Surah An Naml termasuk kelompok Makkiyyah. Kandungan isinya sebagian besar mengenai perjalanan para Rasul, termasuk kisah semut (An-Naml) yang hampir terinjak oleh tentara Sulaiman as.

Al-Qur'an Petunjuk Bagi Orang Beriman

Surah ini dibuka dengan penegasan Allah mengenai Al-Qur'an yang memiliki 3 ciri, yakni:

  1. Kitab yang mengandung penjelasan bagi orang yang mentadabburinya, memikirkan tentangnya, bahwa benar Al-Qur'an ini diturunkan dari Tuhan Pencipta alam semesta (1)

  2. Kitab yang mengandung petunjuk, pegangan (guidance) dan berita gembira (mengenai cara menyembah Tuhan dan menjalani hidup agar selamat dunia akhirat)

  3. Kitab yang hanya membawa manfaat kalau pembacanya adalah orang yang beriman (2). Di ayat lain ditegaskan, bahwa walaupun Al-Qur'an ini diturunkan kepada seluruh manusia namun hanya orang yang beriman dan bertakwa saja yang dapat mengambil pelajaran dan manfaat atas kandungan Al-Qur'an sbb:

    (Al Quran) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. (Ali Imran 3:138)

    Dan kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian. (Al Israa' 17:82)

    Katakanlah, "Al Quran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al Quran itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) yang dipanggil dari tempat yang jauh". (Fushilat 44:41)

Allah kemudian menjelaskan profil orang beriman di atas yang disebutkan dapat mengambil hikmah dan pelajaran dari Al-Qur'an sbb (3):

  1. Mereka mendirikan sholat
  2. Mereka menunaikan zakat
  3. Mereka meyakini kepastian datangnya hari Akhirat

Beriman kepada Hari Akhir

Di ayat lain disebutkan pula, mempercayai akan adanya kehidupan akhirat adalah syarat untuk memahami kebenaran Al-Qur'an:

Dan apabila kamu membaca Al-Qur'an niscaya Kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, suatu dinding yang tertutup. (Al Israa' 17:45)

Implisit Allah seakan berpesan kepada kita agar semua yang kita lakukan di dunia, haruslah diingat bahwa semua itu akan ditimbang berat amal baik dan buruknya pada hari akhirat.

  • Bagaimana semua yang kita lakukan atau keputusan yang kita ambil akan menambah investasi atau bekal kita di akhirat?
  • Apakah apa yang dilakukan atau yang diputuskan ini memang yang paling memberi return atau imbalan paling besar untuk investasi akhirat kita?

Mereka yang tidak meyakini kepastian hari Akhirat ini dikatakan akan memandang baik perbuatannya karena tidak menjadikan akhirat sebagai gold standard kriteria keberhasilan dari pekerjaan mereka di dunia (4). Bagi mereka ini akan mendapatkan azab dan menjadi orang yang paling merugi di akhirat kelak (5).

Allah kemudian menutup bahasan mengenai Al-Qur'an ini dengan menegaskan kembali bahwa sungguh tidak ada keraguan bahwa Al-Qur'an benar-benar diturunkan dari sisi Allah Yang Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui (6).

Kisah Musa as

Kisah Musa as diceritakan pada saat pengukuhan beliau sebagai Rasul. Saat itu Musa as dan keluarganya dalam perjalanan meninggalkan Madyan, melihat api di kegelapan malam di lembah suci Thuwa (7-8). Allah SWT kemudian memperkenalkan diriNya kepada Musa as (9) dan menunjukkan kepada Musa as 2 dari 9 mukjizat, yakni tongkat menjadi ular dan tangan yang bercahaya - sebagai bekal dakwah kerasulannya kepada Fir'aun, sebagaimana disebutkan di ayat lain:

Dan sesungguhnya Kami telah memberikan kepada Musa sembilan buah mukjizat yang nyata, maka tanyakanlah kepada Bani Israil, tatkala Musa datang kepada mereka lalu Fir’aun berkata kepadanya, “Sesungguhnya aku sangka kamu, hai Musa, seorang yang kena sihir.” (Al Israa’ 17:101)

Ke-9 mukjizat ini adalah: tongkat, tangan, belalang, kutu, katak, darah, angin topan, laut terbelah, dan berbicara dengan Allah di bukit Thur (sebagian riwayat menyatakan lidah sapi yang membangkitkan orang meninggal korban pembunuhan).

Allah SWT kemudian mengampuni kesalahan Musa as terdahulu yang berlaku zalim karena berkelahi dengan orang Mesir hingga membunuhnya (11).

Musa as dimampukan berbicara langsung dengan Allah tanpa melalui malaikat Jibril - seperti pada peristiwa pengukuhan beliau sebagai Rasul di atas dan beberapa peristiwa lain - sehingga beliau digelari sebagai Kalimullah (yang berbicara / berdialog langsung dengan Allah).

