Allah (79).

  3. Dialah yang mengatur alam semesta beserta proses2 di dalamnya, termasuk proses kehidupan dan kematian, serta proses pertukaran siang dengan malam. Allah mengingatkan kita untuk menjadi Ulil Albab, Scientist / Eksplorer yang mentadabburi dan meneliti fenomena alam ini (80), sebagaimana diterangkan di ayat berikut:

    orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (Al Imran 3:191)

Mereka yang Tidak Percaya akan Kebangkitan pada Hari Akhir

Ayat 81-83 menerangkan mengenai mereka yang tidak percaya bahwa Allah akan membangkitkan manusia yang telah mati nanti di hari akhir. Keraguan ini disebutkan beberapa kali di dalam Al Quran sbb:

Apakah (akan dibangkitkan juga) apabila kami telah menjadi tulang belulang yang hancur lumat? (An Nazi’at 79:11)

Apakah apabila kami telah mati dan telah menjadi tanah serta menjadi tulang belulang, apakah benar-benar kami akan dibangkitkan (kembali)? (Ash Shaffaat 37:16, 53)

Dan mereka berkata, “Apakah bila kami telah menjadi tulang belulang dan benda-benda yang hancur, apa benar-benarkah kami akan dibangkitkan kembali sebagai makhluk yang baru?” (Al Israa’ 17:49)

Kepada mereka ini, Allah memberikan argumen bahwa proses membangkitkan manusia itu sangat mudah dibandingkan dengan tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Allah berikut:

  1. Dialah Allah yang memiliki bumi dan segala isinya (84-85)
  2. Dialah Allah yang memiliki 7 lapis langit dan ‘Arsy yang besar (86-87)
  3. Dialah Allah yang Maha Kuasa, yang kekuasaanNya meliputi segala sesuatu, dan Maha Melindungi makhlukNya (88-89)
  4. Dialah Allah yang mengutus para Rasul yang menerangkan ayat2Nya dan memberi bukti dalam bentuk berbagai mukjizat (90)

Mudahnya Allah membangkitkan manusia dari tulang belulang ini dijelaskan juga di ayat lain sbb:

Tidaklah Allah menciptakan dan membangkitkan kamu (dari dalam kubur) itu melainkan hanyalah seperti (menciptakan dan membangkitkan) satu jiwa saja. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (Luqman 31:28)

Sesungguhnya pengembalian itu hanyalah satu kali tiupan saja, maka dengan serta merta mereka hidup kembali di permukaan bumi. (An Naazi’aat 79:13-14)

Di ayat lain, dijelaskan juga, bhw sebenarnya proses dibangkitkannya makhluk hidup yang sudah mati pun sudah terjadi saat ini di dunia, dalam bentuk kembali tumbuhnya berbagai jenis tumbuhan dari tanah mati yang tandus:

Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu berbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran. (Al A’raaf 7:57)

Argumentasi adanya Tuhan yang Maha Esa

Ayat berikutnya menjelaskan argumentasi rasio bahwa tidak mungkin ada Tuhan lebih dari satu; karena kalau demikian, setiap tuhan akan memiliki ciptaannya masing-masing, dan mereka akan berperang satu sama lain (91). Hal ini diterangkan juga di ayat lain:

Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai ‘Arsy daripada apa yang mereka sifatkan. (Al Anbiyaa’ 21:22)

Dijelaskan pula, Tuhan yang Esa itu pastilah Dzat yang mengetahui segala sesuatu yang tidak tampak maupun yang tampak oleh manusia (92).

Sikap Rasululllah SAW Menghadapi Perlakuan Kaum Musyrik Mekkah

Ayat berikutnya menjelaskan Rasulullah SAW yang memohon agar umatnya (termasuk kaum musyrik Mekkah) tidak disiksa selama beliau berada di tengah2 mereka, betapa pun kerasnya mereka menentang dakwah beliau (93-95)

Menghadapi perlakuan buruk dari kaum Musyrik Mekkah, Allah memerintahkan beliau:

  1. Membalasnya dengan tindakan yang lebih baik seperti memaafkan, karena akan membawa perdamaian, saling menyayangi dan empati (96) sebagaimana dijelaskan juga di ayat berikut:

    Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. (Fushshilat 41:34)

    Sebagai tambahan, di Tafsir Jalalayn disebutkan bhw ayat ini diturunkan di Mekkah sebelum ayat perintah berperang, dimana berarti bila kezaliman sudah menjadi-jadi, maka diperintahkan umat Islam untuk melakukan perlawanan melalui jihad perang.

  2. Memohon perlindungan kpd Allah dari bisikan syetan dan perbuatan jahat mereka (kaum Musyrik Mekkah) (97-98)

Keadaan Manusia Setelah Mati

Ayat berikutnya menerangkan keadaan manusia pada fase-fase menjelang dan setelah kematiannya:

  1. Ketika kematian datang. Disebutkan bhw orang yang kafir akan menyesali dirinya dan meminta dikembalikan ke dunia utk beramal (99-100) sbgmn juga diterangkan di ayat berikut:

    Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata, “Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?” (Al Munaafiquun 63:10)

    Dan berikanlah peringatan kepada manusia terhadap hari (yang pada waktu itu) datang azab kepada mereka, maka berkatalah orang-orang yang zalim, “Ya Tuhan kami, beri tangguhlah kami (kembalikanlah kami ke dunia) walaupun dalam waktu yang sedikit, niscaya kami akan mematuhi seruan Engkau dan akan mengikuti rasul-rasul.” (Ibrahim 14:44)

    Dan, jika sekiranya kamu melihat mereka ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata), “Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal saleh, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin.” (As Sajdah 32:12)

  2. Di hari Kiamat, manusia akan dibangkitkan dan diperhitungkan amal perbuatannya (101-103)

  3. Manusia akan menerima balasannya dlm bentuk nikmat surga dan siksa neraka.

    Para penghuni neraka akan mengakui kesalahan mereka dan berdoa agar dikeluarkan dari neraka, namun doa mereka ditolak oleh Allah (104-108). Allah kemudian mengatakan kpd mereka, betapa ruginya mereka krn waktu dunia itu amat singkat dibandingkan akhirat (dunia hanya seperti ½ – 1 hari dibandingkan akhirat). Kalau saja mereka tahu dunia itu sangat singkat, sudah pasti tentu mereka akan beriman (112-114). Mengenai perbandingan waktu dunia dan akhirat ini digambarkan di ayat lain sbb:

    Dan mereka meminta kepadamu agar azab itu disegerakan, padahal Allah sekali-kali tidak akan menyalahi janji-Nya. Sesungguhnya sehari disisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu. (Al Hajj 22:47)

    Sedangkan mereka yang beriman dan beramal saleh, yang dulu menjadi bahan ejekan orang2 kafir, Allah memasukkan mereka ke dalam surga krn kesabaran mereka (109-111).

    Seharusnyalah kita menyadari bahwa tidak mungkin Allah menciptakan manusia sia-sia tanpa maksud dan tanpa diperhitungkan amal perbuatannya (115).

Terakhir, Allah menutup gambaran kondisi akhirat ini dengan penegasan bhw Dialah Tuhan yang Maha Tinggi (Yang menciptakan dan menghancurkan, Yang menghidupkan dan mematikan), yang Maha Esa, yang memiliki ‘Arsy yang mulia (116). Dia akan memberikan balasan siksa kpd mereka yang menyekutukanNya (117), dan memberi ampunan dan rahmat kpd hamba yang memohon ampun dan merendahkan diri di hadapanNya (118).

Maha Benar Allah dg segala firmanNya.

Wallahu a’lam bish-shawab