Berbuat Baik thd Sesama

Amal perbuatan baik thd sesama manusia ini diawali dg perintah menyembah Allah dan larangan berbuat musyrik. Perbuatan baik – seberapa pun besarnya – hanya akan nihil spt debu beterbangan dan fatamorgana bila pelakunya tdk beriman kpd Allah (lihat pembahasan ODOP 3:116-132).

Kemudian Allah menjelaskan mereka yg kita diperintahkan utk berbuat baik:

  1. Orangtua – ibu dan bapak
  2. Kerabat saudara
  3. Anak yatim
  4. Orang miskin
  5. Tetangga dekat dan tetangga jauh
  6. Orang dekat, yakni istri/suami dan mereka yg tinggal bersama di rumah kita (spt orangtua, mertua, keponakan dll)
  7. Ibnu sabil
  8. Hamba sahaya

Kemudian, dlm berbuat baik kpd mereka kita diminta utk mengutamakan kerendahan hati krn Allah tidak menyukai org yg sombong dan senang pamer/membanggakan diri. Orang yang membanggakan diri (fakhur) ini disebutkan memiliki ciri sbb:

  • Bakhil, kikir, pelit
  • Mengajak org lain utk juga bersikap bakhil dan kikir spt mereka
  • Menyembunyikan karunia Allah, mengatakan tdk punya uang, berpura2 spt org tdk punya ketika diminta berinfaq (menyembunyikan karunia Allah yg telah diberikan kpd mereka) (37)
  • Mau memberi, menafkahkan hartanya kalau dilihat orang atau krn tdk enak dilihat orang jika tdk memberi
  • Tidak beriman kpd Allah. Maksudnya mereka tdk percaya bhw Allah yang sebenarnya mengulurkan dan menahan rezeki kpd mereka. Mereka lebih percaya bhw harta mereka adalah hasil kerja keras mereka semata.
  • Tidak percaya akhirat. Maksudnya mereka tdk percaya bhw akhirat adalah nyata, bhw apa pun yang diinfakkan akan dibalas berlipat kali di akhirat. Mereka tdk percaya bhw kehidupan dunia ini adalah sementara sedangkan kehidupan sebenarnya adalah di akhirat kelak.

Kemudian Allah menerangkan tips agar kita tdk merasa berat dlm berinfak yakni (39):

  1. Meneguhkan keimanan kita kpd Allah, percaya bhw Allah lah satu2nya sebab utama datangnya rezeki
  2. Menguatkan kepercayaan akan datang dan adanya hari akhir, dimana segala yg kita nafkahkan di dunia sekarang inilah yg justru menjadi investasi kita di kehidupan akhirat nanti yg kekal.

Untuk menambah keyakinan kita akan balasan berlipat ganda di akhirat ini maka ditegaskan bhw segala amal kebaikan dan keburukan pasti akan diperhitungkan, bahkan sekecil titik debu sekalipun, dan khusus utk amal kebaikan akan dibalas berlipat ganda dari keutamaan kebaikan itu sendiri (40).

Di ayat lain, dijelaskan juga balasan infaq sebesar 700 kali lipat:

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. (Al Baqarah 2:261)

Kesaksian para Rasul atas Amal Umatnya

Ayat selanjutnya menerangkan mengenai peristiwa di hari akhir, dimana setiap umat akan dibentangkan amalnya di hadapan para rasul mereka (41). Peristiwa ini disebutkan juga dlm bbrp ayat, di antaranya:

Dan (ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan dari tiap-tiap umat seorang saksi (rasul), kemudian tidak diizinkan kepada orang-orang yang kafir (untuk membela diri) dan tidak (pula) mereka dibolehkan meminta maaf. (An Nahl 16:84)

Kemudian diceritakan ketakutan dan malunya mereka yg kafir dan ingkar ini ketika amal perbuatan mereka disaksikan juga oleh masing2 anggota tubuh mereka di hadapan rasul mereka. Peristiwa ini sedemikian mencekam shg mereka merasa lebih baik menjadi debu atau kembali mati di alam kubur daripada harus menghadapi peristiwa ini.

Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepadamu (hai orang kafir) siksa yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata: “Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah”. (An Nabaa 78:40)

Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan. (Yaasin 36:65)

…Pada hari (ketika), lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. (An Nuur 24:24)

Sehingga apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan dan kulit mereka menjadi saksi terhadap mereka tentang apa yang telah mereka kerjakan.
Kamu sekali-sekali tidak dapat bersembunyi dari kesaksian pendengaran, penglihatan dan kulitmu kepadamu bahkan kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan. (Fushilat 41:20,22)

Adab terkait Bersuci utk Sholat

Ayat 43 menjelaskan perintah dan larangan Allah dlm bersuci utk sholat:

  • Sholat dilarang dlm keadaan mabuk atau sampai mengerti apa yg dibaca dlm sholat. Aturan ini adalah sebelum diharamkannya khamr secara tegas.
  • Haram melakukan sholat, mendatangi tempat sholat dlm keadaan masih junub, sampai mereka mandi besar.
  • Bolehnya bertayamum krn tdk ada air atau ketika sakit atau dlm perjalanan.

Penjelasan lebih lengkap mengenai tayamum (dan wudhu) ini dapat dilihat di surat Al Maaidah 5:6).

Tayamum ini hanya ada di dalam Islam, tdk ada sebelumnya di syariat Yahudi dan Nasrani; sbg salah satu contoh bhw Islam memberikan keringanan dlm melakukan ketaatan kpd Allah.

Kita diberi keutamaan terhadap umat lain dalam tiga perkara: (1) dijadikannya shaff kita seperti shaffnya para malaikat, (2) dijadikannya bumi semuanya sebagai masjid dan (3) dijadikannya tanah untuk kita sebagai alat bersuci apabila tidak ada air. (HR Muslim: 522 dan Ahmad: V/ 383)

Sikap Kaum Yahudi thd Kitab Suci / ayat Allah

Allah menerangkan kpd kita sikap orang Yahudi secara umum dengan bercermin dari sikap kaum Yahudi di Madinah pada masa Nabi:

  • Mereka memilih2 hanya mau menerima/mengakui sebagian ayat kitab sucinya dan menyembunyikannya sebagian lainnya.
  • Mereka menghalangi orang utk mempelajari kitab suci secara langsung (44)

Di ayat lain, mereka ini dikatakan sbg menjual ayat Allah dengan harga murah, membeli kesesatan dg petunjuk, dan siksa dg ampunan:

Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Al Kitab dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah), mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak mensucikan mereka dan bagi mereka siksa yang amat pedih.
Mereka itulah orang-orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk dan siksa dengan ampunan. Maka alangkah beraninya mereka menentang api neraka! (Al Baqarah 2:174-175).

Tampaknya umat Islam saat itu masih kurang percaya dg apa yg disampaikan Allah mengenai kaum Yahudi ini, shg di ayat selanjutnya, Allah menegaskan bhw peringatan mengenai kaum Yahudi ini bukanlah mengada-ada krn Dia lebih tahu mengenai mereka daripada kalian (umat Islam). Cukuplah ikuti petunjuk-Nya agar nanti Dia menolong kalian dari kejahatan dan gangguan mereka (45).

Kemudian dijelaskan juga kebiasaan mereka menyimpangkan arti kata2 dan mengubah susunannya di dalam kitab Taurat. Di akhir ayat, dijelaskan bhw sbg akibatnya, Allah mengutuk mereka, menjadikan banyak kesulitan dan kehinaan di dalam kehidupan mereka; dan menjadikan mereka mudah ragu, goyah keimanannya kpd Allah, bahkan dikatakan mereka spt tdk beriman kecuali iman yg sangat tipis (47). Kutukan Allah kpd Yahudi Madinah itu akhirnya menjadi kenyataan dg diusirnya Bani Nadhir dan Bani Quraizhah dari Madinah.

Allah kemudian memberi harapan kpd kaum Yahudi ini dg membuka pintu taubat, membuka lembaran baru, utk beriman kpd Al Quran yang berasal dari Tuhannya Musa dan Yaqub, yg juga membenarkan kitab suci mereka. Janganlah menunggu sampai Allah mengubah muka mereka dan memutar wajah mereka ke belakang, atau diturunkannya kembali kutukan ketika Allah waktu sebelumnya pernah mengubah mereka menjadi kera (ketika mereka melanggar larangan mencari ikan di hari Sabtu).

Beberapa ulama menafsirkan kalimat mengubah muka mereka dan memutar wajah mereka ke belakang sbg simbol dari penglihatan dan wajah mereka yg tdk lagi dapat melihat kebenaran.

Allah kemudian mengancam bhw kalau mereka ini tdk bertaubat maka mereka akan jatuh kpd dosa syirik, dosa besar yang tdk akan diampuni selamanya (48).

Selanjutnya Allah menyinggung mengenai sikap kaum Yahudi (dan ahli Kitab secara umum) yang menganggap diri mereka anak Tuhan, kekasih Tuhan yg suci, bebas dosa dan pasti masuk surga, sebagaimana dijelaskan di ayat yg lain:

Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: “Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya”… (Al Maaidah 5:18)

Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata, “Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nasrani,” Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka… (Al Baqarah 2:111)

Allah menegaskan bhw kita tidak boleh bersikap merasa suci, bebas dosa dan beranggapan pasti masuk surga krn hanya Dia lah satu2nya yang mengetahui siapa hamba-Nya yang benar2 suci dan berhak masuk ke dlm surgaNya.

Bahkan di ayat lain dijelaskan bhw kita dilarang merasa suci krn amal ketakwaan kita:

(Yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Luas ampunan-Nya. Dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan)mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa. (At Tahrim 53:32)

Kemudian ayat 51 menceritakan 2 pimpinan delegasi kaum Yahudi Madinah (Ka’b bin Asyraf dan Huyyay bin Akhtab – disimbolkan dg Jibt dan Thaghut) yg berkunjung ke Mekkah dan menyatakan bhw kaum musyrik Mekkah itu lebih benar daripada org Islam demi agar mendapat dukungan dari kaum musyrik Mekkah utk melawan Rasulullah, padahal mereka jelas2 mengetahui tanda2 kerasulan Nabi SAW yg banyak disebutkan di dalam kitab mereka).

Maha Benar Allah dg segala firmanNya.

Wallahu a’lam