Tanggapan Kaum Tsamud terhadap Dakwah Nabi Salih as

Nabi Salih as diutus kepada kaum Tsamud. Menurut riwayat, Nabi Salih as berasal dari keluarga terpandang, sehingga kaumnya terpecah menjadi dua kelompok. Kelompok yang mendukung dan beriman mengikuti Nabi Salih as; dan kelompok yang menolaknya (45). Digambarkan perpecahan kaum Tsamud ini sebagai berikut:

Pemuka-pemuka yang menyombongkan diri di antara kaumnya berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah yang telah beriman di antara mereka, "Tahukah kamu bahwa Salih di utus (menjadi rasul) oleh Tuhannya?" Mereka menjawab, "Sesungguhnya kami beriman kepada wahyu, yang Salih diutus untuk menyampaikannya." (Sementara) orang-orang yang menyombongkan diri berkata, "Sesungguhnya kami adalah orang yang tidak percaya kepada apa yang kamu imani itu." (Al A'raaf 7:75-76)

Allah menurunkan mukjizat berupa unta betina yang bisa diperah susunya tanpa habis, dengan syarat unta betina tersebut tidak boleh diganggu. Kaumnya yang ingkar kemudian sengaja menyembelih unta betina tersebut agar azab Allah segera turun untuk menunjukkan ketidakpercayaan mereka kepada kerasulan Salih as (46-47):

Kemudian mereka sembelih unta betina itu, dan mereka berlaku angkuh terhadap perintah Tuhan. Dan mereka berkata, "Hai Shaleh, datangkanlah apa yang kamu ancamkan itu kepada kami, jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang diutus (Allah)." (Al A'raaf 7:77)

Disebutkan pula terdapat sembilan orang pembesar yang membuat kerusakan yang berlebih-lebihan, yang membawa kaumnya ke dalam kesesatan, kekafiran dan keingkaran kepada Nabi Salih as (48). Merekalah yang berkomplot membunuh unta betina dan menyusun rencana untuk membunuh diam-diam keluarga Nabi Salih as pada malam hari (49-50). Allah kemudian menggagalkan rencana makar mereka dengan menurunkan azab berupa petir dan gempa bumi yang meruntuhkan rumah mereka pada malam tersebut. Mereka semua tewas tertimpa reruntuhan rumah-rumah yang mereka bangun dengan megah (52-53).

Tanggapan Kaum Nabi Luth as atas Dakwahnya

Kemudian Allah menceritakan kisah kaum Luth as yang melakukan perilaku seksual yang keji, hubungan seks sejenis dengan laki-laki (sodomi). Mereka melakukannya dengan terang-terangan penuh kesombongan di siang hari (54-55). Kaumnya kemudian mengusir Luth. Mereka menganggap Luth dan orang yang beriman sebagai orang yang sok suci (mungkin karena mereka mengetahui bahwa perilaku tersebut dapat menular ke siapa saja) (56).

Allah kemudian memerintahkan Luth as dan pengikutnya meninggalkan kota sebelum matahari terbit. Allah melarang Luth mengajak istrinya. Di dalam Tafsir Jalalayn, disebutkan larangan ini disebabkan istrinya yang diam-diam menolak dakwah Luth mengesakan Tuhan (57).

Allah menurunkan azab dengan membalikkan kota tersebut dan dihujani bertubi-tubi oleh batu dari tanah yang terbakar. Istri Nabi Luth as ikut mati bersama kaumnya (58).

Menutup bahasan singkat kisah Rasul dan pengikutnya yang diselamatkan dari makar kaum yang ingkar, Allah menegaskan bahwa Dialah yang melindungi dan menyelamatkan hamba-hamba pilihanNya (yakni para Rasul dan orang beriman pengikutnya). Hal inilah yang tidak mungkin mampu dilakukan oleh berhala sesembahan mereka yang mengingkari risalahNya (59).

Sifat Keagungan Allah SWT

Allah SWT kemudian merinci sifat-sifat keagunganNya yang tidak mungkin dimiliki dan ditandingi oleh apa pun, termasuk berhala sesembahan yang dipersekutukan oleh kaum musyrik.

