Bantahan atas Kaum Yahudi yang Meragukan Al-Qur'an dan Kerasulan Nabi SAW

Allah SWT membantah keraguan dan cemooh kaum Yahudi (Bani Israil) atas Al-Qur'an dan kerasulan Nabi SAW:

  • Al-Qur'an adalah kitab wahyu yang diturunkan kepada Muhammad SAW, sama seperti Taurat yang diturunkan kepada Musa as (43)
  • Keduanya sama-sama mengandung petunjuk dan rahmat bagi manusia (43)
  • Al-Qur'an menceritakan hal yang bersifat ghaib, yang tidak diketahui oleh Muhammad SAW dan hanya mungkin diketahui oleh Allah yang mewahyukannya, seperti:
    • Peristiwa diangkatnya Nabi Musa as menjadi Rasul (44)
    • Kisah Nabi Syu'aib yang diutus kepada penduduk Madyan (45)
    • Peristiwa ketika Nabi Musa as menerima wahyu di gunung Thur (atau gunung Sinai menurut beberapa riwayat) selama 40 hari (46)

Allah menegaskan bahwa Al-Qur'an yang mengandung informasi ghaib ini tidak lain bertujuan:

  • Sebagai peringatan bagi umat-umat yang datang kemudian (46)

  • Sebagai bukti fairness Allah SWT, bahwa setiap manusia pasti akan menerima risalah Tauhid melalui diutusnya para Rasul (47), sebagaimana disebutkan dalam banyak ayat berikut:

    Dan Kami tidak membinasakan sesuatu negeri pun, melainkan sesudah ada baginya orang-orang yang memberi peringatan; untuk menjadi peringatan. Dan Kami sekali-kali tidak berlaku zalim. (Asy Syu’araa’ 26:208-209)

    Sesungguhnya Kami mengutus kamu dengan membawa kebenaran sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. Dan tidak ada suatu umat pun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan. (Faathir 35:24)

Diceritakan kaum Yahudi ini mempertanyakan, mengapa Rasulullah SAW tidak diutus dengan membawa banyak mukjizat seperti pada Nabi Musa as. Allah kemudian membantah dengan argumentasi sbb:

  • Bahkan Musa as yang dulu dikaruniai banyak mukjizat pun tetap mereka ingkari dan lawan, tidak hanya sekali, bahkan berkali-kali (seperti kembali musyriknya Bani Israil menyembah patung anak sapi ketika ditinggal Musa as). Mereka dahulu pun awalnya juga menganggap Musa as dan Harun as tidak lain adalah dua orang ahli sihir yang saling membantu satu sama lain (48)

  • Kalau memang mereka (kaum Yahudi) meragukan Al-Qur'an adalah wahyu Tuhan, maka mengapa mereka tidak mencoba membuat kitab yang kandungannya seperti Al-Qur'an dan Taurat (49)? Tantangan ini disebutkan pula di ayat lain:

    Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. (Al Baqarah 2:23)

    Bahkan mereka mengatakan, “Muhammad telah membuat-buat Al Quran itu”, Katakanlah, “(Kalau demikian), maka datangkanlah sepuluh surat-surat yang dibuat-buat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar”. (Huud 11:13)

    Allah menjamin mereka tidak akan sanggup membuatnya sebagaimana ditegaskan di ayat berikut:

    Katakanlah, “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain." (Al Israa’ 17:88)

    Ini tidak lain membuktikan bantahan mereka sebenarnya bukan karena mencari tahu kebenaran, melainkan semata karena ego dan kedengkian mereka yang tidak rela menerima kerasulan Nabi SAW (50):

    Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui. (Al Baqarah 2:146)

    Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya. (Ali Imran 3:19)

    Di akhir ayat 51 disebutkan pula, bukan hanya kandungan dan keindahan Al-Qur'an yang tidak dapat ditiru, melainkan juga proses turunnya yang relevan sehingga ayat-ayatnya menjadi jawaban atas masalah yang dihadapi Nabi SAW dan umat Muslim pada saat itu.

