Ayat 52-58 menceritakan saat2 terakhir Nabi Isa as dan pengikutnya (Al Hawariyyun) menjelang diselamatkan dari kepungan Bani Israil yg saat itu menolak dakwah beliau.

Kita dicontohkan doa dalam keadaan terjepit sbg mana doa Nabi Isa saat itu (53-54):

رَبَّنَا آمَنَّا بِمَا أَنزَلْتَ وَاتَّبَعْنَا الرَّسُولَ فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِينَ

وَمَكَرُوا وَمَكَرَ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ

Ya Tuhan kami, kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan telah kami ikuti rasul, karena itu masukanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi (tentang keesaan Allah)”.
Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.

Kemudian diceritakan pula bgmn beliau akhirnya ‘diangkat’ oleh Allah. Proses ini tdk dijelaskan detail, hanya dikatakan bhw setelah diangkat, pada akhirnya beliau akan meninggal sesuai ajalnya (mgkn setelah beliau diturunkan kembali menjelang hari kiamat).

Di ayat 59, implisit Allah mempertanyakan, kenapa heran sekali dg kelahiran Isa tanpa bapak. Sebenarnya proses penciptaan Nabi Isa mirip dg penciptaan Adam (59). Tetapi banyak yang masih kurang percaya dg kekuasaan Allah yg menciptakan segala sesuatu semudah mengucapkan “Kun” (59-60).

Kemudian diceritakan bgmn waktu itu Rasulullah didatangi 60 orang utusan Nasrani dari Najran yg menantang bersumpah (mubalaghah – mgkn mirip spt sumpah pocong). Tetapi akhirnya mereka tdk jadi (61). Dalam hadits riwayat Ahmad, disebutkan, “Seandainya berangkat juga orang-orang yang bermaksud bermubahalah dengan Rasulullah, niscaya mereka pulang dengan tidak mendapatkan lagi harta dan keluarga mereka.”

Orang Yahudi dan Nasrani pada waktu itu kalau ditanya kpd siapa mereka beribadah, maka akan dijawab mereka beribadah kpd Allah. Maka kemudian Allah memerintahkan Nabi utk memulai dialog dg mereka menggunakan common ground ini (64).

Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah”.

Tetapi kenyataannya mereka tetap tdk mau krn walaupun mereka mengakui Allah yang disembah ttp mengakui juga bhw Allah memiliki anak (Isa dan Uza’ir).

Kemudian diceritakan Allah membantah klaim umat Yahudi menganggap bhw Ibrahim beragama Yahudi; dan juga klaim kaum Nasrani yg mengatakan beliau beragama Nasrani; padahal Taurat dan Injil diturunkan baru setelah Ibrahim.

Dikatakan bhw Ibrahim adalah org yg lurus (hanif), berserah diri, dan tdk menyekutukan Allah (musyrik) (65-67).

Allah kemudian menyatakan bhw bukanlah Nasrani atau Yahudi yg lebih dekat dg Ibrahim. Ttp yang paling dekat adalah mereka yg mengikutinya (lurus/hanif, berserah diri, tdk musyrik) dan yg mengikuti Rasulullah (69).

Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.

Wallahu a’lam.