Setelah menerangkan hukum waris bagi anak laki2, perempuan, orangtua serta suami, istri, dan saudara seibu, ditegaskan bhw itu semua adalah hukum yang sudah ditetapkan oleh Allah melalui rasulNya dan bersifat mandatory. Siapa yang taat dan tdk khianat dijanjikan kemenangan besar berupa surga, sedangkan yg ingkar diancam siksa neraka yang menghinakan dan kekal (13-14).

Hukum terhadap Pezina

Di ayat selanjutnya dijelaskan hukum bagi wanita pezina di periode awal islam, dimana dibutuhkan 4 saksi utk membuktikannya. Kalau terbukti maka ybs dikucilkan dan tdk boleh keluar rumah seumur hidup atau jalan keluar lain yg ditentukan Allah kemudian (15).

Kemudian Allah memberikan jalan keluar dg merevisi hukum tsb melalui ayat berikut:

Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera/cambuk, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman. (An Nuur 24:2)

Hingga akhirnya melalui hadits ditetapkanlah hukum final bagi pezina. Jumhur ulama pun sepakat menyamakan laki2 pezina dg wanita pezina.

  • Laki2/perempuan yg belum pernah menikah: hukum cambuk sebanyak 100x dan diasingkan selama 1 th
  • Laki2/perempuan yg sdh pernah menikah: hukum rajam sampai mati

Kemudian Allah menerangkan bhw bila pelaku zina ini telah selesai melaksanakan hukumannya dan bertaubat maka kita dilarang menghina atau menyebut2 perbuatan mereka, krn Allah yg Maha Penerima Taubat dan Maha Penyayang sudah menghapus kesalahan dan menerima taubat mereka (16).

Taubat kepada Allah

Allah selanjutnya menjelaskan mengenai kriteria taubat yang diterima, yakni (17):

  1. Mereka melakukan kesalahan krn jahil, tdk terencana, khilaf krn syahwat atau amarah
  2. Mereka segera bertaubat setelah menyadari kesalahannya

Kemudian dijelaskan pula, kriteria mereka yg tdk diterima taubatnya (18):

  1. Mereka yg bertaubat ketika ajal sdh di depan mata

Di ayat lain dicontohkan ditolaknya taubat Firaun di saat dia menjelang ajal;

…hingga bila Fir’aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia: “Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”.
Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. (Yunus 10:90)

Hal yg sama dijelaskan juga di dalam hadits lain:

Sesungguhnya Allah akan menerima taubat seorg hamba selama ia belum mengeluarkan suara naza’ (nyawa belum sampai kerongkongan)
2. Mereka yg meninggal dlm keadaan musyrik, walaupun sebelumnya pernah Islam dan sdh bertaubat

Di ayat 19, Allah menjelaskan bbrp hak dan larangan terkait perempuan di dalam pernikahan:

  • Tidak memperlakukan mereka spt barang yang dapat diwariskan tanpa mahar dan tanpa persetujuan sukarela dari ybs. Budaya ini umum dilakukan di masyarakat Jahiliah dulu dimana janda dari yg meninggal diserahkan kpd wali nya utk dinikahi atau dinikahkan kpd keluarga lain yg berminat tanpa mahar dan persetujuan si perempuan.
  • Tidak mengambil kembali harta yg sdh diberikan kpd mereka kecuali bila terbukti mereka berbuat keji/zina
  • Mendahulukan sikap sabar thd mereka bila kita tdk suka kpd mereka (krn sebab spt cacat fisik, kepribadian, dll). Allah menjelaskan pula, bisa jadi walaupun kita tdk suka, ttp Allah memberi banyak kebaikan pada diri mereka (yang saat ini mgkn belum tampak).

Di dalam hadits Nabi bersabda:

Janganlah seorang laki2 beriman (suami) membenci seorang perempuan beriman (istri), krn perempuan tsb memiliki perilaku yg tdk disukainya. Maka (bisa jadi) ia memiliki perilaku lainnya yg disukainya (HR Muslim dari Abu Hurairah)

Maha Benar Allah dg segala firmanNya.

Wallahu a’lam