Melanjutkan tema peperangan di ayat sebelumnya, Allah melarang kita utk bermental lemah, skeptis dan bimbang dlm berperang. Dikatakan pula, utk tdk kecil hati dg luka dan penderitaan yg kita alami dlm peperangan krn hal yg sama pun juga dialami oleh musuh. Namun bedanya adalah motivasi kita berperang adalah utk mengharapkan ridho dan balasan surga yg kekal (104).

Memutuskan Hukum dan Menjalankan Peradilan

Ayat 105-113 ini dilatarbelakangi kasus Thu’mah bin Ubairiq, seorg muslim dari golongan Anshar yg mencuri perisai milik pamannya dan meminta bantuan seorang Yahudi bernama Zaid bin Samin utk dititipkan di rumahnya. Ketika akhirnya perisai ini ditemukan di rumah Zaid, Thu’mah ini kemudian merekayasa dan berbohong dg mengatakan bhw dia tdk tahu apa2 mengenai perisai tsb. Hampir saja Rasulullah memutuskan bhw pasti Zaid (Yahudi) yg salah dan Thu’mah benar, shg akhirnya turunlah rangkaian ayat ini.

Allah memberikan guidance kpd kita dlm memutuskan hukum thd org yg berbuat khianat (sebagian ulama menafsirkan sbg org munafik):

  1. Menjadikan Al Quran sbg referensi utama memutuskan mana yg benar dan yg salah, kitab yg diyakini kebenarannya (105)
  2. Bersikap teguh, tidak terpengaruh oleh subyektivitas kita pribadi shg tanpa sadar membela mereka yg bersalah/berkhianat (105).
  3. Menghadapkan diri kpd Allah, Yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang, memohon ampunanNya atas ketidakadilan yg mgkn terjadi krn keterbatasan kita (106).
  4. Jangan membela dan menjadi pembela bagi orang yg berkhianat (munafik), krn amat besar kebencian Allah kpd mereka (107). Disebutkan mereka ini dibenci Allah krn senang/mudah berkhianat, bergelimang dosa (tdk peduli halal-haram) dan pura2 menjadi baik di depan umum padahal sebenarnya mereka benci dan bersiasat buruk thd umat Islam (108).

Allah kemudian mensinyalir ada di antara org Islam yg membela kaum munafik yg berkhianat ini (demi keuntungan di dunia – materi, kedudukan, kehormatan, dll). Usaha mereka ini sebenarnya sia-sia saja krn kalau pun org2 yg berkhianat ini lolos dari hukuman di dunia, tetap saja di akhirat tdk ada yg bisa membela dan melindungi mereka dari siksa Allah (109).

Kepada mereka yg berkhianat ini sebenarnya pintu ampunan dan kasih sayang Nya tetap terbuka kalau mereka bertaubat (110). Dan kalau mereka tdk mau bertobat, maka tdk ada yg dirugikan kecuali dirinya sendiri (111).

Ayat selanjutnya Allah mengingatkan kita utk mewaspadai perilaku org yg menuding org lain padahal dia sendiri yg berbuat salah (spt yg dilakukan oleh Thu’mah di atas). Org spt ini sebenarnya melakukan 2 kesalahan: 1) berbohong krn tdk mengakui perbuatannya. 2) dosa krn perbuatan yg dilakukannya (112).

Kemudian dijelaskan Allah akan melindungi kita dari kebimbangan dan salah dlm memutuskan melalui karunia dan rahmatNya, dg syarat:

  1. Teguh berpegang pada Al Quran dan hikmah (sunnah rasul dan kebijaksanaan)
  2. Berusaha keras dg segenap akal pikiran dan pertimbangan hati2 dlm memahami permasalahan yg dihadapkan di depan kita sebelum mengambil keputusan (113)

Maha Benar Allah dg segala firmanNya.

Wallahu a’lam