Melanjutkan ayat sebelumnya mengenai bbrp hak dan larangan terkait perempuan di dalam pernikahan:

  • Dalam hal perceraian, suami tdk boleh mengambil sedikit pun dari harta yg sdh diberikan kpd istri, walaupun harta yg diberikan itu banyak (20). Dijelaskan pula, bhw hal ini sangat tidak pantas krn suami sdh mencampuri istri dan pernikahan merupakan perjanjian yg kuat (mitsaqon gholizo) (21).

Kalau melihat istilah mitsaqon gholizo, maka ternyata hanya disebutkan 3 kali dlm Al Quran:

  1. An Nisaa ayat 21 ini, mengenai pernikahan

  2. An Nisaa ayat 154, mengenai perjanjian Allah dg orang Yahudi, yg salah satunya turun perintah Allah (10 commandments?) di bukit Thursina.

Dan telah Kami angkat ke atas (kepala) mereka bukit Thursina untuk (menerima) perjanjian (yang telah Kami ambil dari) mereka. Dan kami perintahkan kepada mereka: “Masuklah pintu gerbang itu sambil bersujud”, dan Kami perintahkan (pula) kepada mereka: “Janganlah kamu melanggar peraturan mengenai hari Sabtu”, dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang kokoh. (An Nisaa 4:154)

  1. Al Ahzaab ayat 7, mengenai perjanjian Allah dg para Rasul

Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari nabi-nabi dan dari kamu (sendiri) dari Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa putra Maryam, dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang teguh. (Al Ahzaab 33:7)

Dari ayat2 di atas, Allah seakan hendak berpesan kpd kita bhw perjanjian pernikahan itu sama kuat dan kokohnya dg perjanjian Allah dg kaum Musa ketika berbicara dg Musa di bukit Thursina dan juga perjanjian Allah dg para RasulNya.

Kemudian Allah menerangkan perempuan yang dilarang dinikahi:

  • Perempuan yg pernah dinikahi oleh ayah kandung. Perbuatan ini dikatakan sangat keji – mgkn krn status mereka yg mirip dg ibu kandung (22). Hal ini adalah umum dlm tradisi Jahiliah sebelum Islam.
  • Ibu, anak perempuan, kakak adik, kakak adik dari ayah dan ibu, keponakan, ibu sepersusuan (milk-mother), saudara sepersusuan, mertua, anak angkat dari istri, menantu, dan memperistri adik kakak dlm satu waktu (23), dan perempuan bersuami (24)

Allah selanjutnya memberikan opsi bagi laki2 yang tdk mampu menikah, yaitu dg menikahi budak wanita yang beriman dan menjaga kehormatan diri dg izin tuan mereka dan dg tetap memberikan mahar yang pantas. Kesabaran dlm menikahi budak wanita yg menjaga kehormatan dikatakan masih lebih baik daripada terjerumus pada perbuatan zina (25).

Sbg tambahan, budak zaman dulu itu dianggap sbg barang komoditas, mirip spt hewan piaraan (sapi, kerbau) yg dipelihara utk dimanfaatkan tenaganya. Jadi berat sekali secara status sosial saat itu utk menjadikan mereka sbg istri. Utk itulah Allah memberi penekanan agar bersikap ekstra sabar dlm menjalaninya dan janji ampunan serta kasih sayangNya yang luas krn khilaf dan salah akibat kesenjangan yg besar ini (25).

Terakhir, Allah menjelaskan alasan mengapa masalah perempuan ini dibahas dg detail di ayat2 sebelumnya, dg tujuan (26):

  • Menetapkan aturan yg tdk membingungkan dan lebih adil (thd perempuan) utk mengganti kebiasaan Jahiliah sebelumnya.
  • Allah memberikan pemutihan dosa dg membuka pintu taubat thd perbuatan lalu (27) yg terjadi sebelum Islam datang (spt larangan yg disebut di ayat 22 dan 23 di atas yg diperbolehkan kalau sdh terjadi sebelum turun ayat ini)
  • Allah hendak memberi keringanan melalui syariat dan ketentuan yg mudah dan ringan. Allah telah menciptakan manusia dlm keadaan lemah dlm menghadapi berbagai kecenderungan batin. Maka sangatlah sesuai jika beban2 yg diberikan kpdnya mengandung unsur kemudahan dan keluasan (28)

Maha Benar Allah dg segala firmanNya.

Wallahu a’lam