Ayat selanjutnya mengisahkan respon Fir'aun dan pembesarnya yang menganggap bahwa mukjizat Musa as tersebut tidak lain sekedar sihir (13). Diceritakan juga, sebenarnya dengan ditunjukkannya berbagai mukjizat Musa as kepada mereka (seperti hujan belalang, katak, air berubah menjadi darah, dll) pada akhirnya Fir'aun dan para pembesarnya mengakui kebenaran Musa, di dalam hati mereka mengakui tidak mungkin ada sihir yang bisa membuat bencana seperti demikian. Hanya saja kesombongan dan kezaliman mereka yang menjadikan mereka tetap menolak risalah Musa as (14).

Kisah Musa as dapat dilihat juga pada bahasan berikut:

Kisah Daud as dan Sulaiman as (1)

Allah SWT menerangkan kisah kedua Rasulnya, Daud as dan anaknya, Sulaiman as sebagai contoh teladan hambaNya yang bersyukur, yang tetap menjaga ketaatan kepada Allah SWT walaupun diuji oleh pengetahuan, kekuasaan dan kekayaan. Dikatakan mereka mengucapkan rasa syukur mereka kepada Allah:

"Segala puji bagi Allah yang melebihkan kami dari kebanyakan hamba-hambaNya yang beriman" (15)

Kemudian diterangkan beberapa kelebihan yang dikaruniakan Allah SWT kepada Sulaiman as (16-17):

  • Sulaiman as mewarisi ilmu dan kerajaan dari bapaknya (Daud as)
  • Mengerti bahasa dan suara hewan
  • Dikaruniai berbagai kebaikan dan kelebihan di atas seluruh makhluk pada masanya
  • Tentara kerajaannya yang terdiri dari personil manusia, jin dan burung

Di ayat lain diterangkan kekuasaan dan kekayaan yang dikaruniakan kepada Sulaiman as adalah juga diperkenankannya doa beliau sebagai berikut:

Ia (Sulaiman as) berdoa, "Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh siapa pun setelahku. Sungguh Engkaulah Yang Maha Pemberi." (Shaad 38:35)

Di beberapa ayat lain, digambarkan luasnya kekuasaan yang dikaruniakan Allah SWT kepada Sulaiman as:

Kemudian Kami tundukkan kepadanya angin yang berhembus dengan baik menurut ke mana saja yang dikehendakinya, dan (Kami tundukkan pula kepadanya) syaitan-syaitan semuanya ahli bangunan dan penyelam, dan syaitan yang lain yang terikat dalam belenggu. (Shaad 38:36-38)

Dan Kami (tundukkan) angin bagi Sulaiman, yang perjalanannya di waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalanannya di waktu sore sama dengan perjalanan sebulan (pula) dan Kami alirkan cairan tembaga baginya. Dan sebahagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya (di bawah kekuasaannya) dengan izin Tuhannya. Dan siapa yang menyimpang di antara mereka dari perintah Kami, Kami rasakan kepadanya azab neraka yang apinya menyala-nyala. Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang berterima kasih. (Saba' 34:13-14)

Di dalam tafsir Thabari dijelaskan dari riwayat al-Hakim dalam al-Mustadrak, al-Qurthubi dalam tafsirnya, dan as-Suyuthi dalam ad-Durr al-Mantsur menerangkan pasukan Sulaiman as, bila berbaris mencapai hingga 800 km, dengan 200 km pasukan manusia, 200 km jin, 200 km hewan liar serta 200 km burung. Diceritakan juga, Sulaiman as memiliki 1000 rumah dari kaca berlapis kayu, yang di dalamnya terdapat 300 menara dan 700 budak. Ia bisa memerintahkan angin kencang untuk menerbangkannya dan memerintahkan angin sepoi-sepoi membawanya.

Kisah Semut dan Pasukan Sulaiman as

Ayat selanjutnya mengisahkan sikap adilnya Sulaiman as yang menghentikan pasukannya beberapa saat ketika mendengar suara semut yang memberitahukan teman-temannya untuk segera berlindung ke dalam sarang agar tidak terinjak pasukannya. Saat itu, beliau mengucapkan doa mensyukuri nikmat Allah (19):

"Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmatMu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hambaMu yang saleh."

Di dalam doa di atas, Sulaiman as memohonkan 4 hal berikut:

  • Dikaruniai ilham dan keinginan untuk:
    • Mensyukuri nikmat yang telah dikaruniakan Allah SWT kepadanya
    • Mensyukuri dan berterima kasih kepada bapak (yakni Daud as) dan ibunya yang telah mengasuhnya
    • Mengerjakan amal saleh, memanfaatkan sebesar-besarnya segala karunia ini untuk beribadah dan mengemban amanah Allah SWT
  • Menjadi hamba yang saleh

Syukur kepada Allah yang disandingkan dengan syukur kepada orangtua seperti pada doa Sulaiman as ini menunjukkan rasa syukur anak kepada orangtuanya yang hanya setingkat di bawah rasa syukurnya kepada Tuhan, sebagaimana diperintahkan Allah SWT pada ayat berikut:

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (Luqman 31:14)

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. (Al Israa' 17:24)

Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Referensi tafsir klik di sini.