Pelajaran Perang Uhud (3)

Masih lanjut mengenai perang Uhud, Allah mencontohkan bagaimana sikap Nabi thd kelompok pasukan yg tdk taat kpd beliau sbg teladan kita bersikap thd org muslim yg berbuat salah:

  • Bersikap lemah lembut kpd mereka, krn sikap keras hanya akan membuat mereka bertambah jauh dari Islam (159)
  • Memaafkan, memohonkan ampun bagi mereka dan tetap mengajak mereka dlm rapat2 musyawarah (159)

Allah kemudian menegaskan bahwa
tdk ada yg dapat mengalahkan seseorang / pasukan bila Allah sudah menolong mereka (160). Bahwa kekalahan umat Islam (di perang Uhud) bukanlah krn Allah yg tdk tepat janji, yg tdk memberikan pertolongan kpd pasukan Islam, ttp krn mereka lah yang melanggar syarat2 turunnya pertolongan Allah tsb (165), yakni lurusnya niat perang krn Allah dan taat kpd perintah Allah dan RasulNya (yang mana ini dilanggar oleh pasukan Uhud yg menjaga di belakang).

Ayat 161-164 menurut bbrp tafsir menjelaskan peristiwa pada perang Hunain, dimana sebagian pasukan Islam yang tdk puas thd pembagian harta rampasan perang, dimana kaum Anshar (Madinah) mendapatkan lebih sedikit daripada kaum Muhajirin (Mekkah); shg Nabi dianggap mendahulukan sukunya (dari Mekkah) dibandingkan kaum Anahar Madinah.

Ditegaskan bhw tdk mungkin dan tdk pantas Nabi SAW berkhianat dlm urusan pembagian harta rampasan perang ini (161). Kemudian dikatakan, mereka yg masih tdk ridha dg pembagian Rasulullah akan mendapat kemurkaan besar dari Allah (walaupun mereka sebelumnya ikut berperang) (162-163).

Juga dijelaskan bhw apakah belum cukup nikmat Allah bagi kaum Anshar dimana mereka mendapat kelebihan dg membawa pulang Rasulullah, tinggalnya beliau bersama mereka di Madinah; yang membacakan langsung ayat2 Allah, membersihkan jiwa mereka dan mengajarkan makna ayat2 Allah? (164)


Ayat selanjutnya kembali ke peristiwa Uhud, dimana Allah menghibur bhw kekalahan Uhud ini adalah atas izin, kehendak, qadha dan qadar Allah SWT, dan Dia hendak menguji siapa yang benar2 beriman kpdNya dan RasulNya, dan juga menunjukkan siapa yang pura2 beriman padahal sebenarnya mereka adalah orang munafik (167).

Kemudian Allah menjelaskan bbrp ciri kaum munafik:

  • Membohongi diri sendiri, yang dikatakan lain dg apa yg diakui benar di dalam hati (167)
  • Mencari2 alasan pembenaran (dlm hal ini pembenaran mereka tdk ikut berperang) (168)

Allah kemudian menjelaskan bhw mereka yg syahid itu sebenarnya tdk mati, bahkan mereka hidup di sisi Allah dan tetap mendapat rezeki sbgmana manusia yg masih hidup (169), wajah berseri2 serta mendapat penghormatan besar dari Allah (171)

Dalam hadits sahih riwayat Muslim, disebutkan mereka yg syahid ini, ruh2nya ditempatkan di dalam tembolok burung hijau yang berterbangan di dalam surga dan mendapat makanan berupa buah2an di dalam surga. Wallahu a’lam.

Ketika saudara2 kalian terbunuh pada perang Uhud, maka Allah menempatkan ruh2 mereka di dalam perut burung2 berwarna hijau yang minum dari sungai2 surga, memakan buah2an surga dan kembali ke sarang yang terbuat dari emas di bawah teduhan ‘Arsy. Ketika mendapati diri mereka mendapatkan makanan dan minuman yg lezat serta tempat istirahat yg baik maka mereka berkata, “Siapakah kira2 yang mau menyampaikan kpd saudara2 kami ttg keadaan kami, yaitu bhw kami sebenarnya hidup di surga dan diberi rezeki, agar mereka tdk ragu utk terus berjihad dan tidak takut utk berperang?” Lalu Allah SWT berfirman, “Aku yang akan menyampaikan berita ttg diri kalian kpd mereka.” Lalu Allah menurunkan Ali Imran ayat 169 ini dan setelahnya. (Hadits riwayat Muslim, Ahmad, Abu Dawud, Al Hakim dan Tarmidzi).

Kemudian Allah menyebut mereka yang tetap bertahan di perang Uhud, tetap taat kpd perintah Rasulullah walaupun harus terluka hingga akhirnya mereka syahid. Dikatakan, bahkan gelombang pasukan musuh yg mereka hadapi saat itu tdk membuat takut ttp justru menambah keimanan mereka, sambil berdoa “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung” (173)

Maha Benar Allah dg segala firmanNya.

Wallahu a’lam.