Surat An Nisaa 1-28 membahas perintah dan larangan seputar perempuan, anak yatim, pernikahan, warisan, dan zina. Menurut Ibnu Abbas, anak yatim dibahas berdekatan dg perempuan karena mereka sbg sama2 makhluk yang lemah yg harus dilindungi.

Pertama, Allah memerintahkan kpd kita utk bertakwa. Takwa di sini diulang 2 kali, dengan mensifatkan diriNya sbg Tuhan yang menciptakan manusia dari seorang diri (ketakwaan individu) dan Tuhan yg membuat manusia saling membutuhkan – ketakwaan sosial – yang bertujuan memperluas dan menjaga hubungan silaturahmi (1).

Anak Yatim dan Hukum Waris

Allah menjelaskan bbrp adab kita dlm bersikap thd anak yatim yang dalam pengasuhan kita (bila ada).

Sbg latar belakang, yatim anak2 dan perempuan pada masa sebelum kedatangan Islam dlm posisi yg sangat lemah thd orangtua yang mengasuhnya, shg di sini Allah menjelaskan sangat detail mengenai banyak hal terkait dg pengasuhan, harta dan pernikahan mereka.

  • Harta warisan orangtua mereka yang dititipkan harus diserahkan kpd mereka dan jangan sampai tercampur dg harta kita atau menukarnya dg yg buruk (2)

Allah menegaskannya di ayat lain:

Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih baik (bermanfaat) sampai ia dewasa dan penuhilah janji; sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnya. (Al Israa 17:34)

  • Dalam hal kita tertarik menikahi anak perempuan yatim yg dlm pengasuhan kita sementara kita khawatir akan berbuat tdk adil dan zalim thd dia dan hartanya, maka disarankan utk menghindarinya dan menikahi perempuan yang lain (selama jumlah istri tdk lebih dari 4) sbg jalan yg lebih baik dan lebih dekat kpd keadilan (3)
  • Dalam hal kita khawatir zalim, tdk bisa berlaku adil dg menikahi lebih dari 1 perempuan (poligami) maka diperintahkan mencukupkan diri dg 1 istri saja (3)
  • Perempuan yg dinikahi wajib diberikan mahar (termasuk perempuan yatim di atas – diperlakukan sbgmana perempuan umumnya). Tidak boleh dikurangi dg alasan misalnya krn kita sdh membesarkan mereka (4)
  • Menyerahkan harta warisan dari orangtua mereka setelah mereka dewasa dan cukup pengetahuan. Untuk ini kita diperintahkan melakukan fit and proper test / uji kelayakan atas kemampuan mereka dlm mengambil keputusan dan mengelola keuangan (5-6)

Kemampuan mengelola keuangan ini digambarkan sbg sikap pertengahan spt yang disebutkan di ayat berikut:

Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian. (Al Furqan 25:67)

  • Boleh menggunakan harta mereka untuk mencukupi kebutuhan mereka; dan tdk boleh utk memperkaya/keuntungan kita. Tetapi bila dalam keadaan terpaksa krn miskin maka kita dibolehkan memakai secukupnya utk kebutuhan kita (6)
  • Kalau kita akan menyerahkan harta kpd mereka maka harus jelas, ada saksinya utk menghindari persengketaan di kemudian hari (6)
  • Laki2 dan perempuan memiliki hak menerima warisan dari peninggalan orangtuanya dan kerabatnya (7)
  • Bila pembagian warisan dilakukan terbuka, maka harus pula dibagikan sekedarnya kpd yg menyaksikan, yakni kerabat, anak yatim dan org miskin (8)

Kemudian Allah menekankan perlunya kita sbg orangtua utk mempersiapkan bekal yang cukup bagi anak2 kita sepeninggal kita. Jangan sampai mereka menjadi generasi yg lemah (spt anak yatim). Bekal di sini utamanya adalah bekal finansial ttp bisa juga secara umum, bekal pendidikan, keahlian, etos kerja, disiplin dll (9). Terhadap anak yatim sendiri kita dilarang keras mengambil harta mereka secara zalim (semena-mena) (10).

Di ayat selanjutnya Allah menerangkan hukum waris bagi anak laki2, perempuan, ibu dan bapak dari yang meninggal (11).

