Surah ini termasuk kelompok surah Makkiyyah. Kandungannya sebagian besar mengenai kisah Musa as beserta umatnya.

Surah ini dibuka dengan pernyataan Allah bahwa Al-Qur'an adalah kitab yang menerangkan berbagai hal dengan jelas, membedakan yang halal dan haram, termasuk di antaranya kisah para Rasul yang sebelumnya diperselisihkan (seperti kisah Nabi Isa as) (2).

Kisah Nabi Musa as (1)

Musa as diutus kepada Fir'aun karena Fir'aun telah melakukan kezaliman sebagai berikut (4):

  1. Berbuat sewenang-wenang terhadap rakyatnya
  2. Memecah belah rakyatnya dengan membuat banyak kelas dan kelompok masyarakat. Bangsa Mesir di atas bangsa Bani Israil
  3. Membunuh anak laki-laki yang lahir dari kalangan Bani Israil, dan membiarkan anak perempuan

Allah kemudian menjanjikan Bani Israil yang lemah tertindas sbb:

  • Mereka akan menerima banyak anugerah dan kenikmatan dan menjadi masyarakat terpandang pada zamannya (5)
  • Meneguhkan mereka sebagai bangsa yang berkuasa di muka bumi
  • Membebaskan dari penindasan Fir'aun dan Haman beserta tentaranya dan mewarisi kerajaan Fir'aun (6). Di ayat lain, disebutkan:
    Dan Kami pusakakan kepada kaum yang telah ditindas itu (Bani Israil), negeri-negeri bagian timur bumi dan baratnya (negeri Syam dan Mesir dan negeri-negeri sekitar keduanya yang pernah dikuasai Fir'aun dahulu. Sesudah kerjaan Fir'aun runtuh, negeri-negeri ini diwarisi oleh Bani Israil) yang telah Kami beri berkah padanya. Dan telah sempurnalah perkataan Tuhanmu yang baik (sebagai janji) untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka. Dan Kami hancurkan apa yang telah dibuat Fir'aun dan kaumnya dan apa yang telah dibangun mereka. (Al A'raaf 7:137).

Musa Kecil

Menjelang kelahiran Musa as, Fir'aun bermimpi melihat api yang sangat besar datang dari Baitul Maqdis. Api tersebut semakin lama semakin meluas dan membakar seluruh rumah penduduk Mesir namun membiarkan rumah orang-orang Bani Israil. Berdasarkan saran ahli nujumnya, mimpi itu berarti akan lahir seorang anak laki-laki dari Bani Israil yang akan merebut kekuasaan Fir'aun dan menguasai daerah yang saat itu dikuasai kerajaan Fir'aun.

Fir'aun akhirnya memerintahkan agar setiap bayi laki-laki dari Bani Israil harus disembelih sedangkan anak perempuan dibiarkan hidup.

Setelah kelahiran Musa, Allah mengilhamkan kepada ibu Musa untuk tetap menyusui Musa walaupun dalam ketakutan. Menurut riwayat, Musa disusui oleh ibunya selama 3-4 bulan.

Allah kemudian memerintahkan untuk menghanyutkan Musa ke sungai Nil, dan menenangkan Ibu Musa bahwa anaknya akan kembali pada pengasuhannya serta kelak Musa akan menjadi seorang Rasul (7).

Istri Fir'aun menemukan Musa yang terapung di sungai Nil. Dirinya jatuh hati setelah melihat tanda-tanda keberkahan dan kebangsawanan pada bayi Musa. Asiyah pun meminta Fir'aun untuk mengadopsi Musa. Fir'aun yang awalnya menolak akhirnya menyetujui, walaupun hal ini sangat disesalkan di kemudian hari (8-9). Menurut riwayat, istri Fir'aun yang bernama Asiyah ini tidak memiliki anak dari Fir'aun.

Allah kemudian menguatkan Ibu Musa yang hampir putus harapannya untuk dapat mengasuh Musa kembali (10). Ibu Musa mengutus anak perempuannya (kakak Musa) untuk mengikuti Musa yang dihanyutkan di sungai Nil (11).

Dalam asuhan istri Fir'aun, Musa ternyata menolak disusui oleh siapa pun. Saudara perempuan Musa kemudian mendatangi istri Fir'aun dan mengusulkan seorang wanita yang bisa menyusui Musa.

Menurut Ibnu Katsir, istri Fir'aun memanggil ibu Musa untuk menghadap kepadanya. Setelah ibu Musa sampai di istana, maka ia diperlakukan dengan baik dan dihormati serta diberinya hadiah yang berlimpah, sedangkan istri Fir'aun tidak mengetahui bahwa sebenarnya dia adalah ibu bayi itu yang sesungguhnya.

