Orang Munafik (2)

Melanjutkan ayat sebelumnya mengenai org munafik Allah menjelaskan bbrp perilaku mereka:

  • Bermuka dua dan oportunis mendekati pihak yang menang berperang (141)
  • Mereka pura-pura taat dan baik di depan umum dg menganggap Allah pun tdk tahu motif mereka sebenarnya. Disebutkan kemudian bhw Allah membalas tipuan mereka (142).

Allah membalas tipuan ini maksudnya adalah mereka sebenarnya hanya menipu diri sendiri spt disebutkan di ayat lain:

Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. (Al Baqarah 2:9)

Di ayat lain, bahkan disebutkan mereka tdk sadar sedang menipu diri sendiri ini hingga saat mereka dibangkitkan nanti di hari akhir:

(Ingatlah) hari (ketika) mereka semua dibangkitkan Allah lalu mereka bersumpah kepada-Nya (bahwa mereka bukan musyrikin) sebagaimana mereka bersumpah kepadamu; dan mereka menyangka bahwa mereka akan memperoleh suatu (manfaat). Ketahuilah, bahwa sesungguhnya merekalah orang-orang pendusta. (Al Mujaadalah 58:18)

  • Kalaupun mereka melaksanakan ketaatan kpd Allah (spt sholat) maka mereka setengah hati mengerjakannya hanya agar kelihatan baik dilihat orang (142)
  • Kalau dilihat kesehariannya, mereka pun sebenarnya sangat sedikit mengingat Allah, tdk tertarik thd hal2 yg membawa ketaatan kpd Allah (142)
  • Hati mereka bimbang, tdk ajeg, selalu ragu2. Ini disebabkan krn mereka terus menipu diri, berusaha diterima di kalangan muslim dan juga di kalangan kaum musyrik dan ahli kitab, menolak panggilan hati nurani yg aslinya condong kpd kebenaran dan tdk suka berbohong (143)

Sikap ragu2 ini diterangkan juga di ayat lain dan hadits berikut:

Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat…
Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu. (Al Baqarah 2: 17, 20)

Perumpamaan org munafik adalah spt seekor domba yg kebingungan dan bimbang di antara 2 kumpulan kambing, terkadang ke kumpulan kambing yg ini dan terkadang ke kumpulan kambing yg itu (HR Muslim)

Orang Munafik sbg Pemimpin

Allah mengulangi kembali larangan untuk memilih org kafir sebagai wali (penolong, pemimpin, org yg pendapatnya didengar, pengambil keputusan strategis) dan mengancam diturunkannya musibah dan azab Nya bagi masyarakat yg abai thd larangan ini (144).

Di ayat lain disebutkan juga bhw kaum kafir ini berusaha dg cara menakut-nakuti akan terjadi sesuatu bahaya/musibah kalau kaum muslim tdk memilih mereka sbg pemimpinnya.

Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali(mu). (Ali Imran 3:28)

Melihat konteks ayat sebelum dan sesudahnya, maka tampaknya org kafir yg dimaksud di ayat ini adalah org munafik – berbeda dg Al Maaidah 51 yg spesifik kepada Nasrani dan Yahudi. Di Al Quran kafir adalah istilah umum utk mereka yg tertutupi hatinya dari menerima hidayah Allah (lihat juga bahasan lalu mengenai Kafir = Yahudi + Nasrani + Munafik + Musyrikin).

Larangan thd memilih pemimpin org munafik ini disebutkan juga spesifik di ayat berikut:

Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). Maka janganlah kamu jadikan di antara mereka penolong-penolong(mu), hingga mereka berhijrah pada jalan Allah. Maka jika mereka berpaling, tawan dan bunuhlah mereka di mana saja kamu menemuinya, dan janganlah kamu ambil seorang pun di antara mereka menjadi pelindung, dan jangan (pula) menjadi penolong (An Nisaa 4:89)

Kedudukan dan Taubatnya Orang Munafik

Selanjutnya di ayat 145, Allah menerangkan bhw kaum munafik ini adalah manusia paling buruk dan paling dilaknat Allah (tingkatan neraka paling bawah) – bahkan lebih buruk daripada org musyrik dan ahli kitab (menurut bbrp mufasir), walaupun mereka mengaku beriman dan sehari2nya banyak bergaul dg kaum muslim.

Allah kemudian menjelaskan howto bagi org munafik ini kembali kpd keimanan (146):

  1. Bertaubat
  2. Mengubah sikap dan sifat mereka yg buruk
  3. Kembali teguh melaksanakan ketaatan menjalankan syariat Islam
  4. Menata hati, meluruskan niat, mengikhlaskan hati dlm beribadah dan berbuat kebaikan semata krn berharap ridho dan ampunan Allah

Ayat 146 ini ditutup dg penegasan bhw siapa saja dari mereka (kaum munafik) yang mau melaksanakan 4 hal di atas, mereka akan kembali bersama2 org beriman dan akan masuk surga bersama mereka (146).

Di ayat2 selanjutnya, Allah pun menjelaskan bbrp pedoman agar kita terhindar, immune dari penyakit munafik ini:

  1. Menjaga keimanan kpd Allah (147)
  2. Menjaga rasa syukur kpd Allah, mengingat besarnya nikmat Allah dlm setiap hal yg kita hadapi sehari2 (147)
  3. Menjaga ucap perkataan hanya yg baik2 (148)
  4. Memaafkan kesalahan org lain, tdk menggunjingkan kesalahan dan aibnya (149). Hal ini juga ditegaskan di ayat lain:

Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui. (An Nuur 24:19)
5. Menerima dan melaksanakan ketaatan kpd Allah secara kaffah, tdk memilih2 ayat dlm menaati Allah (150-152)

Sikap Ingkar Ahli Kitab

Ayat 153 dst menjelaskan kaum Yahudi yang sdh diutus kpd mereka rasul2 yg membawa banyak mukjizat, tetapi tetap saja kebanyakan mereka ingkar dan akhirnya dimaafkan Allah. Kemudian mereka berjanji kpd Allah utk kembali taat dg menerima perintah utk berhijrah ke tanah yang dijanjikan setelah mereka terusir dari Mesir dan larangan mencari ikan pada hari Sabtu (154). Di ayat selanjutnya diterangkan bhw akhirnya mereka ini pun melanggar janji taubat ini.

Maha Benar Allah dg segala firmanNya.

Wallahu a’lam