Kisah Sulaiman as (2)

Dakwah Sulaiman as kepada Ratu Bilqis

Dikisahkan pada suatu hari burung Hud-hud tidak hadir pada apel pasukan Nabi Sulaiman as. Burung Hud-hud pun kemudian diancam hukuman berat karena kelalaiannya tersebut. Tidak berapa lama, burung Hud-hud datang. Hud-hud mengatakan kepada Sulaiman as bahwa ketidakhadirannya adalah karena dia baru berkunjung ke suatu negeri yang disebut Saba' yang kaya, makmur sejahtera. Negeri tersebut dipimpin oleh seorang Ratu bernama Bilqis namun Ratu dan rakyatnya masih menyembah matahari. Syetan telah mempengaruhi mereka sehingga memandang baik perbuatan mereka dan menghalangi pandangan mereka terhadap jalan petunjuk yang lurus (20-26).

Nabi Sulaiman as pun menguji kebenaran laporan burung Hud-hud dengan menitipkan surat kepada Hud-hud untuk disampaikan kepada Ratu dan melaporkan kepada Sulaiman as respon tanggapan mereka setelah membaca surat dari Nabi Sulaiman tersebut (27-28).

Ratu Bilqis memberitahu para menterinya, dan membacakan surat Nabi Sulaiman as yang berisi:

"Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Bahwa janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri." (30-31)

Beliau pun meminta pendapat para menterinya. Mereka menjawab, bahwa Ratu dipersilahkan memilih, apakah akan memilih berperang melawan pasukan Sulaiman as atau berdamai karena Kerajaan Saba' memiliki pasukan yang besar dan kuat (32-33).

Ratu Bilqis akhirnya memilih untuk berdamai karena mrngkhawatirkan kehancuran dan kehinaan atas rakyatnya bila mereka berperang melawan Sulaiman as. Kemudian dia mengirim utusan kepada Sulaiman as untuk mengirim hadiah upeti sebagai tanda persahabatan dan sekaligus menguji apakah maksud Sulaiman as adalah murni dakwahnya sebagai Rasul Tuhan atau terdapat motif ekonomi dan kekuasaan untuk menguasai Saba' seperti raja-raja lain pada umumnya (34-35).

Nabi Sulaiman as menolak pemberian hadiah tersebut, bahkan mengancam akan mengirimkan pasukan super kuat yang tidak akan mungkin dilawan dan akan mengusir penduduk Saba' dari negerinya dan menjadikan sebagian mereka sebagai tawanan perang (36-37).

Mendengar laporan dari utusannya, Ratu Bilqis beserta para menterinya pun berangkat menemui Nabi Sulaiman as dan menyetujui tunduk menjadi salah satu persemakmuran kerajaan Sulaiman as.

Mengetahui rencana kedatangan Ratu Bilqis, Nabi Sulaiman as mempersiapkan penyambutan sang Ratu dengan memberikan dua ujian:

  1. Singgasana Ratu Bilqis

    Nabi Sulaiman as bertanya kepada para menterinya, siapa di antara mereka yang mampu paling cepat memindahkan singgasana Ratu Bilqis. Jin Ifrit menyatakan dirinya mampu memindahkannya sebelum Sulaiman beranjak dari duduknya. Namun salah seorang menteri dari kalangan manusia mampu memindahkannya dalam sekedipan mata (38-40). Melihat hal tersebut, Nabi Sulaiman as kemudian bersyukur kepada Allah seraya berdoa:

    "Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia." (40)

    Dari doa di atas, tampak akhlaq Sulaiman as yang segera mengembalikan segala nikmat yang diterimanya kepada Allah SWT, dan memandangnya sebagai ujian apakah dia mensyukurinya atau mengingkari nikmat Allah tersebut.

    Singgasana tersebut kemudian sengaja diubah untuk menguji apakah Ratu Bilqis masih mengenalinya atau tidak (41).

    Ketika datang, Nabi Sulaiman as bertanya, apakah Ratu Bilqis mengenali singgasananya. Ratu Bilqis menjawab,

    "Seakan-akan singgasana ini singgasanaku, kami telah diberi pengetahuan sebelumnya, dan kami adalah orang-orang yang berserah diri." (42)

    Allah kemudian menerangkan bahwa Ratu Bilqis selama ini terhalang dari menerima petunjuk jalan yang lurus karena dikelilingi oleh keturunan dan rakyatnya yang kafir, sesuai dengan laporan burung Hud-hud di awal (43).

    Implisit kisah ini berarti bahwa Ratu Bilqis sebenarnya tetap bisa mengenali siapa Tuhan yang sebenarnya walaupun dikelilingi oleh keluarga dan rakyatnya yang menyembah matahari. Selama diri tidak menutup hati dari cahaya kebenaran dan tidak mengedepankan ego, setiap manusia akan tetap mengenali siapa Tuhannya, sesuai dengan janji tauhid setiap jiwa kepada Allah di ayat berikut:

    Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab, "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi." (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)" (Al A'raaf 7:172)

  2. Lantai kaca seperti air

    Sulaiman as kemudian mengajak Ratu Bilqis masuk ke dalam istananya yang berlantaikan kaca bening dan tampak air yang mengalir di bawah lantai tersebut. Ratu Bilqis mengira dia harus berjalan menyeberangi kolam air yang besar sehingga disingkapkannya kedua betisnya agar pakaiannya tidak basah. Sulaiman as berkata,

    "Sesungguhnya ia adalah istana licin terbuat dari kaca." (44)

    Ratu Bilqis tersadar bahwa panca indera matanya yang selama ini dia percaya pun ternyata tidak mampu membedakan air dengan lantai kaca. Diceritakan, akhirnya Ratu Bilqis menyatakan syahadat kepada Sulaiman as, beriman kepada Allah Tuhan semesta alam.

    "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam." (44)

Kisah Nabi Sulaiman as dan Ratu Bilqis ini adalah contoh dakwah kerasulan yang disampaikan melalui komunikasi hubungan antar kepala negara, dimana interaksinya pun bersifat kenegaraan.

Nabi Sulaiman as tetap konsisten menolak hadiah upeti dari Ratu Bilqis, yang merupakan kode etik para Rasul untuk tidak pernah meminta upah atau keuntungan ekonomi dari umatnya, sebagaimana diterangkan berulangkali pada kisah beberapa Rasul sebelumnya,

"Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam." (Asy Syu'ara' 26:109, 127, 145, 164, 180)

Ujian kedua Nabi Sulaiman as kepada Ratu Balqis (lantai kaca seperti air) mengandung pesan, bahwa segala apa yang tampak secara inderawi adalah bukan segalanya. Termasuk Ratu Bilqis dan rakyatnya yang menyembah matahari yang terang dan tampak jelas, ternyata bukanlah kebenaran yang sesungguhnya. Manusia memiliki keterbatasan. Allah lah Tuhan yang walaupun tidak tampak, namun kekuasaanya meliputi segala yang tampak maupun yang ghaib.

Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)" (Al An'aam 6:59)

Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Referensi tafsir klik di sini.