Adab Suami Istri di dalam Rumah Tangga (part 2)

Pembahasan yg mirip dg di Surah An Nisa ayat 34-35 ini (lihat ODOP 4:27-35 hari minggu lalu) dibahas kembali di ayat 128-130:

  • Perintah kpd suami istri utk berdamai kalau terjadi nusyuz dilakukan oleh pihak suami. Nusyuz ini menurut jumhur ulama adalah sikap abai thd hak suami/istri spt tdk peduli (ignoring), menolak tidur bersama dan ingin pisah/meninggalkan istri/suami.

Jadi kalau An Nisaa ayat 34 sebelumnya membahas mengenai nusyuz yg dilakukan oleh istri (dimana suami diminta melakukan 3 hal secara progresif) maka di ayat 128 ini adalah kalau nusyuz dilakukan oleh pihak suami dimana diperintahkan untuk melakukan perdamaian dg sebenar2nya. Sebagian ulama menafsirkan perdamaian ini sbg cara istri membujuk suaminya agar kembali tertarik kpd dia, atau dengan melepas sebagian hak2nya supaya bisa tetap mempertahankan pernikahan tsb.

  • Dalam hal sdh berpoligami, maka diperintahkan utk tetap mengutamakan sikap adil. Ditegaskan di sini Allah tahu bhw tdk mungkin bisa berlaku adil (terutama adil dlm perasaan), ttp kita tetap diperintahkan terus mengusahakan perlakuan adil thd semua istri poligami tsb minimal secara materi spt jatah giliran, nafkah, sandang dan papan (129)
  • Dibolehkannya bercerai sbg jalan terakhir dan suami-istri yg bercerai tsb diperintahkan utk menyadari bhw yg memberi rezeki karunia bukanlah istri/suami mereka, melainkan adalah Allah Yang Maha Luas KaruniaNya (130)

Di ayat lain, dijelaskan dibolehkannya istri memberikan sesuatu dari hartanya supaya suaminya menceraikannya.

Jika kamu (wali) khawatir bahwa keduanya tidak mampu menjalankan hukum-hukum Allah, maka keduanya tidak berdosa atas bayaran yang (harus) diberikan (oleh istri) untuk menebus dirinya (Al Baqarah 2:229).

Perintah Bertakwa

Allah membuka perintah takwa ini dg kalimat yg sama di awal ayat 131 dan 132, “Dan kepunyaan Allah lah apa yg di langit dan yang di bumi”. Implisit di sini kita dipesankan, bhw kalau bicara takwa maka ingatlah, tundukkanlah hati kita kpd Dzat yang memiliki segenap apa yang ada di langit dan bumi.

Baru kemudian dilanjutkan dg penjelasan bhw perintah takwa sdh diperintahkan pula di kitab2 sebelumnya (pertengahan ayat 132) dan sifat Allah yg bukan hanya memiliki alam semesta tetapi juga sebagai Pemelihara Alam Semesta (pertengahan ayat 133-134).

Allah kemudian mengingatkan utk kita berharap balasan kebaikan dari amal ketakwaan kita di dunia dan akhirat, jangan berharap balasan di dunia saja (134). Peringatan yg sama juga disebutkan di ayat lain:

…Maka di antara manusia ada orang yang bendoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia”, dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat.
Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”.
Mereka itulah orang-orang yang mendapat bahagian daripada yang mereka usahakan; dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya. (Al Baqarah 2:200-202)

Perintah Bersikap Adil

Allah menjelaskan dg sangat indah perintah untuk bersikap adil dlm bermasyarakat:

  1. Jadilah penegak keadilan yg benar2 menegakkan keadilan
  2. Jadilah saksi yg takut kpd Allah, menjaga integritas diri walaupun thd kepentingan diri sendiri, orangtua dan kerabat saudara.
  3. Jangan mengikuti hawa nafsu. Jangan memihak kpd si kaya krn kekayaannya, dan jangan pula kpd si miskin krn belas kasihan dan iba thd kemiskinannya.

Di ayat lain, Allah mencontohkan Daud utk menghindari mengikuti keinginannya semata dlm memutuskan perkara:

…maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah… (Shaad 38:26)
4. Jangan bersaksi palsu, memberikan keterangan yg berbelit2 dan bohong.
5. Jangan menolak menjadi saksi kalau memang kita ditunjuk atau mengetahui kasus hukum tsb

Di ayat lain dijelaskan juga:

Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al Maaidah 5:8)

Ayat ini kemudian dilanjutkan dg peringatan Allah bhw utk menjaga keimanan kpd Allah dan rasulNya serta tetap menjadikan Al Quran sbg pedoman, tdk boleh dilanggar dlm memutuskan perkara hukum. Hal yg sama ditegaskan di bbrp ayat sebelumnya:

Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat (An Nisaa 4:105)

Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. (Al Mumtahina 60:8)

Sbg informasi, An Nisaa ayat 135 ini dikutip di Harvard Law School Entrance Wall dan diakui sebagai salah satu ekspresi keadilan terbesar.

Mereka yg Ragu dlm Keimanan

Allah menegaskan bhw siapa pun yg meninggalkan, kafir kpd Allah, malaikat2Nya, kitab2Nya, rasul2Nya dan hari akhir maka sebenarnya mereka ini sesat – sangat jauh kesesatannya. (136).

Kemudian dijelaskan perilaku sekelompok org yg ragu-ragu: mereka beriman, kemudian kafir, beriman kembali, balik kafir lagi dst, bhw hal itu hanya akan menambah gelapn hati mereka (tambah sulit) dlm menerima hidayah. Mereka ini disamakan sbg org musyrik yg tdk terampuni dosanya (melalui siksa neraka atau amal lainnya) kecuali mereka sempat bertaubat sebelum meninggal (137).

Orang Munafik

Allah menjelaskan definisi orang munafik, yakni mereka yang lebih mempercayai orang2 kafir sbg teman dekat, wali kepercayaan, dan pemimpin mereka daripada org beriman. Allah menegur org munafik ini dg “Apakah org munafik ini mencari kekuatan (perlindungan keamanan, status, dan kelapangan rezeki) dari org kafir tsb? Padahal sebenarnya hanya Allah yg memiliki semua kekuatan” (138-139).

Allah kemudian memerintahkan kpd kita utk meninggalkan teman, diskusi, atau grup yang (140):

  • Menganggap remeh / enteng kandungan ayat2 Al Quran
  • Mempermainkan, menjadikan bahan olok2 kandungan, istilah yg ada di dalam ayat2 Al Quran (termasuk spt kata “kafir”)

Mereka semua ini (kafir dan munafik) diancam neraka Jahannam (140).

Maha Benar Allah dg segala firmanNya.

Wallahu a’lam