Masih mengenai ahli kitab (kaum Nasrani), ayat 176 menjelaskan ajakan kpd mereka utk kembali kpd Tauhid mengesakan Allah, berhenti percaya bhw Tuhan itu tiga dan punya anak. Kemudian dijelaskan bhw Isa dan malaikat (ruh kudus) yang dituhankan oleh mereka pun sebenarnya tdk pernah meminta utk disembah (172).

Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?”. Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakan maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib”. (Al Maaidah 5:116)

Kemudian di ayat berikutnya, Allah mengkontraskan mereka yg beriman dan yang menolak taat kpdNya.

Org yg beriman dan beramal saleh, mereka ini dijanjikan (173):

  • Disempurnakan pahalanya, dimaafkan kekurangan kecil2 dari amalnya.
  • Diberikan bonus berupa kemudahan dlm mendapatkan karunia Allah, spt rezeki, kesehatan, keturunan dll

Orang yg menolak taat dan sombong, enggan merendahkan hati kpd Allah SWT, mereka ini diancam dg (173):

  • Siksa yg pedih
  • Kehidupan yg susah krn hanya mendapatkan apa yg mereka usahakan saja. Tdk ada bonus kemudahan dan pertolongan khusus dari Allah SWT

Ayat 174 kemudian menerangkan bhw beriman dan ingkar yg dijelaskan di atas adalah pilihan bagi manusia keseluruhan krn sdh diutusnya rasul (Rasulullah) yang membawa kitab (Al Quran) yg memberikan petunjuk yg sangat jelas bagaimana beriman dan beramal saleh yg disebut di ayat 173 sebelumnya. Selanjutnya diterangkan juga akhir kesudahan bagi mereka yg beriman dan beramal saleh ini, yakni bimbingan ke jalan yg lurus dan pahala surga.

Terakhir, ayat 176 Allah menjelaskan mengenai hukum waris bagi orang yang meninggal ttp tidak ada anak dan ayah, istilahnya kalalah dimana hartanya diberikan kpd saudara yg lain dg aturan2 tertentu.

Masuk ke surat Al Maaidah yg menurut riwayat surat terakhir yg diturunkan.

Allah menjelaskan kpd orang beriman:

  • Perintah utk memenuhi janji, baik kpd sesama manusia ataupun kpd Allah.
  • Halalnya binatang ternak, kecuali bbrp yg diharamkan baik krn jenis (spt babi) maupun krn hal lain (misalnya mati – bangkai)
  • Larangan2 dlm haji: berburu (1), berperang, mengganggu hewan yg dilindungi dan hewan ternak, mengganggu org yg akan berhaji (walaupun orang2 atau kelompok yg tdk kita sukai krn berbeda pendapat atau permusuhan) (2)
  • Haramnya bangkai, darah, babi, sembelihan atas nama selain Allah (termasuk sembelihan utk sesajen berhala), binatang yg mati krn tercekik, terpukul, jatuh, ditanduk, dan diterkam kecuali kalau sempat disembelih sebelum mati (3)
  • Halalnya hewan hasil tangkapan binatang buruan asal disebutkan nama Allah sebelum melepasnya (4)
  • Mengundi nasib, berjudi (untung2an) (3)

Kemudian Allah menerangkan sudah sempurnanya risalah syariat agama Islam yang disampaikan oleh Rasulullah, sbg satu2nya agama yg diridhoi Allah (3).
Menurut riwayat, ayat ini turun di Padang Arafah pada hari Jumat setelah Ashar. Setelah turunnya ayat ini, tdk ada lagi turun ayat yg berkenaan dg hukum syariat hingga wafatnya beliau.

Hukum Sembelihan dan Menikahi Perempuan Ahli Kitab

Terkait dg ahli kitab (kaum Yahudi dan Nasrani), dijelaskan bbrp hal terkait dg mereka:

  • Halalnya hasil sembelihan mereka
  • Dibolehkannya menikahi perempuan baik2 dari mereka (5)

Tata Cara Bersuci (Thaharah)

Ayat 6 menjelaskan mengenai tata cara bersuci (wudhu, tayamum dan mandi). Ditegaskan bhw tujuan perintah bersuci ini adalah bukan utk mempersulit kita, melainkan untuk membersihkan kita, menyempurnakan nikmat Allah (agar kita bisa tetap sehat, higienis, dan tenang) (6).

Janji Taat kpd Allah dan RasulNya

Allah mengingatkan akan janji kita utk taat thd risalah Allah dg sikap sami’na wa atha’na (7), baik dlm kondisi lapang maupun sempit. Perjanjian ini disebutkan di ayat lain sbb:

Dan mengapa kamu tidak beriman kepada Allah padahal Rasul menyeru kamu supaya kamu beriman kepada Tuhanmu. Dan sesungguhnya Dia telah mengambil perjanjianmu jika kamu adalah orang-orang yang beriman. (Al Hadid 57:8)

Menegakkan Keadilan

Terkait dg bersikap adil, kita diperintahkan untuk (8):

  • Menegakkan kebenaran, selalu mencari kebenaran dlm suatu perkara
  • Menjadi saksi dg adil dan jujur
  • Mengutamakan sikap adil. Tdk menjadi subjektif krn kesukaan atau ketidaksenangan kita kpd seseorang / kelompok tertentu. Ditegaskan bhw sikap adil itu lebih dekat kpd ketakwaan kpd Allah.

Terakhir di ayat 9, Allah mengulangi janjiNya terhadap orang yg beriman dan beramal saleh, yakni ampunan dan pahala yang besar (surga).

Maha Benar Allah dg segala firmanNya.

Wallahu a’lam.


Tambahan Terkait Menikahi Perempuan Ahli Kitab

Menikahi ini sifatnya pembolehan (sbg opsi terakhir) dan pembolehan ini ada T&C nya: hanya perempuan Nasrani Yahudi yang menjaga kehormatan (baik2) (spt di ayat 5) dan tdk memusuhi, merendahkan syariat Islam (kafir dzimmah). Menjaga kehormatan ini menurut Ath-Thabari adalah wanita yang membentengi dirinya dari perbuatan nista dan menjaga kemaluannya dari perbuatan tercela. Beliau juga menambahkan syarat bhw ini dibolehkan selama tdk ada kekhawatiran anak2 akan dipaksa menjadi kafir. Jadi setuju kita harus konservatif.

Satu lagi, mengenai perempuan yang tidak menjaga kehormatan, mereka tidak boleh dinikahi, baik muslimah ataupun ahli kitab sebelum mereka bertaubat berdasarkan ayat berikut:

Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mukmin. (An-Nuur 24:3)

Wallahu a’lam.