Kemudian istri Fir'aun meminta ibu Musa untuk tinggal di istana sambil menyusui bayi itu, namun ibu Musa menolak dengan alasan bahwa sesungguhnya dia mempunyai suami dan banyak anak, ia tidak mampu tinggal di istana meninggalkan mereka. Tetapi jika istri Fir'aun menyetujui, ia mau menyusuinya di rumahnya sendiri. Istri Fir'aun menyetujui dan memberinya perbelanjaan, pakaian, hubungan yang akrab, perlakuan yang baik, dan hadiah yang berlimpah.
Pada akhirnya ibu Musa pulang ke rumahnya dengan membawa anaknya dengan hati yang puas lagi disukai. Allah telah mengganti rasa takut Ibu Musa dengan rasa aman. Musa kembali disusui dan diasuh oleh Ibunya sesuai janji Allah (12-13).

Inilah contoh sesuatu yang tidak kita sukai padahal sebenarnya membawa kebaikan bagi kita, seperti disebutkan pada ayat berikut:

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu; dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. (Al-Baqarah 2:216)

(maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak (An-Nisa 4:19)

Di dalam satu hadits dinyatakan perumpamaan Ibu Musa menyusui anaknya sbb:

"Perumpamaan orang yang beramal karena mengharapkan ridha Allah dalam amal kebaikannya adalah seperti ibu Musa; ia menyusui anaknya dan menerima upahnya."

Musa Dewasa

Setelah Musa menginjak usia dewasa dan matang, Allah memberikan kepadanya ilmu dan hikmah, yakni pengetahuan mengenai agama dan syariatnya (yakni syariat Nabi Ibrahim as dan Yaqub as) dan hukum-hukumnya (14).

Musa kemudian diceritakan dimintakan bantuan oleh seorang Bani Israil yang berkelahi dengan seorang Mesir, yang ternyata anggota keluarga Fir'aun. Musa tanpa sengaja membunuh orang Mesir. Dengan penuh penyesalan Musa berkata, "Keberanianku melakukan hal ini sungguh merupakan perbuatan syaitan. Sungguh, syaitan adalah musuh yang amat jelas permusuhan dan kesesatannya" (15). Musa kemudian memohon ampun, dan Allah menerima taubatnya (16). Musa pun berdoa agar tidak terjerumus kembali gegabah membantu orang yang belum jelas benar-salahnya seperti sebelumnya (17).

Keesokan harinya, orang Bani Israil yang kemarin dibantu Musa kembali menemuinya dan meminta bantuan sekali lagi melawan orang Mesir. Musa menolak membantunya lagi dan menjauhi orang Bani Israil tersebut (18). Musa diberitahu oleh salah seorang yang beriman dari keluarga Fir'aun agar segera keluar kota karena keluarga Fir'aun sedang berunding untuk membunuh Musa (20).

Musa pun meninggalkan kota dengan rasa takut seraya berdoa, "Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zalim itu" (21). Di tengah perjalanan menuju arah kota Madyan, Musa kembali berdoa agar ditunjukkan kepadanya jalan kebaikan dan keselamatan (22).

Setelah menempuh perjalanan selama 8 hari dan memakan apa adanya karena tidak membawa bekal, Musa akhirnya memasuki kota Madyan. Tiba di suatu sumber air dan duduk berteduh beistirahat. Dia melihat banyak penggembala yang meminumkan ternak di sumber air tersebut, sementara di belakang mereka tampak dua orang perempuan yang menunggu giliran meminumkan ternak mereka namun selalu kalah cepat dengan penggembala lain (23). Musa menolong mereka. Setelah selesai Musa pun kembali ke tempat berteduh sebelumnya untuk melepas lelah seraya berdoa, "Ya Tuhan, aku sangat membutuhkan rezeki dan kebaikanMu atas diriku" (24).

Kedua perempuan tersebut ternyata putri Nabi Syuaib as. Nabi Syu'aib as lalu mengutus salah satu dari mereka untuk meminta Musa menemuinya. Nabi Syu'aib hendak berterima kasih dan memberi imbalan atas kebaikan Musa menolong anak-anaknya.

Musa menemui Nabi Syu'aib dan menceritakan apa yang terjadi hingga ia sampai di kota Madyan. Syu'aib menenangkan Musa dan menjamin keselamatan Musa dari orang-orang yang akan membunuhnya (25).

Salah seorang putri Nabi Syu'aib as kemudian mengusulkan kepada ayahnya agar mempekerjakan Musa karena kuat dan dapat dipercaya (26). Syu'aib pun menanyakan apakah Musa mau menikahi salah satu putrinya dengan mas kawin bekerja membantu Syu'aib selama 8 atau 10 tahun (27). Musa pun menyetujui permintaan Syu'aib ini (28). Di dalam tafsir Ibnu Katsir disebutkan Musa akhirnya memenuhi bekerja selama 10 tahun sebagaimana diterangkan oleh Nabi SAW:

Aku bertanya kepada Jibril, "Masa yang mana yang dilaksanakan Musa?" Jibril menjawab, "Yang paling sempurna dan yang paling genap." (HR Ibnu Jarir)

Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Referensi tafsir klik di sini.