Kemudahan dalam Beragama

Melanjutkan ayat sebelumnya, tujuan lainnya dari diturunkannya ayat2 mengenai perempuan ini adalah utk memberikan keringanan dlm melakukan ketaatan kpd Allah. Allah telah menciptakan manusia dlm keadaan lemah yg menghadapi berbagai kecenderungan batin. Maka sangatlah sesuai jika beban2 yg diberikan kpdnya mengandung unsur kemudahan dan keluasan. (28).

Keringanan dan kemudahan dalam beragama ini banyak dijumpai, spt sholat jama’, tdk berpuasa krn sakit dll.

….barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (Al Baqarah 2:185)

Syariat Islam pun sebenarnya lebih mudah daripada syariat Yahudi-Nasrani (yang asli), spt bunuh diri sbg syarat bertaubat, atau zakat sebesar 25% dari harta.

Allah kemudian menjelaskan di ayat 29, larangan bermuamalat dg cara yg diharamkan, termasuk di dalamnya: riba, judi, mengurangi timbangan dan takaran (spt umat Nabi Syu’aib AS).

Kemudian, Allah melarang kita melakukan bunuh diri. Sebagian ulama menafsirkan secara umum, sbg larangan membunuh sesama muslim kecuali dg alasan yg diperbolehkan (misalnya krn hukuman mati) krn manusia itu berasal dari diri (jiwa) yg satu (4:1, 6:98, 7:189, 30:21, 39:6).

Dikatakan di akhir ayat, bhw bunuh diri dan membunuh org lain ini dilarang karena Allah yang menciptakan manusia sangat sayang kpd hambaNya (29), dan siapa yg tetap melanggar, tetap menganiaya dirinya sendiri diancam dimasukkan ke dalam neraka (30).

Hapusnya Dosa Kecil

Allah menjelaskan di ayat 31, bhw siapa pun yg mampu menghindari dosa besar (kaba-ir) maka akan dihapuskan dosa2 kecilnya (sayyi-at).

Mengenai dosa besar ini ada banyak pendapat berbeda dari ulama.

Menurut Ar Razi, dosa besar ini adalah dosa syirik yg disebutkan eksplisit di ayat lain berikut:

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (An Nisaa 4:48)

Sebagian mufasir bahkan memperluas makna syirik ini, tidak hanya penghambaan kpd selain Allah ttp juga keterikatan hati yg berlebihan kpd hal apa pun selain Allah (duniawi).

Ridho dlm Menerima Jatah Rezeki

Ayat 32 menjelaskan larangan Allah utk membanding2kan dan iri thd org lain yg diberikan rezeki lebih besar daripada kita. Dikatakan, bhw setiap manusia sudah ditetapkan bagian/proporsi dari yg diusahakannya. Ada yg hanya bekerja dg ringan sdh mendapatkan rezeki yg besar. Ada yg harus memperolehnya dg bekerja ekstra keras, pergi jauh, dlsb. Alih-alih mengeluh dan tidak bersyukur, Allah memerintahkan kita (di akhir ayat 32) utk berdoa, bermohon (nego) agar diberikan kemudahan dan jatah yg lebih besar kpd Dia, Dzat yg Maha Pemberi Karunia.

Implisit di ayat 32 ini Allah juga memerintahkan kita utk banyak berinfak dan bersikap sederhana (rendah hati) thd sesama, serta kesadaran bahwa cobaan akan diberikan dlm dalam bentuk nikmat (spt harta dan keturunan) maupun musibah sbgmana dijelaskan di ayat lain:

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan. (Al Anbiyaa 21:35)

Kemudian di ayat 33 Allah menjelaskan mengenai hukum waris, dimana dalam Islam warisan dibagikan kpd kerabat yg memiliki hubungan darah.

Dalam kasus kondisi spt suku Arab dahulu, dimana ada tradisi warisan juga diberikan kpd perwakilan suku lain yg memiliki perjanjian aliansi antar suku, maka akhir ayat 33 ini menjelaskan perintah Allah utk mempertahankan tradisi ini – yang mgkn tujuannnya utk menjaga hubungan baik antara suku yg sdh menerima Islam dg yg belum.

Adab Suami Istri di dalam Rumah Tangga

Allah menegaskan pembagian peran dan otoritas suami di dalam rumah tangga sbg pemimpin (manajer) thd istrinya. Pembagian peran ini juga dijelaskan di ayat lain:

Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya… (Al Baqarah 2:233)

Thabari dan bbrp ulama dari mazhab Syafi’i dan Maliki berpendapat bhw ayat2 di atas juga bermakna bhw otoritas suami tergantung pada tanggung jawab finansial thd keluarganya, dimana laki2 yg sengaja (tanpa uzur) tdk memberikan nafkah finansial istrinya, dia tdk memiliki kewenangan sbg pemimpin (manajer) bagi istrinya.

Kemudian di pertengahan ayat, Allah menjelaskan 2 ciri perempuan yang saleh dlm perannya sbg istri sbb:

  1. Taat kepada Allah
  2. Memelihara diri ketika suaminya tdk ada

Di sini sebenarnya implisit Allah memerintahkan kpd para suami untuk membimbing istrinya kpd ketaatan kpd Allah, sbgmn disebut juga di ayat lain:

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu… (At Tahrim 66:6)

Allah kemudian menjelaskan kasus dimana istri melakukan nusyuz. Nusyuz ini menurut jumhur ulama adalah sikap abai thd hak suami spt tdk peduli (ignoring), menolak tidur bersama dan ingin pisah/meninggalkan suami. Maka dalam hal ini, suami dibolehkan melakukan 3 hal utk memperbaiki sikap nusyuz istrinya ini yang dilakukan dari urutan yg paling ringan dulu (progresif):

  1. Koreksi secara verbal
  2. Menjauhinya dari tempat tidur (bbrp ulama menambahkan maknanya dg tidak berbicara kpd istri)
  3. Memukul dg tanpa kekerasan, tdk di muka dan tdk melukai / meninggalkan bekas.

Terkait dg no 3, bbrp ulama menafsirkannya sbg larangan memukul istri (selembut apa pun) ketika suami dlm keadaan marah.
Ibnu Abbas bahkan menyimpulkan bhw yang dimaksud memukul di sini adalah memukul dg siwak (sikat gigi).

Menurut Seyyed Hossein Nasr di dalam The Study Quran, tdk ada satu pun ulama klasik mufasir yg menafsirkan ayat ini sbg diperbolehkannya laki2 berbuat kekerasan (apalagi melukai) thd istrinya. Hukum Islam melarang memukul istri dg kekerasan shg menetapkan pemukulan dg kekerasan adalah salah satu alasan yg sah bagi istri utk meminta cerai.

Allah selanjutnya menegaskan bhw bila istri sdh melakukan perbaikan sikap maka suami dilarang terus mencari2 kesalahan dan bersikap kembali spt seakan2 tdk pernah terjadi apa2 (34).

Ayat selanjutnya Allah menjelaskan langkah lebih jauh bila perselisihan suami istri ini tdk bisa diselesaikan oleh mereka sendiri, yakni dg meminta mediasi dari pihak perempuan dan laki2 (35). Menurut Ali bin Abu Thalib, mediator ini haruslah org yg disegani oleh keluarga kedua belah pihak.

Maha Benar Allah dg segala firmanNya.

Wallahu a’lam