Kaum Yahudi yang Menerima Islam

Allah kemudian mengkontraskan sebagian kaum Yahudi yang menerima risalah Nabi SAW (52). Sikap mereka ini digambarkan, "Kami beriman kepadanya, sesungguhnya Al-Qur'an ini adalah kebenaran dari Tuhan kami, dan sesungguhnya kami sebelumnya pun adalah orang-orang yang membenarkan wahyu Tuhan" (53).

Mereka ini dikatakan mendapatkan dua pahala karena sikap mereka (54-55):

  1. Sabar dalam bertahan menghadapi hinaan dan penindasan dari sesama kalangan kaum Yahudi, serta membalasnya hanya dengan kebaikan
  2. Menginfakkan rezeki kekayaan mereka kepada yang berhak
  3. Menjauhkan diri dari percakapan tidak bermanfaat dengan orang batil. Mereka menyatakan, "Kami mengerjakan perbuatan kami yang benar yang tidak akan kami tinggalkan. Kalian pun mengerjakan perbuatan kalian yang batil dan dosanya akan kalian tanggung sendiri. Kami tidak akan mencampuri urusan kalian karena kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang bodoh."

Hidayah adalah Milik Allah SWT

Allah SWT kemudian menegaskan, bahwa hidayah dan berimannya seseorang tidak bisa dipaksakan. Hidayah adalah urusan Allah - personal dengan hambaNya. Hanya mereka yang membuka hatinya terhadap kebenaran dengan merendahkan diri yang mampu menerima hidayah ini.

Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. (56)

Asbabun nuzul ayat ini terkait dengan paman Nabi SAW, Abu Thalib yang tidak menyambut seruan dakwahnya agar beriman kepada Allah SWT. Dalam sahih Bukhari dikisahkan ketika Abu Thalib akan wafat, Rasulullah SAW berkata kepadanya, "Wahai pamanku, ucapkanlah 'laa ilaa ha illallah' maka aku akan bersaksi untukmu pada hari Kiamat." Abu Thalib menolaknya dengan menjawab, "Wahai anak saudaraku, kalaulah bukan karena celaan terhadapmu, aku tidak peduli atas apa yang aku aku lakukan." Rasulullah SAW mengucapkan itu kepadanya berulang kali sampai Abu Thalib wafat. Allah kemudian menurunkan ayat 56 ini.

Di ayat selanjutnya, Allah menjelaskan salah satu alasan mereka yang tetap keukeuh menolak risalah Nabi SAW walaupun sudah jelas tampak kebenaran Al-Qur'an dan kerasulan Nabi SAW di hadapannya (seperti pada contoh Abu Thalib, paman Nabi SAW di atas), adalah karena sanksi sosial dan ancaman pengusiran yang mereka hadapi bila menerima risalah Islam (57).

Turunnya Azab pada Kaum yang Mendustakan Rasul

Allah SWT kembali menekankan kita untuk mengambil pelajaran atas kaum-kaum yang dibinasakan, bahkan mereka pun memiliki banyak kelebihan secara duniawi (seperti keahlian arsitektur - pada kaum Tsamud, peradaban yang maju - pada Fir'aun, fisik yang kuat - pada kaum Nuh dan Ad dll) namun mereka binasa dan habis oleh azab Allah karena penolakan dan kejahatan mereka terhadap Rasul (58).

Allah SWT kemudian menerangkan jaminan atas fairness, keadilanNya bahwa (59):

  1. Azab hanya diturunkan pada umat yang telah diutus kepada mereka rasul yang membawa risalah Allah.

    …Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul. (Al Israa’ 17:15)

    Tiap-tiap umat mempunyai rasul; maka apabila telah datang rasul mereka, diberikanlah keputusan antara mereka dengan adil dan mereka (sedikitpun) tidak dianiaya. (Yunus 10:47)

  2. Azab hanya diturunkan pada saat suatu umat sedang mengerjakan kezaliman dan kemungkaran.

    Dan sesungguhnya Kami telah membinasakan umat-umat sebelum kamu, ketika mereka berbuat kezaliman, padahal rasul-rasul mereka telah datang kepada mereka dengan membawa keterangan-keterangan yang nyata, tetapi mereka sekali-kali tidak hendak beriman. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat dosa. (Yunus 10:13)

Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Referensi tafsir klik di sini.