  1. Dialah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi, lengkap dengan proses-proses alam seperti turunnya air hujan yang menumbuhkan tanaman yang indah (60)

  2. Dialah Tuhan yang menjadikan bumi dengan segala kelengkapannya seperti sungai, gunung dan laut sehingga dapat didiami oleh manusia (61). Di ayat lain diterangkan pula,

    Allah-lah yang menjadikan bumi bagi kamu tempat menetap dan langit sebagai atap, dan membentuk kamu lalu membaguskan rupamu serta memberi kamu rizki dengan sebahagian yang baik-baik. Yang demikian itu adalah Allah Tuhanmu, Maha Agung Allah, Tuhan semesta alam. (Al Mu'min 40:64)

  3. Dialah Tuhan yang memperkenankan doa hambaNya yang dalam kesulitan. Dia pula yang mengangkat kesusahan dan menjadikan manusia sebagai khalifah/mandataris Tuhan di muka bumi (62), sebagaimana dijelaskan pula pada ayat berikut:

    Dan Dia lah yang menjadikan kamu sebagai khalifah-khalifah di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Al An'aam 6:165)

  4. Dialah Tuhan yang memberikan harapan dan rahmat. Dia yang menunjukkan arah kepada manusia di darat dan di tengah lautan. Dia pula yang menghembuskan angin sebagai kabar gembira akan turunnya hujan (63)

    Dan Dialah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kebesaran (Kami) kepada orang-orang yang mengetahui. (Al An'aam 6:97)

  5. Dialah Tuhan yang menciptakan manusia pertama kali dan kemudian membangkitkannya. Dia pula yang menjamin rezeki setiap makhluk di langit dan di bumi (64). Di ayat lain bahkan ditegaskan bahwa menghidupkan kembali adalah lebih sederhana daripada menciptakannya pertama kali:

    Dan Dialah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan)nya kembali, dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya. Dan bagi-Nyalah sifat yang Maha Tinggi di langit dan di bumi; dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Ar Ruum 30:27)

  6. Dialah Tuhan yang mengetahui perkara yang ghaib (65), sebagaimana ditegaskan di ayat lain:

    Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)" (Al An'aam 6:59)

Akhirat adalah Perkara Ghaib

Masih dalam pembahasan sifat Allah yang mengetahui perkara yang ghaib, dijelaskan bahwa salah satu perkara ghaib adalah hari Akhirat. Manusia tidak mengetahui bagaimana Akhirat itu terjadi dan bagaimana proses dibangkitkannya seluruh makhluk kelak kecuali hanya melalui berita yang disampaikan para Rasul melalui wahyu (66). Di ayat lain diterangkan pula,

Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (Luqman 31:34)

Allah kemudian menerangkan respons orang kafir terhadap Akhirat ini sbb:

  1. Meragukan bahwa semua makhluk bisa dan pasti akan dibangkitkan kembali setelah hancur membusuk dalam jangka waktu lama (67)
  2. Menganggap informasi mengenai Akhirat adalah dongeng yang dulu diceritakan nenek moyang secara turun temurun, bertujuan untuk menakut-nakuti mereka saja (68)

Penutup

Dengan segala kemuliaan dan bukti-bukti kekuasaan Allah yang tersebar di seluruh penjuru langit dan bumi tempat manusia tinggal, maka bagi mereka yang berpikir jernih niscaya akan tampak jelas tanda-tanda kehadiran Dzat yang Maha Hidup, yang Maha Menciptakan segenap alam semesta ini. Inilah yang ditegaskan pada ayat berikut:

Sesungguhnya Allah menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. (Yang memiliki sifat-sifat) demikian ialah Allah, maka mengapa kamu masih berpaling? (Al An'aam 6:95)

Dan Maha Suci Tuhan Yang memiliki kerajaan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya. Di sisi-Nyalah pengetahuan tentang hari Kiamat dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan. (Az Zukhruf 43:85)

Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Referensi tafsir klik di sini.