Kemudian diterangkan juga pembagian waris bagi suami, istri, dan saudara seibu (12).


Catatan Mengenai Poligami

Di dalam tafsir Al Munir dijelaskan bhw dibolehkannya poligami dikarenakan adanya sesuatu yang bersifat sangat mendesak (darurat) sbb:

  1. Istri mengalami kemandulan
  2. Banyaknya jumlah perempuan yg jauh lebih besar daripada laki-laki
  3. Kondisi fungsi seksual (suami ataupun istri)

Rasulullah sendiri tidak menikah lagi setelah wafatnya Khadijah selama 5 tahun, sampai usia beliau sekitar 50-54 tahun, sedangkan istri beliau yang lain masing2 dinikahi dg sebab kemaslahatan khusus sbb:

  1. Saudah binti Zam’ah, utk menyelamatkan dari siksaan keluarganya (termasuk suaminya) krn dia salah satu wanita pertama yg masuk islam.
  2. Aisyah, utk menghormati sahabat Nabi Abu Bakar RA.
  3. Hafsah, utk menghormati sahabat Nabi Umar RA.
  4. Zainab binti Jahsy, utk menghapuskan kebiasaan sistem anak angkat, spt tdk boleh menikahi bekas istri anak angkat
  5. Juwairiyah binti Al Harits, utk membebaskan tawanan dan mengislamkan Bani Musthalaq krn dia putri pimpinan Bani Musthalaq
  6. Zainab binti Khuzaimah, utk menggantikan suaminya yg gugur di perang Uhud. Beliau dikenal sbg ibunya org miskin krn kedermawanannya.
  7. Ummu Salamah, utk menghibur krn meninggal suaminya, Abu Salamah dan penghargaan atas kemuliaan dan ketepatan pandangannya pada peristiwa Hudaibiyah
  8. Ummu Habibah binti Abu Sofyan, untuk membujuk kaumnya agar masuk Islam, setelah cerai dari suaminya yg Nasrani
  9. Shaffiyyah binti Huyay, pemuka Bani Quraizhah dan Nadhir, untuk membebaskannya dari tawanan perang Khaibar
  10. Maimunah binti Al Harits (istri terakhir), setelah meninggal suaminya yg kedua, dan utk menghormati hubungan dg Bani Hasyim dan Bani Makhzum.

Menurut Muhammad Syahrur, ayat poligami di tengah-tengah ayat mengenai anak yatim di atas menunjukkan penitikberatan pada upaya pengasuhan, pengayoman dan perlindungan kepada anak. Untuk pernikahan pertama, istri dibolehkan perempuan yang berstatus perawan atau janda. Tetapi pada pernikahan kedua, ketiga dan keempat, istri haruslah berstatus janda yang telah mempunyai anak yatim. Hal ini agar sesuai dengan tujuan utamanya, yakni pengayoman dan perlindungan terhadap anak yatim. Menurut Syahrur pula, poligami akan lebih menjamin kesejahteraan dan kebahagiaan anak dibandingkan tempat pengasuhan atau adopsi anak, sebab anak dapat hidup dalam keluarga yang utuh. Bila dijalankan seperti di atas, maka menurut beliau ada beberapa manfaat poligami, sbb:

  1. Adanya laki-laki di sisi seorang janda yang akan dapat menjaga dan memeliharanya agar tidak terjerumus dalam perbuatan keji, yang pada akhirnya dapat mempengaruhi kehidupan anaknya.
  2. Memberikan tempat perlindungan yang aman bagi anak-anak yatim dimana mereka tumbuh dan dididik di dalamnya
  3. Keberadaan sang ibu di sisi anak-anak mereka yang yatim senantiasa dapat bisa mendidik dan menjaga mereka sehingga dapat melindungi anak-anak agar tidak menjadi gelandangan serta terhindar dari kenakalan remaja

In summary, sistem poligami di dalam Islam sebenarnya adalah sebuah sistem atau solusi yang diterapkan dlm keadaan darurat atau krn adanya kemaslahatan umum atau khusus.

Maha Benar Allah dg segala firmanNya.

Wallahu a’lam.

Referensi Tambahan: