Melanjutkan perilaku Yahudi di ayat sebelumnya, Allah melaknat kaum Yahudi dlm bentuk hilangnya kekuasaan mereka di dunia, dan kalaupun akhirnya mereka berkuasa maka kekuasaan tsb tidak akan membawa kebaikan bagi umat manusia (53).

Allah kemudian menjelaskan, alasan utama kaum Yahudi memusuhi kaum muslim saat itu adalah krn rasa dengki, tdk rela Allah mengangkat rasul terakhir yg berasal dari Arab (bukan Yahudi). Padahal kerasulan Nabi Muhammad SAW sebenarnya bukanlah sesuatu yg aneh krn beliau pun masih satu keturunan dg Nabi Ibrahim, bapaknya para Rasul (54).

Kemudian diterangkan bhw di antara kaum Yahudi ada yang akhirnya beriman dan menerima Islam, ttp ada juga yg tetap tdk mau menerima. Bagi mereka yg tetap berpaling ini diancam masuk ke neraka Jahanam (55).

Ayat selanjutnya Allah menerangkan pedihnya siksaan di neraka, dimana setiap kali kulit mereka hangus dan kebal rasa, akan ditumbuhkan lagi kulit baru agar terus menerus mereka merasakan pedihnya api neraka yg membakar (56).

Sebaliknya, bagi mereka yg menerima Islam, beriman dan mengerjakan amal saleh, akan dimasukkan ke dalam surga yang teduh dan menentramkan hati (57).

Akhlak Menjaga Amanah

Di ayat 58, Allah memerintahkan kita sbg org beriman utk:

  1. Menunaikan amanah Allah dlm bentuk melaksanakan perintahNya dan meninggalkan laranganNya, spt shaum, zakat, qurban dll
  2. Menunaikan amanah manusia yg berhubungan dg diri sendiri dlm bentuk melakukan sesuatu yg bermanfaat dan meninggalkan hal yg membahayakan diri, sebagaimana disebutkan di dalam hadits:

Setiap kalian adalah pemelihara, dan setiap diri kalian bertanggung jawab kpd apa yg dipelihara (HR Bukhari, Muslim, Ahmad Daud dan at Tarmidzi).
3. Menunaikan amanah manusia yg berhubungan dg org lain, spt mengembalikan barang titipan, jual-beli dan memegang jabatan sbg pemimpin

Menjaga amanah yg berhubungan dg orang lain ini disebutkan pula di dalam hadits sbb:

Orang yg tdk (mampu menjaga) amanah, maka dia tdk mempunyai keimanan (yg kuat). Dan orang yg menepati janji, maka dia tdk mempunyai agama yg kuat (HR Imam Ahmad dan Ibnu Hibban)

Tanda org munafik ada 3: bila berbicara berbohong, bila berjanji tdk ditepati, bila diberi amanah berkhianat (HR Bukhari Muslim, at Tarmidzi dan an Nasa’i)

Khusus utk amanah memegang jabatan sbg pemimpin, maka di ayat 59 kita diperintahkan untuk:

  • Taat kpd Allah, rasulNya dan Ulil Amri. Di sini secara tdk langsung Allah menjelaskan prioritas dlm mentaatinya, yakni hukum Al Quran (Allah) -> Sunnah (rasulNya) -> Ulil Amri.

Menurut Ibnu Arabi, Ulil Amri adalah pemimpin dan para ulama. Pemimpin mempunyai kewajiban memerintah dan menetapkan hukuman, ulama adalah org yg kompeten utk ditanya dlm urusan agama, dan fatwanya wajib dilaksanakan.

  • Bila terjadi perselisihan dg Ulil Amri, maka kita diperintahkan utk mencari solusinya dg mencari hukum/prinsip2 terkait yg ada di dalam Al Quran dan Sunnah Nabi SAW. Secara implisit Allah juga memerintahkan kita utk menjaga niat lurus mencari ridho Allah (beriman kpd Allah) dan menyadari adanya hari akhir dimana semua keputusan akan dimintakan pertanggungjawabannya.

Di akhir ayat 59 dijelaskan bhw mengembalikan kpd hukum Al Quran dan hadits adalah lebih utama dan akan lebih baik akibatnya bagi kaum muslimin. Hal ini krn Allah menurunkan rahmat dan berkah bagi mereka yg taat kpdNya, sebagaimana dijelaskan di ayat lainnya:

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (Al A’raaf 7:96)

Menghadapi Orang Munafik

Allah kemudian menjelaskan perilaku org munafik yang mengikuti keputusan Taghut dan menolak ikut kpd hukum yg berdasarkan Al Quran dan keputusan Rasulullah (60), padahal beliau sdh dijaga oleh Allah dari kesalahan (maksum). Bukan hanya menolak, mereka bahkan menghalang-halangi kaum muslim yg lain agar juga tdk mengikuti hukum Al Quran dan keputusan Rasulullah tsb (61).

Menurut asbabun nuzul, simbol Taghut ini mengacu kpd pemimpin Yahudi bernama Ka’b bin Asyraf yg sangat berpengaruh di Madinah dan menjadi salah satu pemimpin delegasi kaum Yahudi ke Mekkah.

Kemudian diceritakan bhw akhirnya mereka mendapat musibah akibat mengikuti Taghut ini shg terpaksa menghadap Nabi dg bersumpah bhw alasan mereka mengangkat hakim selain Rasulullah adalah utk menjaga hubungan baik dan hanya pura2 saja (62). Allah kemudian memberitahu Nabi bhw mereka sebenarnya berbohong (63).

Allah kemudian memberikan guideline cara menghadapi org munafik ini (63):

  1. Berpaling dari mereka, tdk perlu menerima maafnya, tdk perlu bermuka manis atau menghormati mereka – (berpalinglah kamu)
  2. Memberi nasehat dan petunjuk ke jalan kebaikan dg cara yg berkesan shg hati mereka menjadi lunak – (berilah mereka pelajaran)
  3. Berkata tegas dg perkataan yg membekas di hati mereka akan ancaman konsekuensi kalau mereka terus bersikap munafik, dan pahala serta kebaikan kalau mereka benar2 meninggalkan sikap munafik – (katakanlah kpd mereka perkataan yg membekas jiwa)

Allah kemudian menegaskan bhw setiap rasul diutus utk diikuti dan ditaati. Maka siapa pun, termasuk kaum munafik harus diterima dg tangan terbuka kalau mereka bertaubat, krn sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat dan Maha Penyayang kpd hambaNya (64).

Tetapi di sini Allah memberikan 3 tanda org munafik itu benar2 sdh bertaubat, yakni jika (65):

  1. Mereka percaya bhw hukum yg ada di Al Quran dan Sunnah adalah hukum paling tinggi, lebih tinggi daripada hukum apa pun termasuk Taghut.
  2. Hati mereka tdk sempit, berat atau mengeluh menerima keputusan Rasul tsb.
  3. Patuh melaksanakan keputusan tsb, tdk merasa berat hati atau enggan melaksanakannya.

Maha Benar Allah dg segala firmanNya.

Wallahu a’lam